mediamuria.com, KUDUS – Perayaan Imlek selalu identik dengan berbagai simbol yang sarat makna. Mulai dari lampion merah, angpao, hingga sajian khas yang selalu hadir di meja keluarga. Di antara beragam tradisi tersebut, kue keranjang menjadi salah satu elemen penting yang tak pernah absen. Lebih dari sekadar makanan, kue keranjang menyimpan nilai filosofis yang mencerminkan harapan, kebersamaan, dan doa untuk kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru.
Kue keranjang, yang juga dikenal dengan sebutan nian gao, merupakan salah satu kudapan tradisional berbahan dasar tepung ketan dan gula. Teksturnya yang lengket dan rasanya yang manis bukan tanpa alasan. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa, sifat lengket kue keranjang melambangkan eratnya hubungan keluarga dan keharmonisan antaranggota masyarakat. Sementara rasa manis mencerminkan harapan akan kehidupan yang manis, penuh keberuntungan, dan rezeki yang berlimpah di masa mendatang.
Menjelang Imlek, kue keranjang biasanya disiapkan atau dibeli untuk disajikan di rumah, dibagikan kepada kerabat, serta dijadikan hantaran kepada sanak saudara dan tetangga. Tradisi ini menjadi simbol saling berbagi kebahagiaan sekaligus mempererat tali silaturahmi. Tidak sedikit pula keluarga yang menjadikan momen pembuatan kue keranjang sebagai ajang kebersamaan, di mana seluruh anggota keluarga terlibat dalam prosesnya.
Makna filosofis kue keranjang juga tercermin dari bentuknya yang bulat. Bentuk ini dimaknai sebagai simbol keutuhan, kesempurnaan, dan siklus kehidupan yang terus berputar. Dalam konteks pergantian tahun, kue keranjang menjadi lambang harapan agar kehidupan di tahun yang baru berjalan utuh, seimbang, dan penuh berkah. Nilai-nilai inilah yang membuat kue keranjang tetap lestari dan relevan, meskipun zaman terus berubah.
Di berbagai daerah, termasuk di Jawa Tengah dan Kabupaten Kudus, kue keranjang tidak hanya dikonsumsi oleh masyarakat Tionghoa. Masyarakat lintas budaya turut menikmati sajian ini, bahkan mengolahnya menjadi aneka hidangan khas lokal. Kue keranjang digoreng dengan balutan telur, dijadikan campuran kolak, atau dipadukan dengan kelapa parut. Proses akulturasi ini menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat diterima dan dirayakan bersama oleh berbagai lapisan masyarakat.
Fenomena tersebut juga berdampak positif terhadap sektor ekonomi, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Menjelang Imlek atau saat Imlek, permintaan kue keranjang biasanya meningkat tajam. Banyak UMKM rumahan yang memproduksi kue keranjang dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan pasar. Peningkatan permintaan ini menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku usaha, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu stabil.
Bagi sebagian UMKM, momen Imlek menjadi salah satu periode penting untuk meningkatkan pendapatan. Produksi kue keranjang yang sebelumnya dilakukan dalam skala kecil, meningkat signifikan menjelang perayaan. Hal ini mendorong perputaran ekonomi lokal, mulai dari pemasok bahan baku, tenaga kerja, hingga distribusi produk ke berbagai wilayah. Dengan demikian, tradisi Imlek tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga kontribusi nyata terhadap perekonomian masyarakat.
Selain aspek ekonomi, keberadaan kue keranjang dalam perayaan Imlek juga mengandung pesan toleransi dan kebinekaan. Di banyak lingkungan, kue keranjang kerap dibagikan kepada tetangga tanpa memandang latar belakang budaya atau agama. Tradisi berbagi ini memperkuat rasa kebersamaan dan saling menghormati antarwarga. Kue keranjang menjadi medium sederhana namun bermakna untuk menumbuhkan rasa persaudaraan di tengah keberagaman.
Dalam konteks edukasi budaya, mengenalkan makna kue keranjang kepada generasi muda menjadi hal yang penting. Di tengah arus modernisasi dan gaya hidup instan, pemahaman terhadap nilai-nilai tradisional kerap tergerus. Melalui cerita tentang kue keranjang, generasi muda dapat belajar bahwa sebuah tradisi tidak hanya soal ritual, tetapi juga sarat dengan pesan moral dan filosofi kehidupan. Sebuah tradisi akan selalu dijaga dengan memberikan edukasi pada generasi penerus.
Perayaan Imlek dengan segala simbolnya, termasuk kue keranjang, pada akhirnya mengajarkan tentang harapan dan optimisme. Setiap potong kue keranjang yang disajikan menjadi doa agar tahun yang baru membawa kebaikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Nilai ini bersifat universal dan dapat diterima oleh siapa pun, tanpa batasan budaya.
Di tengah masyarakat yang terus bergerak dinamis, keberadaan kue keranjang menjadi pengingat bahwa tradisi memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara masa lalu dan masa kini. Ia bukan sekadar warisan, tetapi juga identitas yang hidup dan terus berkembang. Selama nilai-nilai kebersamaan, saling menghormati, dan berbagi masih dijaga, kue keranjang akan tetap memiliki tempat istimewa dalam perayaan Imlek dan kehidupan sosial masyarakat.
Dengan demikian, membahas kue keranjang dalam momentum Imlek bukan hanya tentang kuliner, melainkan tentang makna, nilai, dan pesan kebersamaan. Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya dapat menjadi jembatan yang menyatukan perbedaan, memperkuat toleransi, dan menghadirkan harapan baru di setiap awal tahun.
Ditulis oleh : Syam
Jurnalis Media Muria
Baca Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Kue Keranjang dan Maknanya dalam Perayaan Imlek, Simbol Harapan dan Keharmonisan