Dandangan Kudus 2026 Berbenah: Tata Kelola Membaik, Tantangan Sampah Tetap Jadi Perhatian

mediamuria.com, KUDUS – Tradisi Dandangan kembali hadir menyapa masyarakat Kabupaten Kudus sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadan. Agenda tahunan yang sarat nilai budaya dan religi ini dijadwalkan berlangsung selama hampir dua pekan, mulai 7 hingga 18 Februari 2026, dan diproyeksikan kembali menjadi magnet keramaian sekaligus penggerak ekonomi rakyat.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Dandangan pada edisi 2026 kali ini membawa sejumlah pembaruan penting yang menunjukkan adanya upaya serius dari penyelenggara dan pemerintah daerah untuk membenahi tata kelola kegiatan. Perubahan ini menjadi sinyal bahwa Dandangan tidak lagi sekadar event rutin, melainkan diarahkan menjadi ruang publik yang lebih tertata, inklusif, dan berkelanjutan. Demi kemajuan kebaikan bersama perubahan akan selalu dilakukan.

Salah satu perubahan paling menonjol adalah penurunan harga lapak secara signifikan. Kebijakan ini dinilai sebagai angin segar bagi para pelaku usaha kecil, khususnya pedagang lokal yang selama ini menjadi tulang punggung keramaian Dandangan. Selain itu, pedagang lokal kini diprioritaskan, sehingga manfaat ekonomi diharapkan benar-benar dirasakan oleh warga Kudus sendiri, bukan hanya pihak luar. Ini yang paling ditunggu oleh kalangan pedagang lokal, mereka harus punya tempat di rumah sendiri. Dan Pemerintah Kabupaten Kudus hadir untuk menjembatani hal tersebut.

Tak hanya soal harga, sistem pendaftaran dan pengelolaan lapak juga mengalami perbaikan. Proses yang lebih tertata dan transparan membuat penempatan pedagang lebih rapi serta mengurangi potensi tumpang tindih. Konsep penataan area pun disebut lebih baik, dengan alur pengunjung yang dirancang agar tidak terlalu semrawut seperti tahun-tahun sebelumnya.

Aspek kebersihan menjadi perhatian khusus dalam penyelenggaraan Dandangan 2026. Tahun ini, kebersihan area dinyatakan sebagai salah satu prioritas utama, ditandai dengan penyediaan lebih dari 10 unit WC portable di sejumlah titik strategis. Kehadiran Bakti Lingkungan Djarum Foundation sebagai sponsor fasilitas kebersihan turut memperkuat komitmen tersebut, terutama dalam mendukung pengelolaan sampah dan kenyamanan pengunjung.

Langkah-langkah ini patut diapresiasi, mengingat Dandangan selalu identik dengan lonjakan jumlah pengunjung setiap harinya. Keramaian yang datang dari berbagai kalangan—mulai dari warga lokal hingga pendatang—menjadikan aspek kebersihan dan kenyamanan sebagai kebutuhan mendasar yang tidak bisa ditawar.

Namun demikian, di balik berbagai pembenahan tersebut, persoalan sampah harian masih menjadi tantangan utama yang tak bisa diabaikan. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa volume sampah selama Dandangan kerap meningkat drastis, terutama pada jam-jam padat pengunjung di sore hingga malam hari. Sisa makanan, kemasan plastik, hingga limbah sekali pakai kerap menumpuk jika tidak dikelola dengan disiplin.

Kehadiran fasilitas dan dukungan sponsor kebersihan tentu menjadi modal penting, tetapi persoalan sampah tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada panitia atau pihak pendukung. Peran aktif masyarakat dan pengunjung menjadi faktor penentu keberhasilan. Tanpa kesadaran membuang sampah pada tempatnya, sebaik apa pun sistem yang disiapkan berpotensi tidak berjalan maksimal.

Di sinilah Dandangan 2026 diuji bukan hanya sebagai event budaya dan ekonomi, tetapi juga sebagai cermin kedewasaan kolektif masyarakat dalam menggunakan ruang publik. Tradisi yang dirayakan bersama semestinya juga dijaga bersama, termasuk dari sisi kebersihan dan ketertiban.

Bagi pedagang, lingkungan yang bersih akan meningkatkan kenyamanan pembeli dan memperpanjang durasi kunjungan. Bagi pengunjung, area yang tertata akan membuat pengalaman menikmati Dandangan menjadi lebih menyenangkan. Sementara bagi pemerintah daerah, keberhasilan pengelolaan sampah akan menjadi indikator penting bahwa event besar bisa berjalan tanpa meninggalkan masalah lingkungan.

Dengan durasi pelaksanaan yang cukup panjang, yakni hampir dua pekan, Dandangan 2026 sejatinya memiliki ruang evaluasi harian. Penyesuaian pola pengangkutan sampah, penambahan titik tempat sampah, hingga pengaturan petugas kebersihan bisa dilakukan secara dinamis sesuai kondisi lapangan. Fleksibilitas ini menjadi kunci agar persoalan klasik tidak kembali terulang.

Di sisi lain, edukasi kepada pengunjung juga tak kalah penting. Ajakan menjaga kebersihan perlu disampaikan secara persuasif, baik melalui spanduk, pengumuman, maupun contoh nyata di lapangan. Kesadaran kolektif tidak lahir dari aturan semata, tetapi dari kebiasaan yang dibangun bersama.

Secara keseluruhan, Dandangan Kudus 2026 menunjukkan arah pembenahan yang jelas dan patut diapresiasi. Penurunan harga lapak, prioritas pedagang lokal, perbaikan sistem pengelolaan, hingga fokus pada kebersihan menandai adanya visi yang lebih matang dalam mengelola tradisi besar ini.

Namun, keberhasilan Dandangan tidak hanya diukur dari ramainya pengunjung atau besarnya perputaran ekonomi, melainkan juga dari seberapa tertib, bersih, dan nyaman kegiatan ini berlangsung hingga hari terakhir. Di titik inilah peran semua pihak mulai dari panitia, pedagang, pemerintah, sponsor, dan masyarakat akan menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Dandangan bukan sekadar pesta tahunan, melainkan ruang bersama. Jika pembenahan tata kelola bertemu dengan kesadaran publik, maka Dandangan Kudus 2026 bukan hanya meriah, tetapi juga meninggalkan kesan baik dan contoh bagi penyelenggaraan event tradisi di masa depan.

Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Dandangan Kudus 2026 Berbenah: Tata Kelola Membaik, Tantangan Sampah Tetap Jadi Perhatian

https://mediamuria.com/daerah/kudus/ruang-publik-multifungsi-kepadatan-di-balai-jagong-kudus-perlu-penataan-ulang/

https://mediamuria.com/daerah/kudus/kirab-barongsai-dan-ular-naga-di-kudus-disambut-antusias-warga-tumpah-ruah-hingga-umkm-bergeliat/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *