Masjid Wali Baitul Aziz Hadiwarno Mejobo Gelar Tradisi Kenduri Maleman dan Buka Bersama Sambut 21 Ramadan

mediamuria.com, KUDUS – Suasana penuh kebersamaan dan kekhidmatan terasa di lingkungan Masjid Wali Baitul Aziz saat masyarakat setempat menggelar tradisi kenduri maleman dan buka puasa bersama dalam rangka menyambut malam ke-21 bulan suci Ramadan. Kegiatan yang telah menjadi tradisi turun-temurun ini diikuti oleh jamaah masjid serta warga sekitar yang berkumpul untuk mempererat silaturahmi sekaligus meningkatkan ibadah menjelang sepuluh hari terakhir Ramadan.

Tradisi kenduri maleman merupakan salah satu kegiatan keagamaan yang cukup dikenal di sejumlah wilayah di Kudus, khususnya di lingkungan masyarakat yang masih menjaga nilai-nilai tradisi Islam lokal. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan menjelang malam ke-21 Ramadan yang menandai dimulainya sepuluh malam terakhir yang diyakini memiliki banyak keutamaan.

Di Masjid Wali Baitul Aziz yang berada di Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo, kegiatan tersebut diawali dengan buka puasa bersama yang dihadiri puluhan jamaah. Masyarakat datang dengan membawa berbagai hidangan sederhana yang kemudian disantap bersama sebagai bentuk rasa syukur sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.

Kebersamaan dalam tradisi kenduri

Setelah berbuka puasa, jamaah melanjutkan kegiatan dengan doa bersama dan kenduri maleman. Tradisi ini tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Warga yang hadir tampak duduk bersama di area masjid sambil menikmati hidangan yang telah disiapkan. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa saat jamaah saling berbincang dan berbagi cerita sembari menunggu waktu pelaksanaan ibadah berikutnya.

Kegiatan semacam ini menjadi bukti bahwa tradisi keagamaan di tengah masyarakat masih terjaga dengan baik. Selain sebagai bentuk ibadah, kenduri maleman juga menjadi sarana untuk memperkuat rasa persaudaraan di antara warga.

Kajian singkat tentang keutamaan sepuluh malam terakhir

Dalam kesempatan tersebut, salah satu jamaah memberikan kajian singkat mengenai keutamaan sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Dalam penjelasannya, ia mengingatkan bahwa malam-malam terakhir Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri bagi umat Islam.

Ia menyampaikan bahwa umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ibadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Pada malam-malam tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah seperti berzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, serta melaksanakan berbagai bentuk ibadah sunnah lainnya.

“Ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil, kita dianjurkan untuk meningkatkan ibadah. Perbanyak zikir, doa, dan memohon kepada Allah SWT agar mendapatkan keberkahan,” ujar salah satu jamaah dalam kajian singkat tersebut.

Penjelasan tersebut mengingatkan jamaah bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan merupakan waktu yang sangat istimewa bagi umat Islam. Banyak umat Muslim memanfaatkan waktu tersebut untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menghidupkan malam ganjil Ramadan

Dalam kajian tersebut juga dijelaskan bahwa malam-malam ganjil pada sepuluh hari terakhir Ramadan memiliki nilai yang sangat penting. Banyak umat Islam meyakini bahwa di antara malam-malam tersebut terdapat malam yang sangat mulia, yaitu malam yang penuh keberkahan dan pahala bagi mereka yang beribadah dengan sungguh-sungguh.

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan malam-malam tersebut dengan berbagai kegiatan ibadah seperti salat malam, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta memperbanyak doa.

Bagi masyarakat yang tidak dapat beribadah sepanjang malam di masjid, kegiatan ibadah juga dapat dilakukan di rumah bersama keluarga. Hal yang terpenting adalah menjaga semangat untuk meningkatkan kualitas ibadah selama bulan Ramadan.

Anjuran melaksanakan sholat tasbih

Selain mengingatkan tentang pentingnya memperbanyak ibadah, dalam kajian tersebut jamaah juga mengingatkan pentingnya melaksanakan sholat tasbih pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan.

Sholat tasbih merupakan salah satu ibadah sunnah yang memiliki banyak keutamaan. Dalam pelaksanaannya, umat Islam dianjurkan memperbanyak bacaan tasbih sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Menurut penjelasan jamaah tersebut, sholat tasbih dapat dilakukan baik di masjid maupun di rumah. Yang terpenting adalah niat untuk meningkatkan ibadah serta memanfaatkan kesempatan di bulan Ramadan untuk memperbanyak amal kebaikan.

“Setiap malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, kita juga bisa menjalankan sholat tasbih. Bisa dilakukan di masjid atau di rumah. Tujuannya untuk menambah pahala dan memperbanyak ibadah di bulan Ramadan,” ujarnya.

Anjuran tersebut mendapat perhatian dari jamaah yang hadir. Banyak di antara mereka yang kemudian berencana untuk melaksanakan ibadah tambahan selama sepuluh malam terakhir Ramadan.

Menjaga tradisi sekaligus meningkatkan ibadah

Tradisi kenduri maleman yang digelar di Masjid Wali Baitul Aziz tidak hanya sekadar menjadi kegiatan budaya masyarakat, tetapi juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran spiritual umat Islam.

Melalui kegiatan seperti buka bersama, doa bersama, serta kajian keagamaan, masyarakat dapat memanfaatkan momen Ramadan untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal ibadah.

Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada generasi muda. Dengan ikut serta dalam kegiatan di masjid, mereka dapat belajar tentang pentingnya kebersamaan, kepedulian sosial, serta semangat beribadah.

Harapan masyarakat

Masyarakat berharap tradisi seperti kenduri maleman dapat terus dilestarikan di tengah perkembangan zaman. Kegiatan ini dinilai memiliki nilai positif karena mampu mempererat hubungan antarwarga sekaligus meningkatkan kualitas ibadah masyarakat.

Dengan adanya kegiatan seperti ini, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial dan spiritual bagi masyarakat sekitar.

Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, jamaah Masjid Wali Baitul Aziz pun berharap dapat memanfaatkan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya untuk beribadah dan memohon keberkahan kepada Allah SWT.

Semangat kebersamaan dan kekhusyukan yang terlihat dalam kegiatan kenduri maleman tersebut menjadi gambaran bagaimana masyarakat memaknai bulan Ramadan sebagai waktu yang penuh berkah, sekaligus kesempatan untuk meningkatkan keimanan dan mempererat tali persaudaraan.

Ditulis oleh : Syam

Jurnalis Media Muria

Baca Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Masjid Wali Baitul Aziz Hadiwarno Mejobo Gelar Tradisi Kenduri Maleman dan Buka Bersama Sambut 21 Ramadan

https://mediamuria.com/nasional/menanti-malam-lailatul-qadar-di-penghujung-ramadan-umat-islam-perbanyak-ibadah/

https://mediamuria.com/nasional/arus-mudik-mulai-meningkat-pemudik-diimbau-beristirahat-jika-lelah-saat-perjalanan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *