mediamuria.com, KUDUS – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat di berbagai wilayah di Kabupaten Kudus menggelar sebuah tradisi lama yang sarat makna, yakni besikan kubur termasuk di Desa Hadiwarno. Tradisi yang umumnya dilaksanakan pada Jum’at terakhir sebelum Ramadhan atau Jum’at terakhir bulan Sya’ban ini bukan sekadar kegiatan membersihkan area pemakaman, tetapi juga menjadi ruang pertemuan sosial yang mempererat hubungan antarwarga. Di tengah perubahan zaman dan gaya hidup yang semakin individual, besikan kubur tetap bertahan sebagai wujud gotong royong dan kepedulian bersama.
Sejak pagi hari, warga tampak berdatangan ke kompleks pemakaman desa dengan membawa berbagai peralatan sederhana seperti sabit, cangkul kecil, sapu, hingga karung untuk menampung sampah. Mereka bekerja bersama tanpa memandang usia maupun latar belakang. Anak muda, orang tua, hingga tokoh masyarakat turun tangan membersihkan makam keluarga dan makam umum. Suasana yang tercipta bukan suasana formal, melainkan penuh keakraban, canda ringan, dan saling sapa antarwarga.
Besikan kubur selama ini dikenal sebagai tradisi yang berkaitan erat dengan persiapan spiritual menjelang Ramadhan. Membersihkan makam dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus pengingat akan kehidupan yang fana. Namun lebih dari itu, kegiatan ini juga memiliki nilai sosial yang kuat. Warga tidak hanya fokus pada makam keluarganya masing-masing, tetapi juga membersihkan area pemakaman secara menyeluruh agar terlihat rapi dan layak.
Salah satu warga, Noor Salim, menjelaskan bahwa besikan kubur sudah menjadi tradisi yang dilakukan secara turun-temurun. Menurutnya, kegiatan ini tidak pernah dipaksakan, tetapi tumbuh dari kesadaran bersama warga.
“Kegiatan ini kami lakukan sebagai tradisi. Biasanya warga datang ke makam untuk membersihkan dari sampah dan rumput liar, memotong dahan-dahan pohon yang terlalu rindang supaya area makam terlihat bersih dan rapi, sekaligus melakukan penataan di sekitar makam,” ujarnya.
Aktivitas pembersihan dilakukan dengan pembagian tugas yang alami. Ada warga yang fokus menyapu jalan setapak di area makam, ada yang membersihkan nisan, ada pula yang memotong rumput dan ranting pohon. Tidak jarang, warga yang jarang bertemu dalam keseharian justru bisa saling bercengkerama saat besikan kubur berlangsung. Dari sinilah interaksi sosial kembali terjalin, memperkuat rasa kebersamaan yang mungkin sempat memudar karena kesibukan masing-masing.
Selain membersihkan makam, besikan kubur juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Anak-anak dan remaja yang ikut serta secara tidak langsung belajar tentang nilai gotong royong, kepedulian terhadap lingkungan, serta pentingnya menghormati orang-orang yang telah mendahului. Tradisi ini mengajarkan bahwa menjaga makam bukan hanya tanggung jawab keluarga tertentu, tetapi tanggung jawab bersama sebagai bagian dari komunitas.
Di beberapa desa, besikan kubur juga menjadi momen refleksi bersama. Setelah makam dibersihkan, sebagian warga meluangkan waktu untuk berdoa secara pribadi. Tidak ada ritual khusus yang mengikat, namun suasana hening dan khidmat terasa kuat. Momentum menjelang Ramadhan membuat kegiatan ini semakin bermakna, karena warga diingatkan untuk membersihkan bukan hanya lingkungan fisik, tetapi juga hati dan niat sebelum memasuki bulan penuh ibadah.
Rangkaian kegiatan besikan kubur biasanya tidak berhenti di area pemakaman. Setelah seluruh proses pembersihan selesai, warga bersiap mengikuti agenda penutup yang telah menjadi kebiasaan, yakni kenduri bersama di masjid. Acara ini umumnya dilaksanakan setelah Sholat Jum’at. Warga membawa makanan dari rumah masing-masing untuk kemudian disantap bersama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Noor Salim menambahkan bahwa kenduri menjadi bagian penting dari tradisi besikan kubur. “Biasanya setelah dari makam, acara ditutup dengan kenduri di masjid setelah sholat Jum’at. Makanan yang dibawa dimakan bersama. Kegiatan ini untuk memupuk rasa persaudaraan antarwarga,” katanya. Suasana kenduri berlangsung sederhana namun penuh kehangatan, mencerminkan nilai kebersamaan yang menjadi inti dari tradisi tersebut.
Tradisi besikan kubur juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat dalam menjaga lingkungan. Area pemakaman yang bersih dan tertata tidak hanya enak dipandang, tetapi juga lebih nyaman bagi peziarah. Dengan rutin dilakukan setiap tahun, besikan kubur secara tidak langsung mencegah pemakaman menjadi terbengkalai atau dipenuhi semak belukar yang bisa menimbulkan kesan kumuh.
Di tengah arus modernisasi, tradisi seperti besikan kubur menghadapi tantangan tersendiri. Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, kesibukan pekerjaan, hingga pergeseran nilai sosial membuat partisipasi warga berpotensi menurun. Namun hingga kini, besikan kubur masih mampu bertahan karena memiliki akar kuat dalam kehidupan masyarakat. Tradisi ini tidak bersifat mengikat secara formal, melainkan tumbuh dari kesadaran kolektif yang terus diwariskan.
Keberlangsungan besikan kubur menunjukkan bahwa nilai gotong royong masih hidup di tengah masyarakat. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa tradisi lokal tidak selalu bertentangan dengan kehidupan modern, justru bisa berjalan beriringan. Dengan pendekatan yang sederhana dan inklusif, besikan kubur mampu menyatukan warga dalam satu tujuan bersama.
Menjelang Ramadhan, besikan kubur tidak hanya menjadi agenda rutin tahunan, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga hubungan antar manusia. Tradisi ini mengajarkan bahwa persiapan menyambut bulan suci tidak cukup dilakukan secara individual, melainkan juga melalui kebersamaan dan kepedulian sosial. Membersihkan makam menjadi simbol membersihkan lingkungan, memperbaiki hubungan, dan menata kembali nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan segala makna yang terkandung di dalamnya, besikan kubur layak terus dilestarikan. Bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana memperkuat interaksi sosial dan menjaga harmoni antarwarga. Di tengah berbagai perubahan zaman, tradisi ini tetap relevan sebagai pengingat bahwa kebersamaan dan gotong royong adalah fondasi penting dalam kehidupan sosial masyarakat.
Ditulis oleh : Syam
Jurnalis Media Muria
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Besikan Kubur, Tradisi Menjelang Ramadhan yang Merawat Makam dan Merajut Kebersamaan Warga