Psikoedukasi Sebagai Kunci Pemulihan Anak Korban Bullying Di Sekolah

Oleh : Diltara Nazarani
Mahasiswa Fakultas Psikologi
Universitas Muria Kudus

Kudus – Kasus bullying atau perundungan di lingkungan sekolah bukan lagi sekadar isu lokal, melainkan persoalan serius yang telah menjadi perhatian nasional bahkan internasional. Di berbagai negara, perundungan terbukti meninggalkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental anak, mulai dari kecemasan, depresi, hingga penarikan diri dari lingkungan sosial. Sayangnya, persoalan ini masih kerap dipandang sebelah mata, termasuk di tingkat daerah.

Di Kabupaten Kudus, realitas tersebut bukanlah isapan jempol. Berdasarkan pengalaman penulis selama menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kudus pada periode 1 Oktober hingga 23 Desember 2025, ditemukan adanya kasus anak usia sekolah yang enggan kembali ke sekolah akibat menjadi korban perundungan. Fenomena ini patut menjadi alarm bersama bahwa bullying tidak berhenti pada ejekan atau kekerasan sesaat, melainkan mampu menggerus rasa aman anak secara mendalam.

Anak yang mengalami bullying sering kali memandang sekolah bukan lagi sebagai ruang belajar yang aman, melainkan sebagai tempat yang memicu rasa takut, cemas, dan terancam. Namun ironisnya, kondisi ini kerap disalahartikan sebagai bentuk kemalasan atau ketidakdisiplinan. Padahal, penolakan untuk bersekolah merupakan respons psikologis yang wajar terhadap pengalaman traumatis yang dialami anak.

Dalam konteks inilah, pendekatan psikoedukasi menjadi sangat relevan dan mendesak untuk diterapkan. Psikoedukasi bukan sekadar memberikan nasihat, melainkan proses pemberian pemahaman psikologis yang komprehensif kepada anak, orang tua, guru, dan lingkungan sekitar mengenai dampak bullying serta cara pendampingan yang tepat. Pendekatan ini menempatkan anak sebagai individu yang perlu dipulihkan, bukan disalahkan.

Melalui psikoedukasi, orang tua dapat belajar mengenali tanda-tanda tekanan psikologis pada anak, sekolah dapat membangun iklim yang lebih aman dan empatik, sementara pemerintah daerah dapat merancang kebijakan pendidikan yang lebih berpihak pada kesehatan mental peserta didik. Pemulihan anak korban bullying tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja, melainkan memerlukan kolaborasi lintas peran.

Sudah saatnya upaya penanganan bullying di sekolah tidak hanya berfokus pada sanksi bagi pelaku, tetapi juga pada proses pemulihan korban. Psikoedukasi menawarkan pendekatan yang lebih humanis dan berkelanjutan, karena berupaya mengembalikan rasa aman, kepercayaan diri, serta motivasi anak untuk kembali bersekolah.

Jika sekolah adalah ruang tumbuh bagi masa depan anak, maka memastikan ruang tersebut aman secara psikologis merupakan tanggung jawab bersama. Psikoedukasi bukan pilihan tambahan, melainkan kebutuhan mendesak dalam membangun lingkungan pendidikan yang sehat dan berkeadilan.

Dampak Bullying terhadap Anak

Bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari ejekan verbal, pengucilan sosial, hingga kekerasan fisik dan tekanan psikologis berulang. Dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung. Banyak anak menunjukkan tanda-tanda seperti perubahan perilaku, mudah menangis, sulit tidur, menurunnya konsentrasi belajar, hingga keluhan fisik tanpa sebab medis yang jelas saat akan berangkat ke sekolah.

Dalam jangka panjang, bullying dapat mengganggu perkembangan kepercayaan diri dan kesehatan mental anak. Anak korban perundungan sering kali merasa dirinya tidak berharga, menyalahkan diri sendiri, atau takut berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Jika kondisi ini tidak ditangani dengan baik, anak berisiko mengalami penurunan prestasi akademik dan menarik diri dari kehidupan sosial.

Psikoedukasi sebagai Proses Pemulihan

Psikoedukasi hadir sebagai pendekatan yang tidak menghakimi dan tidak memaksa. Anak diajak memahami apa yang sedang ia rasakan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Perasaan takut, sedih, atau marah dijelaskan sebagai reaksi yang wajar setelah mengalami pengalaman tidak menyenangkan.

Melalui psikoedukasi, anak juga dibantu mengenali sinyal tubuh dan emosinya. Anak diajarkan cara menenangkan diri saat merasa cemas, seperti melalui latihan pernapasan sederhana atau aktivitas yang membuatnya merasa aman. Pendekatan ini membantu anak merasa lebih memahami dirinya sendiri dan tidak lagi menganggap emosinya sebagai sesuatu yang salah.

Proses kembali ke sekolah dilakukan secara bertahap. Anak tidak langsung dipaksa mengikuti kegiatan belajar penuh. Dalam tahap awal, anak bisa diajak datang ke sekolah dalam waktu singkat, bertemu guru yang dipercaya, atau mengikuti kegiatan non-akademik terlebih dahulu. Pendekatan ini bertujuan membangun kembali rasa aman sebelum anak benar-benar siap kembali ke rutinitas belajar.

Peran Orang Tua dalam Psikoedukasi

Keberhasilan psikoedukasi sangat bergantung pada peran orang tua. Orang tua diharapkan mampu menjadi pendamping yang mendengarkan tanpa menghakimi dan tidak meremehkan perasaan anak. Sikap memaksa atau membandingkan anak dengan orang lain justru berpotensi memperburuk kondisi psikologis anak.

Melalui psikoedukasi, orang tua diajak memahami bahwa pemulihan membutuhkan waktu. Fokus utama bukan pada capaian akademik, melainkan pada pemulihan rasa aman dan kepercayaan diri anak. Dengan dukungan emosional yang konsisten, anak akan lebih siap untuk kembali menghadapi lingkungan sekolah.

Tanggung Jawab Sekolah dan Lingkungan

Sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak. Penanganan kasus bullying tidak cukup hanya dengan memberi sanksi, tetapi juga perlu disertai upaya pemulihan korban. Lingkungan sekolah yang responsif dan peduli akan membantu anak merasa terlindungi.

Penerapan psikoedukasi di sekolah dapat dilakukan melalui pendampingan guru bimbingan konseling, penguatan komunikasi antara guru dan siswa, serta edukasi karakter yang menanamkan nilai empati dan saling menghargai. Sistem pelaporan yang aman dan tidak menyudutkan korban juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

Manfaat Psikoedukasi bagi Anak

Pendekatan psikoedukasi memberikan manfaat nyata bagi anak korban bullying. Anak menjadi lebih mampu memahami perasaan dan reaksinya sendiri, sehingga tingkat kecemasan dapat berkurang. Dengan pemahaman tersebut, anak perlahan membangun kembali kepercayaan diri dan keberanian untuk berinteraksi.

Psikoedukasi juga membantu anak menyadari bahwa ia tidak sendirian dan memiliki dukungan dari orang dewasa di sekitarnya. Rasa aman yang terbentuk menjadi fondasi penting agar anak berani kembali ke sekolah dan mengikuti kegiatan belajar tanpa tekanan berlebihan.

Manfaat Psikoedukasi bagi Orang Tua dan Sekolah

Bagi orang tua, psikoedukasi meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental anak serta membantu membangun pola asuh yang lebih empatik. Orang tua menjadi lebih peka terhadap tanda-tanda tekanan psikologis dan tahu langkah yang tepat untuk mendampingi anak.

Sementara bagi sekolah, psikoedukasi membantu menciptakan budaya yang lebih inklusif dan aman. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang perlindungan bagi tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Upaya Pencegahan Bullying ke Depan

Selain pemulihan, psikoedukasi juga berperan penting dalam pencegahan bullying. Ajakan melakuakan Psikoedukasi yang dilakukan Diltara merupakan edukasi mengenai empati, komunikasi sehat, dan dampak perundungan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Dengan pemahaman yang baik, siswa diharapkan mampu saling menghargai dan menolak segala bentuk kekerasan.

Kasus bullying yang membuat anak enggan sekolah menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal prestasi, tetapi juga tentang rasa aman dan kesejahteraan mental. Melalui pendekatan psikoedukasi yang melibatkan anak, keluarga, dan sekolah, diharapkan lingkungan pendidikan di Kabupaten Kudus dapat menjadi ruang yang aman, nyaman, dan mendukung masa depan anak.

Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Psikoedukasi Sebagai Kunci Pemulihan Anak Korban Bullying Di Sekolah

https://mediamuria.com/update-sea-games-2025-badminton-juara-umum-emas-juga-datang-dari-athletics-hingga-olahraga-extreme-jetski-dan-skateboard/

https://mediamuria.com/laporan-pkl-univesitas-muria-kudus-peran-strategis-leadership-dalam-mendorong-kinerja-perencanaan-daerah-di-bappeda-kudus/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *