Kirab Barongsai dan Ular Naga di Kudus Disambut Antusias, Warga Tumpah Ruah hingga UMKM Bergeliat

mediamuria.com, KUDUS – Suasana berbeda tampak di kawasan sekitar Klenteng Hok Hien Bio, Kudus, sejak pagi hari. Sejak matahari belum terlalu tinggi, warga sudah mulai memadati area depan klenteng untuk menyaksikan kirab Barongsai dan Ular Naga yang digelar dalam rangka perayaan Imlek 2576 Cap Go Meh. Antusiasme masyarakat terlihat jelas, tidak hanya dari umat Tionghoa, tetapi juga warga lintas usia, suku, dan latar belakang yang datang bersama keluarga.

Pantauan di lapangan menunjukkan, keramaian sudah terjadi sejak pagi. Jalanan di sekitar lokasi kirab dipenuhi pengunjung yang berdiri di pinggir jalan, menunggu iring-iringan barongsai melintas. Anak-anak tampak antusias, sebagian bahkan mengenakan pakaian bernuansa merah, sementara orang tua sibuk mengabadikan momen dengan ponsel mereka. Remaja hingga orang dewasa turut larut dalam suasana meriah yang tercipta. Sementara di kawasan depan Klenteng Hok Hien Bio membuka beberapa stand UMKM yang dipadati oleh pengunjung yang hadir.

Sebelumnya dalam rangkaian acara, pada hari Sabtu, 31 Januari 2026 tersususn beberapa acara di Klenteng Hok Hien Bio, mulai dari Penerimaan Kien Sin / Sen Siang dan Kio / Joli, kemudian ada upacara ritual bersama, lelang pusaka Kongco dan Makco hingga acara pelayanan pengobatan, tolak bala dan mohon rejeki dengan Luo Thang dari Tay Seng Bio Jakarta.

Kirab Barongsai dan Ular Naga ini tidak hanya menjadi atraksi budaya, tetapi juga menjadi magnet ekonomi bagi pelaku usaha kecil. Di sepanjang jalur kirab, deretan pedagang kaki lima dan UMKM tampak menjajakan berbagai dagangan. Mulai dari makanan ringan, minuman, hingga mainan dan miniatur barongsai yang menarik perhatian anak-anak. Beberapa pedagang mengaku keramaian ini membawa berkah tersendiri karena jumlah pembeli meningkat dibandingkan hari biasa.

Aktivitas jual beli berlangsung cukup padat. Pengunjung yang datang sejak pagi terlihat silih berganti membeli jajanan sebelum dan sesudah menyaksikan kirab. Kondisi ini menciptakan suasana hidup di sepanjang rute kirab, di mana interaksi antara warga, pedagang, dan peserta kegiatan berlangsung secara alami. Kirab pun tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang pertemuan sosial bagi masyarakat.

Kegiatan kirab sendiri berlangsung dari pagi sekitar jam 9 hingga siang hari. Iring-iringan barongsai dan ular naga bergerak menyusuri jalan-jalan utama, disambut sorak dan tepuk tangan warga. Atraksi yang ditampilkan memperlihatkan kekompakan para pemain, dengan gerakan lincah dan penuh semangat. Tidak sedikit warga yang sengaja mengikuti kirab dari satu titik ke titik lain demi menyaksikan rangkaian pertunjukan secara utuh.

Menariknya, peserta kirab tidak hanya berasal dari Kudus. Sejumlah kelompok barongsai diketahui datang dari berbagai daerah, menjadikan Kudus sebagai pusat perayaan. Hal ini menambah semarak kegiatan sekaligus menunjukkan bahwa perayaan budaya ini memiliki daya tarik lintas wilayah. Kudus pun menjadi titik temu berbagai komunitas yang berkumpul dalam suasana kebersamaan.

Di tengah keramaian, suasana toleransi terasa kental. Warga dari berbagai latar belakang tampak berbaur tanpa sekat. Tidak ada perbedaan mencolok antara penonton maupun peserta kirab. Semua larut dalam kegembiraan yang sama. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa Kudus dikenal sebagai salah satu daerah dengan nilai toleransi yang tinggi antarumat beragama.

Bagi sebagian warga, kehadiran kirab ini bukan hanya soal hiburan, tetapi juga pengalaman budaya. Anak-anak terlihat antusias menyaksikan langsung tradisi yang mungkin sebelumnya hanya mereka lihat melalui media sosial atau televisi. Orang tua pun memanfaatkan momen ini untuk mengenalkan nilai keberagaman dan kebersamaan kepada anak-anak mereka sejak dini.

Selain aspek budaya dan sosial, dampak ekonomi dari kegiatan ini juga cukup terasa. UMKM yang menjajakan dagangannya di sekitar lokasi mengaku mendapat peningkatan omzet. Produk-produk sederhana seperti makanan, minuman, hingga mainan tematik laku dibeli pengunjung. Kehadiran keramaian dalam skala besar ini menjadi contoh bagaimana kegiatan budaya dapat berdampak langsung pada perputaran ekonomi lokal.

Kegiatan kirab Barongsai dan Ular Naga di Kudus juga mencerminkan bagaimana ruang publik dapat dimanfaatkan sebagai sarana ekspresi budaya. Jalanan kota yang biasanya menjadi jalur lalu lintas berubah menjadi panggung kebudayaan. Warga tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi ikut merasakan atmosfer kebersamaan yang tercipta sepanjang kegiatan.

Hingga siang hari, keramaian masih bertahan. Meski cuaca cukup panas, antusiasme warga tidak surut. Sebagian memilih berteduh di pinggir jalan, sementara yang lain tetap setia menunggu hingga kirab selesai. Kondisi ini menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap kegiatan budaya yang bersifat terbuka dan inklusif.

Secara keseluruhan, kirab Barongsai dan Ular Naga di Kudus tidak hanya menjadi perayaan Imlek semata. Kegiatan ini menjelma menjadi ruang pertemuan sosial, penggerak ekonomi rakyat, sekaligus simbol harmoni di tengah keberagaman. Kudus kembali menunjukkan wajahnya sebagai daerah yang mampu merawat tradisi, toleransi, dan kebersamaan dalam satu peristiwa yang dirayakan bersama.

Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Kirab Barongsai dan Ular Naga di Kudus Disambut Antusias, Warga Tumpah Ruah hingga UMKM Bergeliat

https://mediamuria.com/daerah/kudus/menuju-city-sports-tourism-bendungan-logung-jadi-fokus-baru-pengembangan-wisata-kudus/

https://mediamuria.com/daerah/kudus/dari-sampah-ke-energi-kudus-uji-konsistensi-metode-rdf/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *