Tradisi Rebo Wekasan, Perpaduan Nilai Keagamaan Dan Kesenian Di Desa Jepang, Mejobo, Kudus

Sharing is caring

mediamuria.com, Kudus – Pemerintahan Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus kembali menggelar acara Tradisi Rebo Wekasan 2025. Kegiatan Rebo Wekasan 2025 dipusatkan di sekitaran area Masjid Jami’ (Wali) Al-Makmur Desa Jepang Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Kegitan dibuka pada hari, Selasa, 12 Agustus 2025, dengan turut dihadiri oleh Camat Kecamatan Mejobo, Kepala Desa Jepang, Kapolsek Kecamatan Mejobo, Ndanramil Kecamatan Mejobo, dan Disbudpar Kabupaten Kudus.

Setelah acara pembukaan, dilanjutkan acara pengajian umum yang diisi oleh Dr. K.H. Reza Ahmad Zahid, Lc., MA. Dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Acara ini diikuti secara antusias dari warga Desa Jepang dan sekitarnya. Acara berjalan dengan penuh khidmat dan keberkahan.

Selain itu, kegiatan Rebo Wekasan 2025 juga menghadirkan Bazar UMKM dan Gebyar Pentas Seni dari tanggal 12 sampai 18 Agustus 2025. Upaya ini dilakukan untuk menarik antusias warga dan juga membantu UMKM khususnya dari warga Desa Jepang. Gebyar pentas seni juga sebagai sarana menyalurkan keterampilan anak-anak dan sebagai wadah anggota kelompok kesenian khususnya warga Desa Jepang.

Pada hari Minggu nanti 17 Agustus 2025 akan dilaksanakan kegiatan Khotmil Qur’an Bil Ghoib yang akan diisi oleh Kiai Qomaruddin, Al Hafidz pada pukul 06.00 WIB. Dan dihari Senin, 18 Agustus 2025 akan dilaksanakan kegiatan Khotmil Qur’an Bin Nadhor yang akan diisi oleh K.H. Hamdani, Lc., MA. asal Kudus, Ulama’ dan Umaro’ Desa Jepang, dan Masyarakat Desa Jepang mulai pukul 10.00 WIB.

Puncak kegiatan nanti akan diselenggarakan pada Selasa, 19 Agustus 2025, dengan susunan acara : Kirab Banyu Salamun “Rebo Wekasan” mulai pukul 13.00 WIB, Ritual Banyu Salamun “Rebo Wekasan” pukul 17.00 WIB, Pembagian Banyu Salamun di Masjid Wali pukul 18.00 WIB, dan Al Barjanji dan Terbang 4 pada pukul 19.30 WIB.

Pengertian Rebo Wekasan Secara Umum Dan Di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus

Indonesia dikenal dengan berbagai keragaman budayanya, salah satu budaya yang ada di Indonesia adalah “Tradisi Rebo Wekasan”. Menurut Chalik (2016), secara umum tradisi rebo wakesan termasuk warisan nenek moyang kita sejak dahulu dan merupakan bagian dari aktivitas kehidupan masyarakat jawa yang sudah berurat akar dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi ini dilakukan Rabu Terakhir dari bulan Safar, yaitu bulan ke-2 dari 12 bulan penanggalan Hijriyah. Karena itu tradisi ini sangat kental dengan Islam. Cara memperingatinya pun berbeda-beda. Di Tasikmalaya dengan Shalat berjamaah diakhir hari Rabu di Musalla atau Masjid dan berdoa bersama. Di Daerah Gresik ada yang memperingatinya dengan saling bersedekah bubur Harisa, bubur daging kambing, dengan orang sekampung. Di Probolinggo dengan mendatangi tokoh agama Islam berkelompok-kelompok dengan membawa air untuk didoakan keselamatan dari balak. Rebo wekasan merupakan ritual yang mempunyai nuansa religious sekaligus budaya yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Sementara itu di Desa Jepang, Mejobo, Kudus, Tradisi Rebo Wekasan merupakan  keyakinan masyarakat Desa Jepang tentang datangnya berbagai malapetaka dan bencana di Rabu terakhir dibulan safar direspon oleh masyarakat dengan menggelar upacara keagamaan, yakni tradisi Rebo Wekasan di Masjid Wali Desa Jepang. Upacara keagamaan diselenggarakan untuk memohon kepada Allah, keselamatan dan perlindungan dari segala malapetaka dan bencana yang mungkin terjadi. Hal ini menunjukkan sikap positif dan optimis masyarakat dalam menghadapi ancaman maupun tantangan hidup.

Sejarah Singkat Tradisi Rebo Wekasan Di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus

Tradisi rebo wekasan di Desa Jepang pun ada sejarahnya. Tradisi rebo wekasan dikembangkan oleh leluhur waktu dulu adalah Syaid Doro Ali Al-Idrus. Syaid Doro Ali Al-Idrus yang melestarikan di Masjid Wali semenjak meninggal Sunan Kudus dan Arya Penangsang. Kalau sejarahnya tokoh berpengaruh perkembangan di Jepang itu adalah Syaid Doro Ali Al-Idrus, beliau adalah salah satu tokoh yang melestarikan masjid ini. Kalau dulunya masjid ini dulunya dibangun oleh Arya Penangsang dan Sunan Kudus, ada beberapa tokoh tapi riwayatnnya tidak terlacak. Dan tokoh ini yang masih dekat, dan kemudian menghidupkan kembali tradisi rebo wekasan.

Kegitan tradisi rebo wekasan bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter yang tertanam pada sebuah tradisi dan tetap melestarikan tradisi yang sudah dilaksanakan secara turun-temurun. Selain nilai keagamaan, tradisi rebo wekasan juga memupuk nilai kesenian di Desa Jepang. Kegiatan ini dapat digunakan sebagai wadah penampilan kesenian-kesenian khususnya dari warga Desa Jepang agar dapat di ketahui oleh khalayak banyak. Dengan adanya sebuah wadah dapat menjaga sebuah kesenian akan tetap terlestarikan khususnya untuk generasi penerus.

Jadwal Kegiatan Rebo Wekasan Desa Jepang 2025.

  • Selasa, 12 Agustus 2025 – Pembukaan dan Pengajian Umum (K.H. Reza Ahmad Zahid, Lc., MA. Dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kabupaten Kediri, Jawa Timur), 20.00 WIB – Selesai
  • Selasa, 12 Agustus 2025 – Rabu, 18 Agustus 2025 – Bazar UMKM, 17.00 WIB – Selesai
  • Rabu, 13 Agustus 2025 – Rabu, 18 Agustus 2025 – Gebyar Pentas Seni, pada pukul 19.30 WIB – Selesai
  • Minggu, 17 Agustus 2025 – Khotmil Qur’an Bil Ghoib (Kiai Qomaruddin, Al Hafidz), pada pukul 06.00 WIB
  • Senin, 18 Agustus 2025 – Khotmil Qur’an Bin Nadhor (K.H. Hamdani, Lc., MA. asal Kudus, Ulama’ dan Umaro’ Desa Jepang, dan Masyarakat Desa Jepang),pada pukul 18.00 WIB
  • Selasa, 19 Agustus 2025 – Kirab Banyu Salamun “Rebo Wekasan” , pada pukul 13.00 WIB
  • Selasa, 19 Agustus 2025 – Ritual Banyu Salamun “Rebo Wekasan”, pada pukul 17.00 WIB
  • Selasa, 19 Agustus 2025 – Pembagian Banyu Salamun di Masjid Wali, pada pukul 18.00 WIB
  • Selasa, 19 Agustus 2025 – Al Barjanji dan Terbang 4 , pada pukul 19.30 WIB – Selesai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *