mediamuria.com, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus kembali menghadirkan ruang partisipasi budaya yang terbuka bagi masyarakat luas. Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-477 Kota Kudus tahun 2026, Festival Tari Lajur Caping Kalo resmi digelar dengan target ambisius: mencatatkan sejarah melalui Rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Festival ini bukan sekadar ajang perlombaan atau pertunjukan seni. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi undangan terbuka bagi masyarakat Kudus—pelajar, sanggar seni, komunitas budaya, hingga peserta umum—untuk terlibat langsung dalam upaya pelestarian warisan budaya lokal. Melalui gerak tari yang sarat makna dan simbol tradisi, Kudus ingin menunjukkan kepada Indonesia bahwa budaya daerah tetap hidup, tumbuh, dan relevan dengan zaman.
Ajakan Terbuka untuk Berpartisipasi
Berbeda dengan banyak agenda seremonial, Festival Tari Lajur Caping Kalo dirancang sebagai kegiatan partisipatif. Siapa pun yang memenuhi ketentuan dapat mendaftar dan ikut ambil bagian. Panitia membuka tiga kategori peserta, yakni tingkat SMP/sederajat, SMA/sederajat, serta kategori umum. Pembagian kategori ini menjadi bukti bahwa festival ini inklusif dan memberi kesempatan luas bagi berbagai kalangan.
Pendaftaran dibuka mulai 25 Februari hingga 13 Maret 2026 secara daring. Dengan sistem pendaftaran online, masyarakat dari berbagai wilayah di Kudus dan sekitarnya dapat mengakses informasi serta mengikuti seleksi tanpa hambatan geografis. Hal ini sekaligus mencerminkan komitmen pemerintah daerah untuk memanfaatkan teknologi demi memperluas jangkauan pelestarian budaya.
Lebih dari sekadar ikut menari, partisipasi dalam festival ini berarti turut menuliskan sejarah. Target Rekor MURI menjadikan setiap peserta sebagai bagian penting dari pencapaian kolektif. Nama-nama yang terlibat akan tercatat sebagai generasi yang ikut menjaga dan mengangkat seni tradisi Kudus ke tingkat nasional.
Menjadi Bagian dari Sejarah Rekor MURI
Upaya menuju Rekor MURI bukanlah tujuan semata-mata untuk pencapaian angka atau prestise. Lebih jauh, langkah ini dimaknai sebagai strategi memperkuat identitas budaya Kudus di tengah arus globalisasi. Ketika budaya lokal diberi panggung nasional, maka kebanggaan daerah akan tumbuh dan diwariskan lintas generasi.
Festival Tari Lajur Caping Kalo dipilih karena memiliki nilai historis dan filosofi yang kuat. Gerakannya merepresentasikan kehidupan masyarakat agraris, kerja keras, kebersamaan, serta harmoni manusia dengan alam. Caping kalo yang menjadi elemen utama tari ini bukan sekadar properti, melainkan simbol kearifan lokal yang telah hidup lama di tengah masyarakat Kudus.
Melalui Rekor MURI, tarian ini diharapkan tak hanya dikenal oleh warga lokal, tetapi juga mendapat perhatian nasional bahkan internasional. Setiap peserta festival menjadi duta budaya yang membawa cerita Kudus melalui bahasa tubuh dan irama tradisi.
Dukungan Pemerintah Daerah
Penyelenggaraan festival ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Kudus. Dukungan tersebut tercermin dari keterlibatan lintas sektor, mulai dari fasilitasi teknis, penyediaan ruang publik, hingga promosi melalui berbagai kanal informasi resmi.
Pemerintah daerah menilai bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan dokumentasi atau wacana. Budaya harus dihidupkan melalui keterlibatan langsung masyarakat. Oleh karena itu, festival ini dirancang sebagai ruang ekspresi sekaligus edukasi, terutama bagi generasi muda agar lebih mengenal dan mencintai budaya daerahnya sendiri.
Tak hanya itu, panitia juga menyiapkan apresiasi berupa piala dan piagam dari Bupati Kudus serta uang pembinaan bagi para pemenang. Apresiasi ini diharapkan dapat memotivasi peserta untuk berlatih lebih serius dan menampilkan karya terbaik, tanpa menghilangkan esensi kebersamaan dalam festival.
Rangkaian Agenda yang Terencana
Festival Tari Lajur Caping Kalo memiliki rangkaian agenda yang jelas dan terstruktur. Setelah masa pendaftaran, peserta akan mengikuti temu teknik atau technical meeting secara daring untuk memastikan keseragaman pemahaman teknis. Selanjutnya, peserta mengumpulkan video seleksi yang akan dinilai oleh tim juri profesional.
Pengumuman finalis dijadwalkan pada Mei 2026 melalui kanal resmi media sosial Disbudpar Kudus. Finalis terpilih kemudian akan mengikuti temu teknik final sebelum tampil dalam puncak acara yang digelar di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.
Pemilihan lokasi tersebut bukan tanpa alasan. Alun-alun Simpang Tujuh merupakan ikon ruang publik Kudus yang sarat nilai historis dan sosial. Menjadikannya sebagai panggung utama festival memperkuat pesan bahwa budaya adalah milik bersama, hadir di ruang publik, dan dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Menguatkan Identitas dan Pariwisata Budaya
Selain berorientasi pada pelestarian budaya, festival ini juga diharapkan berdampak positif bagi sektor pariwisata. Ketika ribuan penari tampil serempak, perhatian publik akan tertuju pada Kudus. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan potensi wisata, kuliner, dan ekonomi kreatif daerah.
Festival Tari Lajur Caping Kalo menjadi contoh bagaimana seni tradisi dapat bersinergi dengan pengembangan daerah. Budaya tidak lagi diposisikan sebagai beban masa lalu, melainkan sebagai modal sosial dan kultural untuk membangun masa depan.
Ajakan untuk Generasi Muda
Panitia dan pemerintah daerah secara khusus mengajak generasi muda untuk tidak ragu ikut berpartisipasi. Keterlibatan pelajar dan pemuda menjadi kunci keberlanjutan budaya. Dengan terjun langsung ke panggung festival, generasi muda tidak hanya belajar menari, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Festival ini menjadi ruang belajar yang menyenangkan, membangun kepercayaan diri, serta memperluas jejaring antar komunitas seni. Lebih dari itu, pengalaman menjadi bagian dari Rekor MURI akan menjadi cerita berharga yang dapat dikenang sepanjang hayat.
Menjadi Bagian dari Gerakan Budaya Nasional
Pencatatan Rekor MURI melalui festival ini sekaligus menempatkan Kudus dalam peta gerakan budaya nasional. Museum Rekor-Dunia Indonesia selama ini dikenal sebagai lembaga yang mendokumentasikan pencapaian luar biasa anak bangsa. Masuknya Festival Tari Lajur Caping Kalo dalam catatan MURI akan memperkuat posisi Kudus sebagai daerah yang serius menjaga dan mengembangkan budayanya.
Oleh karena itu, partisipasi masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan. Semakin banyak yang terlibat, semakin kuat pesan yang disampaikan: budaya lokal hidup karena didukung oleh warganya sendiri.
Penutup: Ayo Ambil Bagian
Festival Tari Lajur Caping Kalo bukan hanya milik pemerintah atau komunitas seni tertentu. Festival ini adalah milik masyarakat Kudus. Setiap langkah tari, setiap gerakan caping, dan setiap peserta adalah bagian dari cerita besar yang sedang ditulis bersama.
Kini saatnya masyarakat Kudus mengambil peran. Bukan sekadar menonton, tetapi turut hadir, berpartisipasi, dan menjadi bagian dari sejarah menuju Rekor MURI. Dari Kudus untuk Indonesia, budaya lokal kembali bersuara, mengajak semua untuk bangga dan terlibat.


Ditulis oleh : Syam
Jurnalis Media Muria
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Menuju Rekor MURI, Festival Tari Lajur Caping Kalo Ajak Masyarakat Kudus Jadi Bagian Sejarah Budaya