mediamuria.com, KUDUS – Suasana Ramadan di Kabupaten Kudus terasa semakin hidup menjelang waktu berbuka puasa. Salah satu titik yang selalu dipadati warga adalah Pasar Ramadan Demaan Kudus, yang setiap sore kian ramai oleh pengunjung dari berbagai kalangan. Dari anak-anak, remaja, hingga orang tua, semua larut dalam hiruk-pikuk berburu takjil untuk menu berbuka puasa.
Sejak sore hari, deretan lapak pedagang sudah mulai dipadati pembeli. Aroma makanan menggoda bercampur dengan suara tawar-menawar menciptakan suasana khas Ramadan yang sulit ditemukan di hari-hari biasa. Menariknya, semakin mendekati waktu magrib, jumlah pengunjung justru semakin membludak. Jalanan di sekitar pasar pun tampak padat, menandakan tingginya antusiasme masyarakat.
Beragam pilihan makanan tersaji di pasar Ramadan ini. Mulai dari menu manis seperti aneka kue basah, es buah, es campur, hingga es teler, sampai makanan asin dan gurih seperti gorengan, sate usus, tahu bakso, siomay, serta berbagai lauk siap santap. Tak hanya cemilan ringan, tersedia pula makanan berat seperti nasi ayam, lontong, sate yang siap menjadi menu utama saat berbuka.
Salah satu daya tarik utama Pasar Ramadan Demaan tahun ini adalah kehadiran jajanan viral yang ramai diperbincangkan di media sosial. Mochi aneka rasa menjadi salah satu primadona yang paling diburu pembeli. Tak jarang, sebelum waktu berbuka tiba, mochi sudah habis terjual. Fenomena ini memunculkan istilah “war takjil”, di mana pembeli harus bergerak cepat agar tidak kehabisan jajanan favorit mereka.
Selain mochi, es teler juga menjadi incaran banyak pengunjung. Perpaduan buah segar, santan, dan es serut terasa pas untuk melepas dahaga setelah seharian berpuasa. Beberapa lapak bahkan terlihat dipadati antrean panjang, menandakan betapa tingginya minat masyarakat terhadap minuman segar tersebut.
Salah satu pedagang takjil mengaku sangat senang dengan adanya Pasar Ramadan Demaan. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga membawa dampak nyata bagi perekonomian warga. Dalam sehari, omzet penjualan bisa meningkat signifikan dibanding hari biasa. Ramadan menjadi momen yang sangat dinantikan oleh para pelaku usaha kecil.
“Acara seperti ini sangat membantu kami sebagai pedagang kecil. Selain menambah penghasilan, juga memberi kesempatan UMKM untuk berkembang dan dikenal lebih luas,” ujarnya. Ia berharap kegiatan pasar Ramadan seperti ini bisa terus dilestarikan dan dikelola dengan baik setiap tahunnya.
Pasar Ramadan Demaan memang menjadi ruang bagi tumbuhnya UMKM lokal. Banyak pedagang merupakan warga sekitar yang memanfaatkan momen Ramadan untuk membuka usaha musiman. Dari yang sebelumnya hanya berjualan di rumah, kini bisa menjajakan produk mereka langsung kepada masyarakat luas. Hal ini secara tidak langsung mendorong perputaran ekonomi di tingkat lokal.
Di sisi pembeli, antusiasme juga tak kalah besar. Ardi, salah satu pengunjung, mengaku sengaja datang ke Pasar Ramadan Demaan untuk mencoba “war mochi” yang sedang viral. Ia datang lebih awal agar bisa mendapatkan jajanan tersebut. Namun sayangnya, saat tiba di lapak yang dituju, mochi sudah ludes terjual.
“Saya ke sini memang niatnya mau beli mochi. Ternyata sudah habis, tapi nggak apa-apa, mungkin besok datang lebih awal lagi,” ujar Ardi sambil tersenyum. Meski tak kebagian mochi, ia tetap membeli es teler dan beberapa gorengan untuk menu berbuka.
Fenomena seperti yang dialami Ardi justru menjadi cerita menarik tersendiri di Pasar Ramadan. Kegagalan mendapatkan jajanan incaran tak membuat pengunjung kecewa, melainkan menjadi bagian dari pengalaman Ramadan yang menyenangkan. Banyak pengunjung yang menganggap berburu takjil sebagai hiburan ringan sebelum berbuka.
Selain makanan, Pasar Ramadan Demaan juga menjadi ajang silaturahmi warga. Banyak orang yang datang bukan semata-mata untuk berbelanja, tetapi juga untuk bertemu teman, tetangga, atau sekadar menikmati suasana sore Ramadan. Anak-anak tampak antusias memilih jajanan, sementara orang tua sibuk menentukan menu berbuka untuk keluarga di rumah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar Ramadan bukan hanya soal transaksi jual beli, tetapi juga memiliki fungsi sosial yang kuat. Ia menjadi ruang publik sementara yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.
Meski ramai, sebagian pengunjung berharap pengelolaan pasar bisa terus ditingkatkan, terutama terkait kenyamanan dan kelancaran akses. Penataan lapak, pengaturan parkir, dan kebersihan menjadi hal penting agar Pasar Ramadan Demaan tetap nyaman dikunjungi hingga akhir bulan puasa.
Secara keseluruhan, Pasar Ramadan Demaan Kudus menjadi cerminan semarak Ramadan di tengah masyarakat. Makin sore makin ramai, makin mendekati magrib makin terasa denyut kebersamaan. Dari war takjil, jajanan viral, hingga senyum pedagang dan pembeli, semuanya berpadu menjadi potret Ramadan yang hangat dan penuh makna.
Dengan tingginya antusiasme warga dan dampak positif bagi UMKM, Pasar Ramadan Demaan diharapkan terus menjadi agenda tahunan yang dinanti. Tak hanya sebagai tempat berburu menu berbuka, tetapi juga sebagai simbol hidupnya ekonomi rakyat dan kuatnya tradisi Ramadan di Kabupaten Kudus.
Ditulis oleh : Syam
Jurnalis Media Muria
Baca Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Pasar Ramadan Demaan Kudus Makin Sore Makin Ramai, War Takjil Jadi Daya Tarik Warga