mediamuria.com, KUDUS – Di tengah tantangan ekonomi yang masih dirasakan pelaku usaha kecil, Pemerintah Kabupaten Kudus menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dan membumi melalui program Mbak Bell Kuliner. Program ini menjadi salah satu upaya konkret dalam mendorong pertumbuhan UMKM kuliner lokal dengan cara yang sederhana namun berdampak, mendatangi langsung pelaku usaha, mengenalkan produknya kepada publik, serta membangun kepercayaan konsumen terhadap kuliner khas daerah.
Mbak Bell Kuliner digagas sebagai bentuk kepedulian terhadap UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Tidak hanya menyasar usaha yang sudah dikenal luas, program ini juga memberi ruang bagi pedagang kecil yang selama bertahun-tahun bertahan dengan pelanggan setia di lingkungan sekitar. Kehadiran program ini membawa pesan bahwa UMKM bukan sekadar pelengkap ekonomi, melainkan bagian penting dari pembangunan daerah.
Dalam pelaksanaannya, Mbak Bell Kuliner hadir dengan konsep sederhana namun efektif. Kunjungan dilakukan langsung ke lapak atau warung UMKM, memperlihatkan proses penyajian makanan, mengenalkan cita rasa khas, serta mengangkat cerita di balik usaha yang dijalankan. Pola ini membuat promosi terasa lebih natural, sekaligus memperkuat kedekatan emosional antara pelaku usaha dan masyarakat.
Sejumlah UMKM kuliner legendaris di Kudus telah merasakan langsung dampak dari program ini. Salah satunya adalah Soto Kudus Karso Karsi, yang dikenal sebagai salah satu ikon kuliner tradisional Kudus. Usaha soto yang telah bertahan puluhan tahun ini kembali mendapat sorotan publik setelah dikunjungi dalam rangkaian Mbak Bell Kuliner. Antusiasme masyarakat meningkat, terutama dari kalangan generasi muda yang mulai mengenal kembali soto Kudus sebagai identitas kuliner daerah. Selain itu Pecel Bu Sarmi juga mendapat kesempatan di datangi, salah satu pecel yang terbilang sudah memiliki konsumen yang cukup banyak dan cukup legendaris di daerah Kelurahan Mlatinorowito Kecamatan Kota, Kudus.
Tak hanya usaha yang sudah mapan, program ini juga menyentuh pedagang kaki lima yang menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut ekonomi rakyat. Nasi uduk Pak Dar misalnya, menjadi salah satu contoh UMKM yang merasakan dampak positif. Nasi uduk sederhana dengan beberapa pilihan lauk dan harga terjangkau ini sebelumnya lebih banyak dikenal oleh pelanggan setempat. Setelah mendapat perhatian melalui Mbak Bell Kuliner, jangkauan konsumennya meluas, termasuk dari luar wilayah Kudus yang sengaja datang untuk mencicipi.
Hal serupa juga dirasakan oleh pelaku usaha kuliner berbahan daging kambing, Sate Kambing H Yadi. Usaha sate kambing yang dikenal dengan bumbu khas dan daging empuk ini mendapatkan peningkatan kunjungan pelanggan. Efek promosi dari Mbak Bell Kuliner mendorong kepercayaan konsumen baru, sekaligus memperkuat citra sate kambing Kudus sebagai salah satu daya tarik kuliner daerah.
Selain peningkatan jumlah pembeli, manfaat lain yang dirasakan UMKM adalah naiknya kepercayaan diri pelaku usaha. Banyak pedagang kecil yang sebelumnya merasa usahanya “biasa saja” kini mulai menyadari nilai produk yang mereka miliki. Dorongan moral ini menjadi penting, karena UMKM tidak hanya membutuhkan modal dan promosi, tetapi juga pengakuan agar terus bertahan dan berkembang.
Program Mbak Bell Kuliner juga berperan sebagai sarana edukasi bagi masyarakat. Lewat pengenalan kuliner lokal, masyarakat diajak untuk lebih menghargai produk daerah sendiri. Di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren kuliner modern, keberadaan program ini menjadi pengingat bahwa kuliner tradisional memiliki cita rasa, sejarah, dan nilai budaya yang tidak kalah menarik.
Dari sisi ekonomi, dampak yang dirasakan UMKM cukup signifikan. Beberapa pelaku usaha mengaku mengalami peningkatan omzet harian setelah usahanya dikenal lebih luas. Kenaikan ini tidak selalu drastis, namun cukup stabil dan berkelanjutan. Bagi UMKM skala kecil, peningkatan tersebut sangat berarti untuk menjaga arus kas, membeli bahan baku yang lebih baik, hingga membuka peluang penambahan tenaga kerja.
Lebih jauh, Mbak Bell Kuliner turut mendorong terciptanya ekosistem UMKM yang saling mendukung. Ketika satu usaha mendapat sorotan, efeknya sering kali merembet ke pelaku usaha lain di sekitarnya. Kawasan kuliner menjadi lebih ramai, roda ekonomi bergerak, dan interaksi sosial masyarakat ikut tumbuh. Ini menunjukkan bahwa pengembangan UMKM tidak bisa berdiri sendiri, melainkan perlu pendekatan kawasan dan komunitas.
Pendekatan lapangan yang dilakukan dalam Mbak Bell Kuliner juga memberi gambaran nyata kondisi UMKM di Kudus. Mulai dari keterbatasan tempat usaha, tantangan bahan baku, hingga kebutuhan promosi yang lebih luas. Informasi ini menjadi modal penting bagi pemerintah daerah untuk merumuskan kebijakan lanjutan yang lebih tepat sasaran, baik dalam bentuk pendampingan, pelatihan, maupun akses permodalan.
Di tengah upaya digitalisasi UMKM, Mbak Bell Kuliner menjadi jembatan antara promosi modern dan kearifan lokal. Kehadiran di media sosial dan pemberitaan membuat usaha kecil yang sebelumnya bersifat lokal menjadi dikenal lintas wilayah. Ini membuka peluang UMKM untuk berkembang tanpa harus kehilangan identitas asli mereka.
Secara keseluruhan, Mbak Bell Kuliner bukan sekadar program kunjungan kuliner, melainkan strategi pemberdayaan ekonomi rakyat yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan pelaku UMKM. Dengan mengangkat usaha lokal seperti Soto Kudus Karso Karsi, Pecel Bu Sarmi, Sate Kambing H Yadi, dan berbagai UMKM lainnya, program ini menegaskan bahwa kemajuan daerah dapat dimulai dari warung sederhana, dapur kecil, dan tangan-tangan pekerja keras masyarakat.
Ke depan, konsistensi menjadi kunci keberhasilan Mbak Bell Kuliner. Selama program ini terus berjalan dan menjangkau lebih banyak UMKM, dampaknya diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat identitas Kudus sebagai daerah yang kaya kuliner, kuat secara ekonomi, dan berpihak pada usaha rakyat.
Ditulis oleh : Syam
Jurnalis Media Muria
Baca Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Mbak Bell Kuliner, Langkah Nyata Dorong UMKM Kuliner Kudus Naik Kelas