Persiku Kudus Pilih Stadion Sriwedari sebagai Kandang Sementara, Faktor Penerangan dan Sanksi Jadi Pertimbangan

mediamuria.com, KUDUS – Manajemen Persiku Kudus mengambil keputusan strategis dengan menjadikan Stadion Sriwedari sebagai kandang sementara selama bulan Ramadan dalam lanjutan kompetisi Pegadaian Championship 2025/26. Keputusan ini bukan semata-mata karena memasuki bulan Ramadan, melainkan didasari sejumlah pertimbangan teknis dan regulasi yang dinilai krusial demi kelancaran pertandingan.

Pemilihan Sriwedari sebagai home base alternatif dilakukan setelah evaluasi menyeluruh terhadap kesiapan stadion kebanggaan Kudus, Stadion Wergu Wetan. Salah satu faktor utama yang menjadi sorotan adalah keterbatasan sistem penerangan stadion tersebut, terutama untuk menggelar pertandingan pada malam hari.

Dalam regulasi kompetisi musim ini, setiap stadion yang digunakan untuk laga malam diwajibkan memiliki tingkat pencahayaan minimal 1.200 lux, sementara untuk pertandingan sore hari ditetapkan standar minimal 800 lux. Berdasarkan hasil penilaian teknis, penerangan di Stadion Wergu Wetan dinilai belum sepenuhnya memenuhi ketentuan tersebut, sehingga berpotensi mengganggu kualitas pertandingan sekaligus aspek keselamatan pemain dan ofisial.

Kondisi inilah yang membuat Persiku Kudus memilih opsi paling realistis dengan memindahkan laga kandang ke stadion yang sudah memenuhi standar, alih-alih melakukan perbaikan secara terburu-buru. Manajemen menilai bahwa melakukan peningkatan penerangan membutuhkan waktu, perencanaan matang, serta anggaran yang tidak sedikit. Jika dipaksakan dalam waktu singkat, hasilnya justru berisiko tidak maksimal dan berujung pada masalah baru.

Selain persoalan teknis stadion, faktor lain yang turut memengaruhi keputusan ini adalah sanksi larangan pertandingan tanpa penonton yang tengah dijalani Persiku Kudus. Hukuman tersebut membuat laga kandang tidak bisa dihadiri suporter, sehingga manajemen memilih stadion yang lebih siap secara infrastruktur agar fokus tim tetap terjaga meskipun bermain tanpa dukungan langsung di tribun.

Dalam situasi tersebut, Stadion Sriwedari dianggap sebagai pilihan ideal. Stadion yang berada di Kota Surakarta itu memiliki kualitas pencahayaan yang memadai, kondisi lapangan yang terawat, serta fasilitas pendukung yang sudah terbiasa digunakan untuk pertandingan level nasional. Faktor aksesibilitas dan pengalaman menggelar laga malam juga menjadi nilai tambah tersendiri.

Laga melawan Persela Lamongan pada 21 Februari 2026 dipastikan menjadi pertandingan kandang Persiku Kudus di Stadion Sriwedari. Pertandingan ini sekaligus menandai dimulainya rangkaian laga Persiku selama bulan Ramadan yang tidak digelar di Kudus. Meski berstatus kandang, atmosfer pertandingan tentu akan berbeda karena tidak dimainkan di stadion utama dan tanpa kehadiran penonton.

Namun demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan ambisi Persiku Kudus. Tim tetap menargetkan hasil maksimal sebagai bagian dari upaya menjaga posisi aman di klasemen serta memperkuat mental bertanding pemain di tengah keterbatasan. Bermain di stadion netral dengan fasilitas memadai justru dinilai dapat membantu pemain lebih fokus pada permainan.

Menariknya, Persiku Kudus bukan satu-satunya tim yang menjadikan Stadion Sriwedari sebagai kandang sementara selama Ramadan. Persipal Palu juga memilih stadion yang sama untuk menggelar laga kandang mereka. Hampir mirip Persiku Kudus masalah utamanya adalah kondisi penerangan yang kurang mumpuni. Kondisi ini menciptakan dinamika tersendiri dalam kompetisi, terutama karena beberapa tim harus berbagi jadwal dan menyesuaikan waktu pertandingan.

Salah satu laga yang cukup menyita perhatian adalah pertemuan antara Persiku Kudus dan Persipal Palu yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Februari 2026 di Stadion Sriwedari. Pertandingan ini terbilang unik karena meskipun Persipal berstatus sebagai tuan rumah, lokasi pertandingan justru lebih dekat bagi Persiku Kudus dibandingkan jika laga digelar di Palu.

Dari sisi jarak tempuh dan adaptasi perjalanan, kondisi ini dapat menjadi keuntungan tersendiri bagi Persiku Kudus. Tim tidak perlu menempuh perjalanan jauh ke luar Pulau Jawa, sehingga waktu pemulihan pemain bisa lebih optimal. Faktor ini dinilai penting, terutama di bulan Ramadan ketika kondisi fisik pemain perlu dijaga dengan ekstra hati-hati.

Selain itu, meskipun Persiku Kudus sedang menjalani sanksi tanpa penonton untuk laga kandang yaitu satu kali pertandingan, pertandingan melawan Persipal Palu membuka peluang bagi pendukung Persiku untuk hadir memberikan dukungan secara langsung. Karena laga tersebut berstatus tandang, kehadiran suporter tidak termasuk dalam pembatasan sanksi yang dijatuhkan kepada Persiku Kudus.

Situasi ini secara tidak langsung dapat menambah motivasi pemain. Dukungan dari tribun, meskipun tidak sepenuhnya penuh, tetap memiliki arti penting bagi mental tim. Bermain di kota yang relatif dekat dengan Kudus membuat mobilisasi suporter lebih memungkinkan dibandingkan harus bertanding di luar pulau.

Keputusan menjadikan Stadion Sriwedari sebagai kandang sementara mencerminkan pendekatan realistis manajemen Persiku Kudus dalam menghadapi berbagai keterbatasan. Alih-alih memaksakan diri bermain di stadion yang belum sepenuhnya siap secara teknis, klub memilih solusi yang lebih aman dan profesional demi menjaga kualitas kompetisi.

Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa standar infrastruktur dalam sepak bola nasional semakin diperketat. Persyaratan pencahayaan, fasilitas stadion, dan aspek keselamatan kini menjadi perhatian utama yang tidak bisa ditawar. Klub dituntut untuk menyesuaikan diri dengan regulasi demi menciptakan pertandingan yang layak secara teknis dan visual.

Bagi Persiku Kudus, penggunaan Stadion Sriwedari bukanlah bentuk meninggalkan identitas, melainkan bagian dari strategi jangka pendek untuk menghadapi situasi khusus. Fokus utama tetap pada performa tim dan upaya mengamankan target musim ini, sambil menunggu kesiapan Stadion Wergu Wetan agar kembali bisa digunakan secara optimal.

Dengan jadwal padat dan tantangan Ramadan yang tidak ringan, Persiku Kudus diharapkan mampu memanfaatkan setiap pertandingan, baik kandang maupun tandang, sebagai momentum mengumpulkan poin. Bermain di stadion yang lebih representatif diharapkan dapat membantu tim tampil lebih konsisten dan kompetitif hingga akhir musim.

Ditulis oleh : Syam

Jurnalis Media Muria

Baca Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Persiku Kudus Pilih Stadion Sriwedari sebagai Kandang Sementara, Faktor Penerangan dan Sanksi Jadi Pertimbangan

https://mediamuria.com/daerah/rembang/psir-rembang-didiskualifikasi-dari-liga-4-jateng-2025-26-ulah-anarkis-usai-semifinal-berujung-sanksi-berat/

https://mediamuria.com/daerah/kudus/curi-satu-poin-dari-balikpapan-persiku-kudus-buka-peluang-bertahan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *