Oknum Suporter Lakukan Aksi Rasis, Persiku Kudus Didenda dan Dilarang Gelar Satu Laga Kandang Tanpa Penonton

mediamuria.com, KUDUS – Komisi Disiplin (Komdis) PSSI resmi menjatuhkan sanksi kepada Persiku Kudus menyusul terjadinya tindakan rasis yang dilakukan oleh oknum suporter saat laga kandang melawan Persipura Jayapura dalam lanjutan Pegadaian Championship musim 2025/2026 di Stadion Wergu Wetan, Kudus.
Berdasarkan hasil sidang Komdis PSSI tertanggal 30 Januari 2026, Persiku Kudus dinyatakan melanggar Kode Disiplin PSSI Tahun 2025. Pelanggaran tersebut terjadi karena adanya tindakan diskriminatif berupa ujaran atau nyanyian bernada rasis yang ditujukan kepada tim Persipura Jayapura saat pertandingan berlangsung.

Dalam amar keputusan yang dipublikasikan, Komdis menjatuhkan sanksi berupa larangan menyelenggarakan satu pertandingan kandang dengan penonton sejak keputusan diterbitkan dan berlaku pada pertandingan terdekat. Selain itu, Persiku Kudus juga dikenai denda sebesar Rp250 juta. Komdis turut menegaskan bahwa pengulangan pelanggaran serupa dapat berujung pada hukuman yang lebih berat.

Keputusan tersebut menjadi konsekuensi atas insiden yang mencoreng jalannya pertandingan. Laga yang semestinya menjadi ajang kompetisi sehat justru ternoda oleh tindakan tidak terpuji dari oknum yang tidak bertanggung jawab. Meski tindakan dilakukan oleh oknum di tribun, regulasi disiplin PSSI menempatkan tanggung jawab penyelenggaraan dan perilaku suporter berada pada klub tuan rumah.

Sanksi larangan satu kali laga kandang tanpa penonton menjadi kerugian tersendiri bagi Persiku. Selain kehilangan dukungan langsung dari suporter di stadion, klub juga berpotensi mengalami dampak dari sisi atmosfer pertandingan dan pemasukan tiket. Stadion Wergu Wetan yang biasanya dipenuhi dukungan publik dipastikan akan terasa berbeda pada laga kandang terdekat.

Menanggapi keputusan tersebut, manajemen Persiku Kudus menyatakan menerima dan menghormati hasil sidang Komdis PSSI. Pernyataan resmi itu disampaikan melalui kanal komunikasi klub, termasuk media sosial resmi Persiku. Tak hanya manajemen, jajaran ofisial dan para pemain Persiku Kudus juga menyampaikan permintaan maaf secara terbuka melalui unggahan di laman media sosial resmi klub. Permintaan maaf tersebut ditujukan kepada Persipura Jayapura, perangkat pertandingan, PSSI, serta masyarakat sepak bola Indonesia atas terjadinya insiden rasis dalam laga kandang tersebut.

Dalam unggahan itu, Persiku menegaskan bahwa tindakan rasis tidak mencerminkan nilai yang dijunjung oleh klub. Persiku juga menyatakan komitmen untuk melakukan evaluasi dan pembenahan agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari. Sikap tersebut disebut sebagai bentuk tanggung jawab moral dan profesional klub terhadap kompetisi serta publik sepak bola nasional.

Langkah penyampaian permintaan maaf secara terbuka ini menjadi bagian dari respons resmi klub atas sanksi yang dijatuhkan. Sebagai peserta kompetisi profesional, Persiku berada dalam kerangka regulasi yang mewajibkan klub menjaga keamanan, ketertiban, serta perilaku suporter selama pertandingan berlangsung.

Kasus ini kembali menegaskan bahwa isu rasisme dan diskriminasi masih menjadi tantangan dalam dunia sepak bola. Federasi melalui perangkat disiplin menunjukkan komitmen untuk menindak tegas setiap pelanggaran yang berkaitan dengan tindakan diskriminatif, sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Kode Disiplin PSSI.

Sepak bola Indonesia dalam beberapa musim terakhir terus berupaya memperkuat regulasi dan pengawasan demi menciptakan kompetisi yang aman dan inklusif. Penegakan disiplin terhadap tindakan rasis merupakan bagian dari upaya tersebut. Sanksi yang dijatuhkan kepada Persiku Kudus menjadi contoh bahwa setiap pelanggaran, meski dilakukan oleh oknum di tribun, tetap memiliki konsekuensi bagi klub.

Di sisi lain, peristiwa ini menjadi momentum evaluasi bagi seluruh elemen suporter. Dukungan terhadap tim merupakan bagian penting dalam sepak bola, namun harus disampaikan dalam koridor sportivitas dan penghormatan terhadap sesama. Tindakan yang bersifat diskriminatif tidak hanya merugikan klub secara finansial dan administratif, tetapi juga mencoreng citra komunitas suporter itu sendiri.

Bagi Persiku Kudus, fokus kini tertuju pada pembenahan internal serta persiapan menghadapi pertandingan berikutnya. Tanpa kehadiran penonton dalam satu laga kandang, tim dituntut tetap menjaga konsentrasi dan performa di lapangan. Dukungan moral dari masyarakat tetap diharapkan, meski tidak hadir langsung di stadion pada pertandingan yang terkena sanksi.

Ke depan, implementasi langkah preventif menjadi krusial. Koordinasi antara klub, panitia pelaksana, aparat keamanan, serta komunitas suporter diharapkan semakin diperkuat. Edukasi dan sosialisasi mengenai bahaya serta konsekuensi tindakan rasis juga menjadi bagian penting dalam membangun budaya sepak bola yang sehat.

Peristiwa dalam laga Persiku Kudus kontra Persipura Jayapura menjadi pengingat bahwa satu tindakan oknum dapat berdampak luas. Sanksi denda Rp250 juta dan larangan satu kali laga kandang tanpa penonton adalah konsekuensi nyata yang harus dijalani klub.

Dengan adanya keputusan Komdis dan respons resmi berupa permintaan maaf dari manajemen, ofisial, dan pemain, Persiku Kudus menyatakan komitmennya untuk berbenah. Sepak bola sebagai olahraga pemersatu diharapkan tetap menjadi ruang yang menghargai keberagaman dan menjunjung tinggi nilai sportivitas di setiap pertandingan.

Ditulis oleh : Syam

Jurnalis Media Muria

Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Oknum Suporter Lakukan Aksi Rasis, Persiku Kudus Didenda dan Dilarang Gelar Satu Laga Kandang Tanpa Penonton

https://mediamuria.com/daerah/kudus/gerakan-bersih-sampah-di-kudus-respons-daerah-atas-perhatian-nasional-terhadap-krisis-lingkungan/

https://mediamuria.com/daerah/kudus/hangat-di-tengah-hujan-bakso-kombor-jadi-favorit-warga-kudus/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *