mediamuria.com, KUDUS – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus tidak hanya meninggalkan dampak kerusakan fisik dan kerugian materi, tetapi juga menyisakan persoalan serius pada kondisi psikologis anak-anak. Berhari-hari tinggal di pengungsian, terpisah dari rumah, sekolah, serta rutinitas harian membuat banyak anak mengalami perubahan emosi, mulai dari rasa takut, cemas, hingga kebingungan.
Dalam situasi pascabencana, anak-anak menjadi kelompok paling rentan mengalami tekanan mental. Mereka kerap sulit mengekspresikan perasaan, mengalami gangguan tidur, mudah menangis, bahkan menarik diri dari lingkungan sekitar. Karena itu, penanganan tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan logistik, tetapi juga harus menyentuh aspek psikologis agar dampak trauma tidak berkepanjangan.
Sebagai bentuk respons terhadap kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Kudus menggelar kegiatan therapy healing bagi anak-anak terdampak banjir. Kegiatan ini dilaksanakan di dua titik pengungsian, yakni Aula DPRD Kudus dan Balai Desa Jati Wetan, pada Senin, 19 Januari 2026 malam.
Apa Itu Therapy Healing?
Therapy healing atau terapi pemulihan psikologis merupakan pendekatan pendampingan mental yang bertujuan membantu anak-anak menghadapi tekanan emosional setelah mengalami peristiwa traumatis seperti bencana alam. Terapi ini tidak dilakukan melalui pengobatan medis, melainkan menggunakan metode psikososial yang disesuaikan dengan dunia anak.
Melalui aktivitas bermain, bercerita, menggambar, hingga interaksi kelompok, anak-anak diajak menyalurkan emosi secara positif. Pendekatan ini bertujuan menumbuhkan kembali rasa aman, membangun kepercayaan diri, serta mengembalikan suasana hati anak agar tidak terjebak dalam ketakutan akibat pengalaman banjir.
Kegiatan Therapy Healing di Lokasi Pengungsian
Kegiatan therapy healing di Kudus berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keceriaan. Anak-anak yang sebelumnya terlihat murung perlahan mulai tersenyum ketika mengikuti berbagai permainan kelompok. Tawa dan sorak kegembiraan terdengar di tengah area pengungsian, memberikan warna berbeda dari suasana darurat yang biasanya identik dengan kesedihan.
Di Aula DPRD Kudus dan Balai Desa Jati Wetan, anak-anak dikumpulkan dalam kelompok kecil agar pendampingan dapat dilakukan secara lebih intensif. Para pendamping mengajak anak-anak bernyanyi bersama, bermain edukatif, hingga melakukan aktivitas kreatif seperti menggambar dan mewarnai.
Metode ini dipilih karena dianggap efektif untuk membantu anak mengekspresikan emosi tanpa tekanan. Anak-anak tidak dipaksa menceritakan pengalaman traumatisnya, tetapi diarahkan untuk memulihkan rasa aman melalui kegiatan yang menyenangkan.
Metode Terapi yang Diterapkan
Dalam kegiatan tersebut, terdapat beberapa metode utama yang digunakan, antara lain:
1. Bermain bersama – Permainan kelompok menjadi media utama untuk membangun kembali kepercayaan diri anak. Melalui permainan, anak diajak berinteraksi, bekerja sama, dan melupakan sejenak situasi bencana yang mereka alami.
2. Edukasi ringan – Anak-anak diberikan edukasi sederhana tentang bencana secara ramah anak. Materi disampaikan tanpa menakut-nakuti, bertujuan menumbuhkan pemahaman bahwa banjir merupakan peristiwa alam yang dapat dihadapi bersama.
3. Interaksi sosial – Melalui aktivitas kelompok, anak-anak kembali belajar bersosialisasi dengan teman sebaya. Interaksi ini penting untuk mencegah anak menjadi tertutup atau menarik diri akibat trauma.
4. Pendampingan psikolog – Seluruh rangkaian kegiatan didampingi langsung oleh tenaga profesional agar setiap perubahan emosi anak dapat dipantau dan ditangani dengan tepat.
Peran Pemerintah Daerah
Kegiatan therapy healing ini mendapat perhatian langsung dari jajaran Pemerintah Kabupaten Kudus. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris bersama Wakil Bupati Bellinda Birton turun langsung meninjau jalannya kegiatan di lokasi pengungsian.
Kehadiran pimpinan daerah tersebut menjadi bentuk nyata kepedulian pemerintah terhadap kondisi warganya, khususnya anak-anak sebagai generasi penerus. Tidak hanya memantau, keduanya juga berinteraksi langsung dengan anak-anak, menyapa, serta memberikan semangat agar mereka tetap ceria di tengah situasi sulit.
Pemerintah daerah menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pemulihan mental masyarakat, terutama anak-anak yang memiliki daya tahan psikologis lebih rentan.
Peran Tenaga Profesional
Dalam pelaksanaannya, therapy healing melibatkan Tim Psikolog Legawa yang berpengalaman dalam penanganan trauma pascabencana. Para psikolog berperan dalam menyusun metode kegiatan, melakukan observasi perilaku anak, serta memberikan pendampingan khusus bagi anak yang menunjukkan tanda-tanda stres berat.
Selain itu, kegiatan ini juga didukung oleh tenaga kesehatan dari RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Tenaga medis turut memantau kondisi kesehatan anak secara umum, mengingat kesehatan fisik dan mental saling berkaitan dalam proses pemulihan pascabencana.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi langkah penting agar penanganan anak-anak terdampak banjir dapat dilakukan secara menyeluruh, tidak parsial.
Tujuan Jangka Panjang
Pelaksanaan therapy healing bukan sekadar kegiatan sementara, melainkan bagian dari upaya jangka panjang pemerintah daerah dalam melindungi kesehatan mental anak. Salah satu tujuan utamanya adalah mencegah terjadinya gangguan stres pascatrauma atau PTSD yang kerap muncul beberapa waktu setelah bencana.
Selain itu, terapi ini juga bertujuan menjaga stabilitas emosi anak agar tidak mengganggu proses belajar dan perkembangan sosial mereka. Anak-anak diharapkan tetap tumbuh secara sehat, baik secara fisik maupun mental, meski sempat mengalami peristiwa bencana.
Dengan pendampingan yang tepat, anak-anak dapat kembali membangun rasa percaya diri, keberanian, serta semangat untuk menjalani aktivitas sehari-hari.
Harapan ke Depan
Pemerintah Kabupaten Kudus berharap kondisi cuaca segera membaik dan banjir dapat surut sepenuhnya. Dengan demikian, para pengungsi dapat kembali ke rumah masing-masing dan menjalani kehidupan normal.
Anak-anak diharapkan bisa kembali bersekolah, bertemu teman-temannya, serta melanjutkan proses belajar tanpa bayang-bayang trauma. Melalui kegiatan therapy healing ini, diharapkan masa depan anak-anak Kudus tetap terjaga meski sempat diuji oleh bencana.
Lebih dari sekadar pemulihan pascabencana, kegiatan ini menjadi simbol bahwa kepedulian terhadap kesehatan mental anak merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan generasi mendatang.
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Terapi Healing Jadi Upaya Pemulihan Trauma Anak Pascabanjir Kudus