mediamuria.com, Kudus – Sebuah kabar menggembirakan datang dari dunia sepak bola lintas benua: klub Italia Serie A, Como 1907, mengambil langkah nyata bagi lingkungan dengan berkomitmen menanam 13.000 pohon di Pegunungan Patiayam, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Inisiatif ini bukan sekadar simbolik melainkan wujud tanggung jawab global, solidaritas, dan kepedulian terhadap krisis lingkungan di satu wilayah yang jauh dari markas mereka.
Akar Program “ROOTS”: Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Proyek reboisasi itu digagas dalam program yang disebut ROOTS oleh Como 1907. Menurut klub, “ROOTS speaks to the many layers of connection that define us” akar keluarga, klub, dan pohon. Pegunungan Patiayam dipilih sebagai lokasi karena kondisi lahan yang selama ini kering, dengan vegetasi yang minim. Reboisasi dianggap penting untuk memulihkan keseimbangan ekologi, memperbaiki kualitas tanah dan udara, serta memberi harapan baru bagi komunitas lokal.
Dalam praktiknya, klub menetapkan bahwa untuk setiap pemegang tiket musim (season ticket) kampanye 2025/26, mereka akan menanam dua pohon sampai total 13.000 pohon tercapai. Sebagian dari keuntungan penjualan tiket musiman akan dialokasikan langsung untuk mendanai reboisasi tersebut.
Bagi Como 1907, ini lebih dari sekadar aksi hijau ini adalah misi personal. Mereka menekankan bahwa tanah di Patiayam memiliki kedekatan emosional, budaya, dan kultural dengan latar belakang keluarga manajemen klub.
Harapan Baru bagi Pegunungan Patiayam dan Kudus
Bagi warga Kabupaten Kudus dan khususnya kawasan Pegunungan Patiayam inisiatif ini disambut dengan penuh harapn. Pegunungan Patiayam selama ini dikenal sebagai kawasan dataran tinggi yang rentan terhadap degradasi: dengan tanah kering, sedikit pepohonan, dan risiko erosi.
Dengan penanaman ribuan pohon baru, diharapkan kualitas lingkungan akan membaik: tanah menjadi lebih subur, udara lebih bersih, dan ekosistem lokal termasuk flora dan fauna bisa mulai pulih. Lebih dari itu, inisiatif ini bisa membawa semangat baru bahwa desa dan perbukitan di Indonesia bisa mendapatkan perhatian global, dan bahwa komunitas luar negeri bisa “berakar” ke Nusantara melalui aksi nyata.
Kritik dan Tantangan: Bukan Sekadar Menanam, Tetapi Memastikan Hidup
Namun, seperti semua proyek reboisasi skala besar, keberhasilan jangka panjang bukan hanya tentang menanam bibit tetapi memastikan mereka tumbuh, hidup, dan memberi manfaat. Beberapa pihak mencatat bahwa kolaborasi lokal sangat penting, mulai dari pemerintah desa, masyarakat, hingga lembaga lingkungan, agar bibit tidak dibiarkan terbengkalai. Untuk itu, transparansi dan pelaporan berkala menjadi kunci.
Hal ini penting, khususnya mengingat bahwa dalam beberapa tahun terakhir, kawasan Bukit Patiayam juga disinggung oleh aksi-aksi lain misalnya oleh Djarum Foundation (DLDF) melalui program reboisasi dan distribusi bibit. Kombinasi berbagai inisiatif dapat memberi dampak lebih besar tetapi juga menuntut koordinasi yang baik agar tidak terjadi tumpang tindih, dan agar penanaman pohon dapat diikuti dengan pemeliharaan.
Reaksi Masyarakat dan Publik: Antusias Tapi Waspada
Sejak pengumuman klub, banyak warganet yang merespon dengan antusias. Dalam artikel media lokal, ada komentar yang memuji: “Terima kasih karena lebih peduli dibandingkan pemerintahan kita sendiri.” Namun ada pula yang meminta klub ikut aktif memantau pelaksanaan agar bukan hanya sekadar kabar manis, tetapi aksi nyata yang terlihat jelas.
Kedua respons ini menunjukkan bahwa masyarakat ingin lebih dari sekadar janji: mereka ingin bukti, transparansi, dan kesinambungan.
Mengapa Inisiatif Ini Penting Secara Global dan Lokal
Dunia saat ini menghadapi krisis iklim dan lingkungan, dari deforestasi, degradasi tanah, hingga perubahan cuaca ekstrem. Di Indonesia, tekanan terhadap lahan hijau dan hutan sudah berlangsung puluhan tahun. Dalam konteks itu, gerakan dari sebuah klub sepak bola Italia memberikan pelajaran penting: bahwa setiap pihak bukan hanya pemerintah atau LSM bisa berkontribusi.
Bagi Kabupaten Kudus, kolaborasi semacam ini bisa membawa banyak dampak:
- Pemulihan lingkungan di kawasan kritis perbukitan.
- Meningkatkan kesadaran warga tentang pentingnya pohon dan ekosistem.
- Membuka kemungkinan kolaborasi lintas negara dan lintas sektor: klub olahraga, komunitas, LSM, pemerintah.
- Memberi model bahwa “brand global” bisa mengambil tanggung jawab atas dampak lingkungan bahkan di luar wilayah asal mereka.
Langkah Selanjutnya: Transparansi, Kolaborasi, dan Pemantauan
Agar 13.000 pohon yang dijanjikan benar-benar menjadi “pohon hidup”, ada beberapa langkah yang sebaiknya dilakukan:
- Publikasi peta lokasi penanaman, agar masyarakat lokal dan umum tahu di mana pohon ditanam.
- Dokumentasi berkala (foto, video, laporan pertumbuhan) untuk memantau apakah bibit tumbuh atau gagal.
- Kolaborasi dengan pihak lokal: pemerintah kabupaten, komunitas, desa, LSM lingkungan, agar perawatan dan pemeliharaan berjalan.
- Program edukasi dan keberlanjutan, agar reboisasi bukan hanya satu kali aksi, melainkan bagian dari perubahan gaya hidup: konservasi, penghijauan, penghormatan terhadap alam.
Inisiatif Como 1907 menanam 13.000 pohon di Bukit Patiayam, Kudus, sebuah simbol harapan. Harapan bahwa sepak bola bisa lebih dari sekadar hiburan dan kompetisi: bahwa sepak bola bisa menjadi jembatan antara komunitas global dan lokal, antara budaya Eropa dan Indonesia, antara manusia dan alam.
Namun harapan itu hanya bisa menjadi nyata jika disertai dengan komitmen: komitmen untuk memastikan bibit di tanah Patiayam tumbuh nyata, bertahan, dan berbuah bukan hanya tumbuh sebagai cerita di media.
Bagi Kabupaten Kudus, langkah ini bisa menjadi momentum untuk membuktikan bahwa kawasan pegunungan, tanah kering, lahan kritis pun bisa disulap menjadi hijau, lestari, dan produktif bila ada kemauan bersama. Dan bagi dunia, ini menjadi pengingat bahwa lingkungan bukan sekadar tanggung jawab lokal ia milik kita semua.
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Como 1907 Tanam 13.000 Pohon Di Bukit Patiayam: Dari Serie A Ke Kudus, Untuk Bumi
