mediamuria.com, KUDUS – Kondisi banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus terus menunjukkan perkembangan positif. Setelah beberapa hari genangan air memaksa ribuan warga meninggalkan rumah, situasi kini perlahan mulai membaik. Sejumlah wilayah terdampak melaporkan penurunan ketinggian air, sementara beberapa posko pengungsian mulai memulangkan warganya.
Pada Minggu pagi, 25 Januari 2026, Pemerintah Kabupaten Kudus merilis pembaruan data jumlah pengungsi yang menunjukkan penurunan cukup signifikan. Berdasarkan data terbaru, jumlah pengungsi kini tercatat sebanyak 742 jiwa yang masih bertahan di beberapa posko. Angka ini menurun drastis dibandingkan kondisi sehari sebelumnya.
Sehari sebelumnya, tepatnya pada Sabtu, 24 Januari 2026, jumlah pengungsi masih tercatat mencapai 2.009 orang. Ribuan warga tersebut tersebar di berbagai titik pengungsian akibat banjir yang masih menggenangi permukiman dan fasilitas umum. Penurunan lebih dari seribu jiwa dalam waktu kurang dari 24 jam menjadi indikator kuat bahwa kondisi banjir mulai terkendali.
Salah satu wilayah yang mengalami perubahan signifikan adalah Desa Payaman. Pada Sabtu, sejumlah warga sudah mulai kembali dari posko pengungsian karena genangan air sudah mulai surut dari permukiman warga, terutama di wilayah Dukuh Karanganyar Anyar. Sejumlah pengungsi yang berada di posko Desa Payaman mulai kembali ke rumah masing-masing sejak Sabtu sore. Proses pemulangan dilakukan secara bertahap dengan pendampingan aparat desa dan relawan. Warga yang rumahnya sudah tidak lagi tergenang dipersilakan pulang, sementara mereka yang masih terdampak diminta tetap bertahan di posko hingga kondisi benar-benar aman.
Menurut laporan lapangan, genangan air di Dukuh Karanganyar Anyar kini hanya tersisa di beberapa titik rendah. Sebagian besar jalan lingkungan sudah bisa dilalui, meski masih berlumpur. Warga yang kembali ke rumah langsung membersihkan sisa lumpur, mengeringkan perabot, serta memastikan instalasi listrik dalam kondisi aman.
Selain Payaman, beberapa wilayah lain juga mulai memulangkan pengungsi. Sejumlah posko yang sebelumnya penuh kini mulai lengang. Pemulangan dilakukan setelah petugas memastikan bahwa genangan air telah surut dan kondisi rumah layak ditempati kembali.
Berdasarkan data terbaru, pengungsi yang tersisa kini terkonsentrasi di empat wilayah utama. Desa Loram Kulon menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 418 jiwa. Desa Glagah menyusul dengan 212 jiwa, kemudian Desa Karangrowo sebanyak 101 jiwa, dan Desa Tanjungkarang sebanyak 11 jiwa.
Jika dibandingkan dengan kondisi Sabtu, jumlah tersebut menunjukkan penurunan yang cukup tajam. Pada hari sebelumnya, ribuan warga masih tersebar di lebih banyak titik pengungsian. Penurunan ini terjadi seiring surutnya genangan di sejumlah desa dan membaiknya akses menuju permukiman warga. Meski jumlah pengungsi menurun, petugas gabungan masih tetap bersiaga. Pemantauan debit air sungai dan saluran drainase terus dilakukan, terutama di wilayah rawan banjir. Cuaca yang masih berpotensi hujan menjadi perhatian utama agar tidak terjadi genangan susulan.
Di posko-posko yang masih beroperasi, layanan dasar tetap diberikan. Tenaga kesehatan masih melakukan pemeriksaan rutin, terutama kepada kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil. Distribusi logistik juga tetap berjalan, meski intensitasnya mulai disesuaikan dengan berkurangnya jumlah pengungsi.
Kondisi di Loram Kulon menjadi salah satu fokus penanganan. Dengan jumlah pengungsi masih mencapai ratusan jiwa, wilayah ini memerlukan perhatian lebih, baik dari sisi logistik maupun layanan kesehatan. Beberapa permukiman di wilayah tersebut masih tergenang, meski ketinggian air terus berangsur turun.
Sementara itu, di Desa Glagah dan Karangrowo, sebagian pengungsi sudah mulai kembali ke rumah, meski masih ada warga yang memilih bertahan di posko. Keputusan tersebut diambil karena rumah mereka masih lembap atau akses menuju permukiman belum sepenuhnya normal.
Pemerintah daerah mengimbau warga yang kembali ke rumah agar segera melakukan pembersihan lingkungan. Sisa lumpur dan sampah yang terbawa banjir dikhawatirkan menjadi sumber penyakit jika tidak segera ditangani. Saluran air juga diminta segera dibersihkan agar aliran kembali lancar.
Dalam fase pemulihan ini, perhatian juga diarahkan pada pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi. Beberapa pasar tradisional dan pertokoan kecil mulai kembali beroperasi. Aktivitas sekolah di wilayah terdampak masih menunggu kondisi benar-benar aman, terutama terkait kebersihan ruang kelas dan akses jalan.
Penurunan jumlah pengungsi dari 2.009 jiwa menjadi 742 jiwa dalam kurun waktu satu hari menunjukkan bahwa banjir di Kudus mulai memasuki fase pemulihan. Meski demikian, pemerintah daerah tetap mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah.
Pemantauan cuaca dan kondisi sungai akan terus dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Potensi hujan dengan intensitas sedang masih ada, meski diperkirakan tidak sebesar hari-hari sebelumnya. Aparat desa dan relawan tetap disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
Pemerintah Kabupaten Kudus menargetkan seluruh pengungsi dapat kembali ke rumah dalam waktu dekat, apabila tidak ada peningkatan debit air yang signifikan. Setelah fase pemulangan selesai, fokus akan dialihkan pada pemulihan lingkungan dan perbaikan fasilitas umum yang terdampak banjir.
Secara umum, perkembangan terbaru menunjukkan arah yang semakin positif. Semakin banyak warga yang dapat kembali ke rumah, sementara aktivitas masyarakat perlahan mulai pulih. Dengan kerja sama semua pihak, diharapkan kondisi Kabupaten Kudus dapat kembali normal dalam waktu dekat.
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Banjir di Kudus Berangsur Surut, Ratusan Warga Mulai Kembali ke Rumah