Dandangan 2026 Memasuki Hari Terakhir, Perputaran Uang Ditargetkan Tembus Rp17 Miliar

mediamuria.com, KUDUS – Tradisi Dandangan di Kabupaten Kudus tahun 2026 memasuki hari terakhir dengan suasana yang masih dipadati lautan manusia. Sejak siang hingga malam hari, kawasan pusat kota Kudus kembali dipenuhi masyarakat yang datang untuk merayakan tradisi tahunan menjelang bulan suci Ramadan tersebut. Kepadatan pengunjung tidak hanya terlihat pada malam hari, tetapi sudah mulai terasa sejak sore, menandakan antusiasme masyarakat yang terus menguat hingga penutupan acara.

Dandangan yang selama ini dikenal sebagai tradisi religi dan budaya masyarakat Kudus, kini berkembang menjadi magnet ekonomi yang memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Ribuan pedagang kaki lima, UMKM kuliner, hingga penjual mainan dan pernak-pernik khas Ramadan merasakan langsung geliat ekonomi yang muncul dari tradisi ini. Pada hari-hari terakhir pelaksanaan, arus pengunjung bahkan dinilai lebih padat dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Pemerintah Kabupaten Kudus menilai tingginya animo masyarakat tersebut sebagai indikator positif terhadap perputaran ekonomi selama Dandangan berlangsung. Tahun ini, Pemkab Kudus menargetkan perputaran uang dalam tradisi Dandangan mencapai Rp17 miliar. Target tersebut dinilai realistis, seiring dengan membludaknya pengunjung yang datang silih berganti sejak awal pelaksanaan hingga menjelang hari terakhir.

Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton, menyampaikan bahwa kepadatan pengunjung yang terjadi hampir setiap hari menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap tradisi Dandangan. Tidak hanya warga lokal, pengunjung dari berbagai daerah di luar Kudus juga turut hadir dan meramaikan suasana.

“Banyaknya masyarakat yang datang sampai kawasan Dandangan menjadi padat artinya animo masyarakat begitu bagus,” ujar Bellinda.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat Pemerintah Kabupaten Kudus optimistis target perputaran uang sebesar Rp17 miliar dapat tercapai. Apalagi, Dandangan bukan hanya sekadar tradisi budaya, tetapi juga menjadi ruang bertemunya aktivitas ekonomi rakyat yang melibatkan ribuan pedagang dan pelaku UMKM.

“Pihaknya optimistis target transaksi perputaran uang di tradisi Dandangan tahun ini sebesar Rp17 miliar dapat tercapai,” lanjutnya.

Selama pelaksanaan Dandangan, berbagai lapak kuliner dan usaha mikro tampak tak pernah sepi pembeli. Mulai dari jajanan tradisional khas Kudus, makanan kekinian, minuman segar, hingga mainan anak-anak, semuanya menjadi buruan pengunjung. Kondisi ini menciptakan perputaran uang yang cepat dan merata, terutama bagi pedagang kecil yang menggantungkan pendapatan hariannya dari event semacam ini.

Bellinda mengungkapkan bahwa para pedagang merasakan dampak ekonomi yang cukup signifikan. Bahkan, sebagian pedagang mencatat kenaikan omzet yang cukup tinggi dibandingkan hari-hari biasa. Lonjakan tersebut menjadi bukti nyata bahwa Dandangan memiliki peran strategis dalam mendongkrak ekonomi kerakyatan.

“Para pedagang juga mengalami kenaikan omzet yang lumayan. Beberapa ada yang omzetnya naik sampai 50 persen di Dandangan tahun ini,” ungkap Bellinda.

Kenaikan omzet tersebut dirasakan hampir merata, terutama oleh pedagang kuliner yang menjadi sektor paling diminati pengunjung. Banyak pedagang mengaku harus menambah stok bahan baku dan memperpanjang jam berjualan demi melayani pembeli yang terus berdatangan hingga larut malam. Tidak sedikit pula pedagang yang mengaku kehabisan dagangan sebelum waktu penutupan.

Memasuki hari terakhir, suasana Dandangan justru semakin semarak. Masyarakat memanfaatkan momentum penutupan untuk berbelanja kebutuhan Ramadan, berburu jajanan khas, hingga sekadar menikmati atmosfer tradisi yang hanya hadir setahun sekali. Kepadatan pengunjung ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dan panitia untuk menjaga ketertiban, kebersihan, serta kenyamanan bersama.

Pemerintah Kabupaten Kudus terus mengimbau masyarakat dan pedagang agar tetap menjaga kebersihan lingkungan. Tradisi Dandangan tidak hanya dinilai dari kemeriahan dan besarnya transaksi ekonomi, tetapi juga dari kesadaran kolektif untuk menjaga ruang publik tetap bersih dan tertib.

Selain mengevaluasi capaian ekonomi tahun ini, Pemkab Kudus juga mulai menyiapkan langkah-langkah inovatif untuk penyelenggaraan Dandangan di masa mendatang. Salah satu inovasi yang menjadi perhatian adalah penerapan transaksi digital secara lebih luas dan merata.

Bellinda menyampaikan bahwa ke depan, pemerintah daerah ingin mendorong seluruh pedagang yang terlibat dalam Dandangan untuk menggunakan sistem pembayaran nontunai. Menurutnya, digitalisasi transaksi akan memberikan banyak manfaat, baik dari sisi efisiensi, keamanan, maupun pencatatan perputaran ekonomi.

“Selain itu, Bellinda juga sudah merencanakan inovasi transaksi digital pada Dandangan tahun depan. Ia ingin, semua pedagang bisa melayani transaksi digital,” jelasnya.

Saat ini, sebagian pedagang memang sudah mulai menggunakan pembayaran nontunai, baik melalui QR code maupun aplikasi dompet digital. Namun, jumlahnya masih terbatas dan belum merata. Pemerintah daerah berencana melakukan pendampingan dan sosialisasi agar seluruh pedagang dapat mengadopsi sistem tersebut secara bertahap.

“Dandangan tahun ini sudah ada yang menggunakan pembayaran nontunai. Ke depannya akan kami seragamkan semua pedagang menggunakan nontunai,” pungkas Bellinda.

Langkah digitalisasi tersebut diharapkan dapat semakin memperkuat posisi Dandangan sebagai event budaya sekaligus ekonomi yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Selain memudahkan transaksi bagi pengunjung, sistem nontunai juga dinilai mampu meningkatkan transparansi dan akurasi data perputaran uang selama event berlangsung.

Dengan memasuki hari terakhir pelaksanaan, Dandangan 2026 kembali menegaskan perannya sebagai tradisi yang bukan hanya sarat nilai religius dan budaya, tetapi juga memiliki dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat Kudus. Antusiasme pengunjung, peningkatan omzet pedagang, serta target perputaran uang yang ambisius menjadi bukti bahwa Dandangan tetap relevan dan terus berkembang.

Pemerintah Kabupaten Kudus berharap tradisi ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan kualitas penyelenggaraannya dari tahun ke tahun, sehingga tidak hanya menjadi kebanggaan budaya, tetapi juga motor penggerak ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Ditulis oleh : Syam

Jurnalis Media Muria

Baca Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Dandangan 2026 Memasuki Hari Terakhir, Perputaran Uang Ditargetkan Tembus Rp17 Miliar

https://mediamuria.com/daerah/kudus/kue-keranjang-dan-maknanya-dalam-perayaan-imlek-simbol-harapan-dan-keharmonisan/

https://mediamuria.com/daerah/kudus/pembangunan-smart-hospital-di-eks-plaza-matahari-kudus-segera-dimulai-anggaran-rp996-miliar-disiapkan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *