mediamuria.com, Kudus – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), dinamika harga bahan pangan kembali menjadi perhatian pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya di sektor kuliner. Peningkatan permintaan masyarakat yang lazim terjadi di akhir tahun kerap diiringi dengan kenaikan harga bahan baku, mulai dari beras, telur, minyak goreng, hingga bumbu dapur. Kondisi ini juga dirasakan oleh Warmindo Temulus, salah satu usaha kuliner yang melayani masyarakat di Kabupaten Kudus.
Pemilik Warmindo Temulus, Sumikan, mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan pangan menjelang Nataru secara langsung mempengaruhi keberlangsungan usahanya. Menurutnya, dampak tersebut tidak hanya dirasakan dari sisi harga, tetapi juga dari ketersediaan bahan baku tertentu yang mulai terbatas di pasaran.
“Iya, kenaikan harga secara otomatis langsung mempengaruhi. Untuk sekarang ada sedikit kendala untuk mencari jenis beras yang cocok untuk nasi goreng, karena stoknya di Kudus mulai menipis,” ujar Sumikan.

Ia menjelaskan, pemilihan jenis beras menjadi hal penting bagi usaha warmindo, khususnya untuk menjaga cita rasa nasi goreng yang menjadi salah satu menu favorit pelanggan. Ketika ketersediaan bahan mulai terbatas, pelaku usaha dituntut lebih cermat dalam menjaga kualitas agar tidak menurunkan kepercayaan konsumen.
Stok Lebih Awal Jadi Langkah Antisipasi
Menyadari potensi lonjakan harga dan keterbatasan stok bahan pangan menjelang Nataru, Warmindo Temulus memilih mengambil langkah antisipasi lebih awal. Sumikan mengatakan pihaknya telah melakukan pengadaan ulang bahan baku untuk kebutuhan dua minggu ke depan.
“Untuk antisipasi, kami sudah melakukan re-stok barang untuk dua minggu ke depan,” jelasnya.
Langkah ini dilakukan untuk menjaga kestabilan operasional usaha, sekaligus menghindari pembelian bahan baku secara mendadak saat harga berada di puncak. Menurut Sumikan, perencanaan stok menjadi salah satu strategi penting bagi UMKM agar tetap bisa bertahan di tengah fluktuasi harga pangan.
Dengan stok yang lebih terjamin, Warmindo Temulus berharap dapat tetap melayani pelanggan secara optimal tanpa harus terburu-buru menaikkan harga jual menu. Bagi UMKM kuliner, keputusan menaikkan harga bukan perkara mudah karena dapat berpengaruh langsung pada daya beli konsumen.

Tetap Beroperasi Selama Nataru
Meski dihadapkan pada tantangan kenaikan harga bahan pangan, Warmindo Temulus memastikan tetap beroperasi selama periode Nataru. Sumikan menilai momen akhir tahun justru menjadi peluang bagi UMKM untuk meningkatkan penjualan, seiring meningkatnya aktivitas masyarakat.
“Iya, kami tetap buka saat Nataru. Ini waktunya untuk para UMKM, karena biasanya banyak masyarakat yang membeli makanan. Apalagi juga bertepatan dengan libur sekolah,” katanya.
Ia menambahkan, libur panjang Nataru kerap dimanfaatkan masyarakat untuk berkumpul bersama keluarga maupun beraktivitas di luar rumah. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha kuliner, khususnya warung makan yang menyediakan menu praktis dan terjangkau.
Jam Buka Hingga Mendekati Subuh Jadi Daya Tarik
Salah satu keunggulan Warmindo Temulus yang terus dipertahankan adalah jam operasional yang panjang, yakni hingga mendekati waktu subuh. Menurut Sumikan, jam buka tersebut menjadi pembeda sekaligus daya tarik tersendiri, terutama bagi kalangan anak muda.
“Salah satu keunggulan yang kami tawarkan adalah jam buka sampai mendekati subuh. Ini cukup diminati, terutama oleh anak muda,” ungkapnya.
Jam operasional yang fleksibel ini memungkinkan Warmindo Temulus menjangkau konsumen yang beraktivitas di malam hari, mulai dari pekerja malam, pelajar, hingga masyarakat yang mencari tempat makan setelah bepergian. Pada periode Nataru, ketika aktivitas malam cenderung meningkat, keunggulan ini diharapkan mampu mendongkrak jumlah pelanggan.
Menjaga Kualitas di Tengah Tekanan Biaya
Di tengah tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan pangan, Warmindo Temulus menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga kualitas makanan. Sumikan menyebut, menjaga cita rasa dan kepuasan pelanggan menjadi kunci agar usaha tetap bertahan dan berkembang.
“Selain tetap menjaga kualitas, kami juga selalu mencoba inovasi baru supaya bisa terus berkembang,” ujarnya.
Inovasi yang dilakukan tidak hanya berkaitan dengan menu, tetapi juga cara penyajian dan pelayanan kepada pelanggan. Menurut Sumikan, inovasi menjadi penting agar pelanggan tidak merasa jenuh dan tetap setia, meskipun kondisi ekonomi sedang tidak sepenuhnya stabil.

Cerminan Ketahanan UMKM Lokal
Langkah antisipasi yang dilakukan Warmindo Temulus mencerminkan ketahanan UMKM lokal dalam menghadapi tantangan menjelang akhir tahun. Dengan pengelolaan stok yang lebih terencana, jam operasional yang menyesuaikan kebutuhan konsumen, serta komitmen menjaga kualitas dan inovasi, UMKM diharapkan mampu memanfaatkan momentum Nataru secara positif.
Sumikan berharap stabilitas harga bahan pangan dapat terus dijaga agar pelaku usaha kecil tidak terbebani terlalu berat. Ia juga berharap masyarakat tetap mendukung UMKM lokal dengan berbelanja dan menikmati produk usaha kecil di daerahnya masing-masing.
“Harapannya harga bahan bisa lebih stabil, supaya UMKM seperti kami bisa terus jalan dan masyarakat tetap bisa menikmati makanan dengan harga terjangkau,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Sambut Nataru, Warmindo Temulus Lakukan Antisipasi Kenaikan Harga Bahan Panganhttps://mediamuria.com/imbauan-kewaspadaan-curah-hujan-tinggi-untuk-warga-kudus/
