Melalui Keputusan Bupati, “Kudus Kota Kretek” Jadi Citra Resmi Kabupaten Kudus

mediamuria.com Kudus – Hello sobat media muria, baru-baru ini Bupati Kudus Sam’ani Intakoris telah menetapkan “Kudus Kota Kretek” sebagai citra resmi Kabupaten Kudus, keputusan ini berdasarkan dari Keputusan Bupati Kudus Nomor 400.6/311/2025. Penetapan ini bukan sembarang slogan, tetapi sebuah identitas budaya yang memiliki sejarah panjang, nilai ekonomi besar, dan keterkaitan erat dengan kehidupan sosial masyarakat Kudus. Keputusan ini diteapkan pada 12 November 2025.

Lalu apa Itu “Kudus Kota Kretek”?

Kretek sendiri merupakan budaya takbenda Kudus. Kretek ditetapkan sebagai objek pemajuan budaya takbenda dan dianggap bagian dari hak atas kekayaan intelektual (HAKI) Kabupaten Kudus.

Kretek diusulkan menjadi warisan budaya takbenda yang secara resmi mewakili Kudus. Yang artinya, pemerintah daerah ingin melestarikan kretek bukan hanya sebagai produk industri, tetapi bagian dari budaya dan identitas sejarah masyarakat Kudus.

Selain itu kaitan kretek dengan budaya santri Kudus juga menjadi bagian keputusan tersebut. Dalam konsep Gusjigang, yaitu petuah Sunan Kudus

“Bagus perangai, pinter ngaji, lan pinter dagang.”

Nilai ini ternyata dinilai nyambung dengan dunia kretek yaitu:

  • Banyak pedagang tembakau dan kretek tradisional berasal dari Kudus Kulon, wilayah yang lebih religius dan merupakan pusat komunitas santri.
  • Sejak dulu santri Kudus terkenal sebagai perantau dan pedagang, sehingga perkembangan industri kretek ikut lahir dari tradisi dagang tersebut.

Dengan kata lain, kretek adalah bagian dari identitas keislaman dan kultural masyarakat Kudus.

Sebutan “Kota Kretek” sendiri sudah ada sejak tahun 1938, jauh sebelum ditetapkan secara resmi oleh pemerintah sekarang. Majalah populer era Hindia Belanda, Pandji Poestaka, sudah menulis Kudus sebagai “Kota Kretek”.

Fakta sejarah ini menguatkan bahwa citra tersebut memang telah melekat sejak lama. Selain itu, Kudus adalah tempat lahirnya kretek modern, termasuk berdirinya perusahaan-perusahaan rokok legendaris seperti:

  • Nitisemito (pionir kretek)
  • Pabrik rokok Sukun
  • Pabrik rokok Djarum
  • Pabrik rokok Nojorono
  • dan lainnya.

Kudus adalah pusat kretek tertua dan terbesar di Indonesia.

Industri kretek di Kudus tumbuh sangat pesat. Menjadi sumber ekonomi besar dan memberi multiplier effect ke:

  • Pertanian (tembakau, cengkih)
  • UMKM
  • Tenaga kerja lokal
  • Pariwisata sejarah

Nama “kretek” sendiri berasal dari bunyi cengkih terbakar pada rokok kretek. Kretek tidak hanya dipandang sebagai produk rokok, tetapi warisan budaya takbenda, identitas ekonomi, dan bagian dari perjalanan sejarah Kudus.

Beberapa citra / julukan lama Kabupaten Kudus

Sebelunya Kudus The Taste of Java sejak 28 September 2018 menjadi citra Kabupaten Kudus, Kudus resmi memakai logo dan slogan ini sebagai city-branding. Logo menampilkan gambar “sayap kupu-kupu” plus ikon “Menara Kudus”. Sayap kupu-kupu melambangkan daun tembakau, melambangkan identitas kretek-nya Kudus.

Selain itu ada beberapa citra lainya:

  • Kudus Kota Semarak – Julukan lama yang merupakan akronim dari: Sehat, Elok, Maju, Aman, Rapi, Asri, dan Konstitusional. Julukan ini dipakai sebagai slogan untuk menggambarkan aspek ketertiban, kemajuan, dan kenyamanan kota.
  • Kudus Kota Santri – Karena sejarah religius dan kentalnya tradisi Islam di Kudus. Kudus dikenal sebagai pusat penyebaran Islam pada masa lalu, berkaitan dengan tokoh seperti Sunan Kudus dan keberadaan ikon religius seperti Masjid Menara Kudus.

Mengapa Banyak Citra/slogan?

Alasan mengapa ada banyak julukan / slogan untuk Kudus:

  • Kudus punya sejarah religius – Penyebaran Islam serta keberadaan tokoh dan situs religius yamh mendasari julukan “Kota Santri”, “Jerusalem van Java”.
  • Kudus juga sejak lama dikenal sebagai pusat industri rokok kretek sehingga menjadikannya “Kota Kretek”.
  • Ada upaya untuk membangun citra modern sebagai kota dengan potensi pariwisata, budaya, komersial seperti membuat slogan seperti “Taste of Java”, “Kota Semarak”, dan usulan “Kota Empat Negeri”.
  • Dinamika sosial dan sejarah, komposisi masyarakat yang plural (Jawa, Arab, Tionghoa, kolonial), budaya campuran, produk lokal, sejarah perdagangan, dan industri semuanya berkontribusi pada identitas plural Kudus.

Keuntungan Penetapan “Kudus Kota Kretek” sebagai Citra Kabupaten Kudus

  1. Memiliki Identitas Daerah yang Jelas dan Konsisten

Dengan ditetapkan secara hukum, Kudus kini punya brand identity yang kuat, tidak lagi abu-abu atau berubah-ubah. Keuntungan utamanya:

  • Memperkuat kebanggaan lokal (local pride).
  • Menyatukan citra daerah yang selama ini tersebar: Kota Santri, The Taste of Java, Kudus Semarak, dll.
  • Membedakan Kudus secara nasional, terutama karena kretek adalah warisan budaya yang sangat khas Indonesia.
  • Melindungi Kretek sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb)

Keputusan itu menegaskan bahwa:

  • Kretek adalah objek pemajuan kebudayaan
  • Kretek merupakan hak kekayaan intelektual (HKI) Kudus

Keuntungannya:

  • Memberi dasar hukum untuk perlindungan budaya dari klaim pihak lain.
  • Bisa dipakai untuk mengusulkan kretek ke UNESCO sebagai WBTb level internasional.
  • Mengamankan sejarah kretek agar tidak hilang karena modernisasi atau regulasi industri.
  • Pemerintah bisa lebih mudah membuat program pelestarian seperti museum, festival, kajian budaya, dll.
  • Mendorong Industri Kretek dan Ekonomi Lokal

Brand “Kota Kretek” otomatis menyentuh sektor ekonomi karena Kudus adalah pusat industri kretek sejak era Mbah Djamhari.

Dampaknya:

  • Menguatkan posisi Kudus sebagai daerah industri berbasis tembakau.
  • Memudahkan promosi investasi (investor langsung tahu apa “brand value” Kudus).
  • Menumbuhkan multiplier effect:
  • UMKM kemasan, makanan, cendera mata bertema kretek
  • Wisata sejarah industri
  • Lapangan kerja lokal
  • Event ekonomi kreatif
  • Branding yang kuat yang menjadikan ekonomi daerah ikut naik.
  • Mengembangkan Wisata Budaya dan Edukasi

Citra resmi ini membuka potensi:

  • Wisata sejarah kretek seperti museum, tur pabrik, jejak Mbah Djamhari, sentra tembakau, desa wisata.
  • Wisata “heritage” Kudus Kulon yang lekat dengan pedagang tembakau dan santri.
  • Kolaborasi sekolah, pesantren, dan UMKM untuk edukasi sejarah kretek.
  • Festival budaya nasional yang menjadikan Kudus sebagai pusat perayaan kretek.

Semakin kuat branding, semakin mudah membuat paket wisata yang terarah.

  • Memperkuat Nilai Budaya Gusjigang

Faktor Gusjigang (bagus perangai, pinter ngaji, pinter dagang) menjadi narasi penting. Dengan branding “Kota Kretek”, nilai itu mendapatkan manfaat:

  • Kretek dapat diposisikan sebagai simbol etos kerja Kudus.
  • Mengaitkan sejarah santri, perdagangan, dan tumbuhnya industri kretek.
  • Menjadikan narasi budaya lokal lebih bertahan dan relevan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *