mediamuria.com, KUDUS – Dampak banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya dirasakan oleh warga dari sisi kerugian, tetapi juga memunculkan geliat ekonomi di sektor tertentu. Memasuki masa pascabanjir yang bertepatan dengan libur tanggal merah pada Jumat, 16 Januari 2026, bengkel sepeda motor di berbagai sudut kota hingga desa terlihat dipadati warga yang melakukan servis kendaraan mereka.
Pantauan di lapangan menunjukkan, hampir setiap bengkel motor mengalami peningkatan jumlah pelanggan dibanding hari biasa. Sejak pagi, warga sudah berdatangan untuk mengecek kondisi sepeda motor yang selama beberapa hari terakhir kerap digunakan melintasi genangan air dan jalan berlumpur akibat banjir. Antrean kendaraan tampak mengular, terutama di bengkel-bengkel kecil yang berada dekat kawasan permukiman.
Banjir yang menggenangi sejumlah ruas jalan membuat sepeda motor warga bekerja lebih berat dari biasanya. Air bercampur lumpur dan pasir masuk ke berbagai komponen kendaraan, terutama bagian kaki-kaki, rem, hingga roda. Kondisi inilah yang mendorong warga memilih segera melakukan servis begitu banjir mulai surut, terlebih saat bertepatan dengan hari libur yang memberi waktu lebih longgar.
Salah satu bengkel yang turut merasakan lonjakan pelanggan adalah bengkel milik Jamilin, warga Kudus yang telah lama membuka usaha bengkel sepeda dan motor. Menurut Jamilin, sejak pagi hari bengkelnya sudah ramai didatangi pelanggan yang ingin memperbaiki atau mengganti komponen motor mereka.
“Sejak pagi sudah ramai. Kebanyakan yang datang karena motornya sering dipakai lewat banjir. Masalahnya hampir sama, kampas rem, laher, sama ban,” ujar Jamilin saat ditemui di bengkelnya.
Ia menjelaskan, kondisi banjir membuat kampas rem cepat aus karena sering terendam air dan lumpur. Selain itu, laher roda juga banyak yang mulai bermasalah akibat kemasukan air. Beberapa pelanggan bahkan mengeluhkan bunyi kasar pada roda dan pengereman yang tidak lagi pakem setelah melewati genangan air berulang kali.
Menurut Jamilin, di bengkelnya sendiri layanan yang paling banyak diminati adalah perbaikan dan penggantian ban serta kampas rem. Ia menegaskan bahwa bengkelnya tidak melayani servis motor secara menyeluruh, melainkan lebih fokus pada penanganan bagian tertentu.
“Kalau di tempat saya lebih ke ban sama kampas rem. Bukan servis total. Jadi yang datang memang rata-rata karena dua itu. Ada juga laher roda yang harus diganti,” jelasnya.
Lonjakan pelanggan ini, lanjut Jamilin, sudah mulai terasa sejak air banjir mulai surut. Namun puncaknya terjadi pada hari libur, ketika warga memiliki waktu lebih luang untuk mengantre servis tanpa harus terburu-buru bekerja. Kondisi tersebut membuat bengkel harus bekerja ekstra untuk melayani semua pelanggan.
Fenomena serupa juga terlihat di bengkel-bengkel lain di wilayah Kudus. Beberapa pemilik bengkel mengaku kewalahan melayani antrean, terutama untuk servis ringan dan penggantian komponen yang terdampak banjir. Meski demikian, sebagian bengkel tetap membatasi jumlah kendaraan yang ditangani per hari demi menjaga kualitas pekerjaan.
Bagi warga, servis motor pascabanjir dinilai penting untuk mencegah kerusakan yang lebih parah di kemudian hari. Banyak yang memilih langsung mengganti komponen yang mulai bermasalah daripada menunggu kerusakan bertambah dan berisiko mengganggu keselamatan berkendara.
“Kalau tidak segera dicek, takutnya nanti malah rusak parah. Apalagi rem, itu kan penting buat keselamatan,” ujar salah seorang warga yang tengah menunggu motornya diperbaiki.
Dari sisi pelaku usaha bengkel, kondisi ini menjadi berkah tersendiri di tengah situasi pascabanjir yang masih menyisakan dampak ekonomi bagi sebagian masyarakat. Meski tidak sedikit warga yang terdampak secara finansial akibat banjir, kebutuhan akan perbaikan kendaraan tetap menjadi prioritas karena motor merupakan sarana utama mobilitas.
Namun demikian, para pemilik bengkel juga menyadari bahwa lonjakan pelanggan ini bersifat sementara. Aktivitas bengkel diperkirakan akan kembali normal seiring membaiknya kondisi jalan dan cuaca. Oleh karena itu, mereka memilih memaksimalkan pelayanan selama masa ramai tanpa menaikkan harga secara signifikan.
Jamilin mengaku tetap menjaga tarif agar tidak memberatkan pelanggan. Menurutnya, sebagian warga juga terdampak banjir sehingga membutuhkan pengertian dari pelaku usaha.
“Ya kita tetap menyesuaikan. Banyak juga yang rumahnya kebanjiran. Yang penting motornya bisa dipakai lagi dengan aman,” katanya.
Peningkatan aktivitas di bengkel motor pascabanjir ini menjadi gambaran bagaimana roda ekonomi kecil tetap bergerak di tengah kondisi darurat. Sektor usaha jasa seperti bengkel turut menjadi bagian dari proses pemulihan aktivitas masyarakat setelah banjir.
Di sisi lain, kondisi ini juga menjadi pengingat pentingnya perawatan kendaraan setelah melewati banjir. Air dan lumpur yang masuk ke komponen motor dapat menimbulkan kerusakan jangka panjang jika tidak segera ditangani. Pemeriksaan rutin pascabanjir dinilai dapat memperpanjang usia kendaraan sekaligus menjaga keselamatan pengendara.
Pascabanjir di Kabupaten Kudus memang menyisakan berbagai persoalan. Namun di tengah tantangan tersebut, aktivitas bengkel motor yang dipadati warga pada libur Jumat, 16 Januari 2026, menunjukkan adanya dinamika ekonomi lokal yang tetap bergerak. Bengkel-bengkel kecil menjadi saksi bagaimana masyarakat perlahan kembali beradaptasi dan melanjutkan aktivitas sehari-hari setelah banjir.
Fenomena ini sekaligus menggambarkan bahwa pascabanjir tidak hanya identik dengan pemulihan lingkungan dan permukiman, tetapi juga pemulihan alat transportasi yang menjadi penopang utama kehidupan warga. Bagi bengkel motor di Kudus, masa pascabanjir ini menjadi momen sibuk yang membawa rezeki, sekaligus tanggung jawab untuk memastikan kendaraan warga kembali aman digunakan.
Penulis : Syam
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Berkah Pascabanjir, Bengkel Motor di Kudus Dipadati Warga Saat Libur Jumat 16 Januari 2026