mediamuria.com, KUDUS – Kabupaten Kudus kembali dilanda cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi yang mengguyur hampir seluruh wilayah sejak Rabu malam, 4 Februari 2026, hingga Kamis pagi, 5 Februari 2026. Hujan yang turun tanpa jeda tersebut menyebabkan debit air sungai meningkat signifikan dan berujung pada jebolnya salah satu tanggul di Desa Pladen, tepatnya di Dusun Jawik, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Peristiwa tersebut mengakibatkan sejumlah rumah warga terendam banjir dengan ketinggian air bervariasi.
Hujan mulai turun sejak sore hari dan semakin deras pada malam hari. Hingga Kamis pagi, hujan masih terus mengguyur wilayah Kudus dan sekitarnya. Kondisi tersebut membuat aliran sungai di sejumlah titik mengalami peningkatan volume air yang cukup drastis. Salah satu titik terparah terjadi di Desa Pladen, di mana tanggul sungai yang berada di Dusun Jawik tidak mampu menahan derasnya aliran air sehingga akhirnya jebol.
Jebolnya tanggul tersebut menyebabkan air sungai meluap dan masuk ke permukiman warga yang berada di sekitar bantaran sungai. Beberapa rumah dilaporkan terendam banjir dengan ketinggian air mulai dari mata kaki hingga lutut orang dewasa. Selain merendam rumah, banjir juga menggenangi halaman, jalan lingkungan, serta area persawahan milik warga setempat.
Sejak pagi hari, warga Desa Pladen terlihat bahu membahu melakukan upaya penanganan darurat. Warga bersama perangkat desa bergotong royong membersihkan aliran sungai dari material lumpur, sampah, serta ranting yang terbawa arus. Upaya tersebut dilakukan untuk memperlancar aliran air agar tidak semakin meluap ke permukiman. Selain itu, warga juga berusaha melakukan perbaikan sementara pada bagian tanggul yang jebol dengan menggunakan karung berisi pasir dan tanah seadanya.
Kondisi di lokasi menunjukkan semangat kebersamaan warga yang cukup tinggi. Meski harus bekerja di tengah genangan air dan cuaca yang masih mendung, warga tetap berupaya melakukan penanganan awal sambil menunggu bantuan lebih lanjut. Perbaikan sementara tersebut diharapkan dapat menahan aliran air dan mencegah banjir susulan apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.
Menurut keterangan warga setempat, tanggul yang jebol tersebut sebelumnya memang sudah menunjukkan tanda-tanda rawan. Struktur tanggul dinilai tidak cukup kuat untuk menahan debit air saat hujan deras berkepanjangan. Kondisi tanah yang labil akibat terus-menerus diguyur hujan juga memperparah situasi hingga akhirnya tanggul tidak mampu bertahan.
Banjir yang terjadi membuat sebagian warga harus memindahkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi. Perabot rumah tangga, alat elektronik, hingga dokumen penting diamankan agar tidak rusak akibat terendam air. Meski demikian, beberapa warga mengaku tetap mengalami kerugian akibat peristiwa tersebut, terutama pada perabot rumah dan hasil panen yang tersimpan di rumah.
Hingga Kamis siang, air di sejumlah rumah warga mulai berangsur surut seiring dengan berkurangnya intensitas hujan. Namun demikian, warga masih tetap waspada karena cuaca belum sepenuhnya membaik. Langit yang masih mendung dan potensi hujan susulan membuat warga terus memantau kondisi sungai dan tanggul yang jebol.
Pemerintah desa bersama warga kini menunggu bantuan dari pemerintah daerah maupun pusat untuk penanganan lebih lanjut. Perbaikan permanen tanggul dinilai sangat dibutuhkan agar kejadian serupa tidak kembali terulang, terutama mengingat musim hujan masih berlangsung. Warga berharap adanya penanganan cepat dan menyeluruh, mulai dari penguatan struktur tanggul hingga normalisasi sungai.
Peristiwa banjir akibat tanggul jebol ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Tingginya curah hujan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir tidak hanya meningkatkan risiko banjir, tetapi juga potensi longsor dan kerusakan infrastruktur lainnya. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar bantaran sungai dan daerah rawan banjir.
Selain kewaspadaan terhadap lingkungan, masyarakat juga diharapkan menjaga kesehatan selama musim hujan. Kondisi cuaca yang lembap dan lingkungan yang tergenang air berpotensi menimbulkan berbagai penyakit, seperti flu, diare, hingga penyakit kulit. Warga diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan, memastikan air bersih tetap tersedia, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan kesehatan.
Gotong royong yang ditunjukkan warga Desa Pladen dalam menghadapi bencana ini menjadi gambaran kuatnya solidaritas masyarakat. Meski dihadapkan pada situasi sulit, warga tetap saling membantu dan bekerja sama untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan. Semangat kebersamaan tersebut diharapkan dapat terus terjaga hingga proses pemulihan selesai.
Dengan kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan, masyarakat Kabupaten Kudus secara umum diimbau untuk meningkatkan kehati-hatian dalam beraktivitas sehari-hari. Pemerintah daerah diharapkan dapat terus memantau kondisi wilayah rawan bencana dan mengambil langkah-langkah antisipatif guna melindungi keselamatan warga. Kejadian tanggul jebol di Desa Pladen ini menjadi catatan penting perlunya penguatan infrastruktur pengendali banjir sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana di Kabupaten Kudus.
Ditulis oleh : Syam
Jurnalis Media Muria
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Tanggul Jebol di Desa Pladen, Sejumlah Rumah Terendam Banjir Usai Hujan Semalaman