Bedug Dandangan, Warisan Tradisi Menyambut Ramadan di Kudus

mediamuria.com, KUDUS – Dentuman bedug kembali menggema dari pelataran Menara Kudus, menandai datangnya bulan suci Ramadan. Suara khas itu seolah menembus ruang dan waktu, mengingatkan masyarakat Kudus pada warisan tradisi yang telah dijaga lintas generasi. Di tengah arus modernisasi dan perkembangan teknologi penentuan awal puasa, tradisi Ziarah dan Bedug Dandangan tetap bertahan sebagai simbol penyambutan Ramadan yang sarat makna religius dan budaya.

Sejak pagi hari, masyarakat mulai berdatangan ke kawasan Menara Kudus. Mereka datang dari berbagai penjuru, tidak hanya warga sekitar, tetapi juga peziarah dari luar daerah. Ada yang berjalan kaki, ada pula yang datang berombongan bersama keluarga. Tujuannya satu: mengikuti rangkaian tradisi ziarah dan menyaksikan penabuhan bedug sebagai penanda dimulainya bulan puasa.

Tradisi ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Bagi masyarakat Kudus, Ziarah dan Bedug Dandangan adalah momentum spiritual, ruang refleksi, sekaligus pengingat akan akar sejarah dakwah Islam di kota santri tersebut. Setiap langkah menuju kompleks Menara Kudus seakan membawa kesadaran bahwa Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang menata batin dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.

Ziarah menjadi pembuka dari rangkaian tradisi. Dalam suasana yang khidmat, para tokoh agama, santri, dan masyarakat bersama-sama memanjatkan doa. Suasana hening menyelimuti area ziarah, hanya terdengar lantunan doa dan dzikir yang mengalir pelan. Momentum ini dimaknai sebagai ajakan untuk membersihkan hati, memohon ampun, dan menyiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki bulan penuh ampunan.

Bagi sebagian masyarakat, ziarah ini juga menjadi pengingat akan jasa para ulama dan wali yang telah meletakkan fondasi Islam di Kudus. Nilai-nilai toleransi, kebijaksanaan, dan kearifan lokal yang diwariskan para pendahulu itulah yang hingga kini masih terasa dalam kehidupan sosial masyarakat Kudus. Tradisi ini menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, antara sejarah dan realitas kehidupan modern.

Setelah rangkaian ziarah, perhatian masyarakat tertuju pada satu momen yang paling dinanti: penabuhan bedug. Bedug bukan sekadar alat bunyi. Ia adalah simbol komunikasi tradisional yang dahulu menjadi penanda penting bagi kehidupan umat Islam. Di masa ketika pengeras suara dan media digital belum dikenal, bedug berfungsi sebagai sarana pemberitahuan waktu ibadah, termasuk datangnya bulan Ramadan.

Ketika bedug mulai ditabuh, suasana seketika berubah. Bunyi “dang… dang…” yang khas menggema, disambut sorak takbir dan wajah-wajah penuh harap. Anak-anak tampak antusias, orang tua tersenyum, sementara para perantau yang pulang kampung larut dalam rasa rindu pada tradisi masa kecil mereka. Bedug Dandangan menjadi bahasa kolektif yang dipahami semua kalangan, tanpa perlu penjelasan panjang.

Tradisi ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Kudus memaknai Ramadan secara kolektif. Ramadan tidak datang secara individual, melainkan disambut bersama-sama. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh, rasa memiliki terhadap tradisi, dan kesadaran bahwa nilai-nilai agama dapat hidup berdampingan dengan budaya lokal.

Di tengah perkembangan zaman, ketika penentuan awal Ramadan telah menggunakan metode hisab dan rukyat yang ilmiah, Bedug Dandangan tetap dipertahankan. Keberadaannya bukan untuk menegasikan ilmu pengetahuan, melainkan sebagai simbol budaya dan identitas. Bedug menjadi pengingat bahwa agama tidak hadir di ruang hampa, tetapi tumbuh dan berkembang bersama budaya masyarakat.

Menariknya, tradisi ini juga memiliki dampak sosial yang luas. Kawasan Menara Kudus setiap tahun menjadi ruang pertemuan lintas generasi. Anak-anak belajar mengenal tradisi, remaja merasakan kebersamaan, dan orang tua bernostalgia. Di sinilah nilai edukasi budaya bekerja secara alami, tanpa perlu ruang kelas atau buku teks.

Selain itu, tradisi Ziarah dan Bedug Dandangan juga memperkuat citra Kudus sebagai kota religius yang menjunjung tinggi warisan budaya. Di tengah derasnya arus globalisasi, Kudus menunjukkan bahwa modernitas tidak harus menghapus tradisi. Justru dengan menjaga tradisi, identitas daerah semakin kokoh.

Momen ini juga menjadi pengingat akan pentingnya toleransi dan saling menghargai. Dalam tradisi ini, perbedaan pandangan terkait awal Ramadan tidak menjadi sumber perpecahan. Bedug Dandangan hadir sebagai simbol persatuan, bahwa Ramadan adalah waktu untuk mempererat ukhuwah, bukan memperlebar jarak.

Ketika bedug terakhir ditabuh dan masyarakat mulai beranjak pulang, suasana haru masih terasa. Ramadan resmi disambut, bukan hanya dengan kalender dan pengumuman resmi, tetapi dengan doa, tradisi, dan kebersamaan. Di Kudus, Ramadan selalu datang dengan cerita, dengan bunyi bedug yang tak sekadar terdengar, tetapi juga terasa di hati.

Tradisi Ziarah dan Bedug Dandangan menjadi bukti bahwa warisan budaya bukanlah sesuatu yang usang. Ia hidup, berkembang, dan terus relevan. Selama masyarakat masih menjaga dan memaknainya, bedug akan terus bertalu setiap menjelang Ramadan, menjadi penanda bahwa nilai-nilai spiritual dan budaya masih berdenyut di jantung Kota Kudus.

Di tengah perubahan zaman, suara bedug itu seakan berpesan: Ramadan bukan hanya tentang hari pertama puasa, tetapi tentang perjalanan batin yang dimulai dengan niat, doa, dan kebersamaan. Dan di Kudus, perjalanan itu selalu diawali dengan ziarah dan dentuman bedug dari Menara yang menjadi saksi sejarah.

Ditulis oleh : Syam

Jurnalis Media Muria

Baca Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Bedug Dandangan, Warisan Tradisi Menyambut Ramadan di Kudus

https://mediamuria.com/daerah/kudus/penetapan-awal-ramadan-1447-h-rukyatul-hilal-di-man-2-kudus-jadi-bagian-proses-nasional/

https://mediamuria.com/daerah/kudus/hari-pertama-ramadan-1447-hijriah-warga-kudus-sambut-puasa-dengan-khidmat-dan-penuh-kebersamaan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *