Tari Caping Kalo, Representasi Perempuan Muria dan Jati Diri Budaya Kudus

mediamuria.com, KUDUS – Kabupaten Kudus tidak hanya dikenal sebagai kota santri dan pusat sejarah Islam di Jawa, tetapi juga sebagai ruang hidup berbagai tradisi budaya yang terus berkembang mengikuti zaman. Dari rahim kebudayaan lokal inilah lahir Tari Caping Kalo, sebuah karya tari kreasi yang menjadikan simbol tradisional Kudus sebagai sumber utama penciptaannya. Tarian ini hadir bukan sekadar sebagai tontonan seni, melainkan sebagai upaya merawat identitas lokal sekaligus menyampaikan pesan filosofis yang melekat dalam kehidupan masyarakat Muria.

Tari Caping Kalo berangkat dari Caping Kalo, penutup kepala tradisional khas Kudus yang selama ini identik dengan busana adat perempuan. Caping ini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari panas dan hujan, tetapi juga menyimpan nilai simbolik yang merepresentasikan cara pandang hidup masyarakat Kudus. Melalui bahasa gerak tari, Caping Kalo diangkat menjadi medium ekspresi yang merefleksikan spiritualitas, harmoni sosial, serta ketangguhan perempuan dalam menjalani peran kehidupan.

Karya tari ini digagas oleh Kinanti Sekar Rahina, seorang koreografer yang konsisten menjadikan kekayaan budaya lokal sebagai landasan penciptaan. Dalam Tari Caping Kalo, Kinanti tidak hanya menampilkan keindahan visual, tetapi juga menghadirkan tafsir mendalam tentang sosok perempuan Muria—perempuan yang anggun dan luwes, namun tetap kokoh dalam prinsip dan nilai-nilai tradisi.

Secara resmi, Tari Caping Kalo diluncurkan pada 8 Februari 2026 di Hotel @Hom Kudus. Peluncuran ini menjadi penanda penting bagi dunia seni budaya Kudus karena memperlihatkan bagaimana tradisi lokal dapat diolah menjadi karya kontemporer tanpa kehilangan akar identitasnya. Kehadiran tarian ini sekaligus memperkaya khazanah tari kreasi berbasis budaya daerah di Jawa Tengah.

Dalam konstruksi koreografinya, Tari Caping Kalo menempatkan perempuan sebagai pusat narasi. Gerak-gerak yang lembut, mengalir, dan luwes menggambarkan sifat ramah serta kemampuan bersosialisasi masyarakat Kudus yang dikenal dengan budaya srawung. Namun di balik kelembutan itu, terselip gerak yang tegas dan mantap, merepresentasikan keteguhan sikap perempuan dalam menjaga nilai, keluarga, dan tradisi di tengah perubahan zaman.

Makna filosofis Caping Kalo menjadi fondasi utama penciptaan tari ini. Bentuk caping yang bulat utuh dimaknai sebagai simbol kepasrahan total kepada Sang Pencipta. Lingkaran tanpa sudut mencerminkan kesempurnaan dan keikhlasan, sebuah refleksi spiritual yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kudus. Nilai tersebut diterjemahkan ke dalam pola gerak yang berkesinambungan dan berulang, seolah menggambarkan perjalanan hidup manusia yang terus berputar dalam kesadaran spiritual.

Anyaman bambu Caping Kalo juga menyimpan pesan tentang kehidupan sosial. Anyaman yang rapat dan saling menguatkan melambangkan kebersamaan, kerukunan, serta kehidupan bermasyarakat yang guyub. Filosofi ini tercermin dalam formasi penari yang saling terhubung satu sama lain, menunjukkan bahwa kekuatan sosial lahir dari kerja sama dan rasa saling menjaga.

Sementara itu, kerangka bambu Caping Kalo yang kuat namun lentur menjadi simbol ketangguhan jiwa perempuan. Bambu yang lentur tidak mudah patah meski diterpa tekanan, justru mampu menyesuaikan diri. Nilai ini merepresentasikan daya tahan perempuan Kudus dalam menjalani berbagai fase kehidupan—sebagai anak, remaja, ibu, pekerja, hingga penjaga nilai budaya—tanpa kehilangan jati diri.

Tari Caping Kalo juga dapat dipahami sebagai kelanjutan konseptual dari karya sebelumnya, “Tari Lajur Caping Kalo” yang diciptakan pada 2022. Jika karya terdahulu menyoroti proses pembuatan caping dari sisi teknis dan material, maka Tari Caping Kalo bergerak lebih dalam pada aspek maknawi. Fokusnya bergeser dari bagaimana caping dibuat menjadi apa yang disimbolkan caping dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Kudus.

Dari sisi musikalitas, tarian ini menghadirkan kolaborasi lintas ruang dan budaya. Musik digarap oleh komposer Hamdani dengan nuansa yang berpijak pada tradisi Jawa namun dikemas secara kontemporer. Sementara syair dan vokal ditulis serta dinyanyikan oleh Romo Lukas Heri Purnawan, yang proses kreatifnya dilakukan di Argentina. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa karya budaya lokal tetap dapat berdialog dengan dunia global tanpa kehilangan identitas Jawanya.

Keberadaan Tari Caping Kalo menegaskan bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang statis. Tradisi justru hidup, berkembang, dan terus ditafsirkan ulang sesuai konteks zaman. Melalui medium tari, nilai-nilai lokal disampaikan dengan cara yang komunikatif dan relevan bagi generasi masa kini, sekaligus menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Lebih dari sekadar pertunjukan seni, Tari Caping Kalo berperan sebagai media edukasi budaya. Ia mengajak masyarakat untuk kembali mengenal simbol-simbol lokal yang mulai jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan artistik yang kuat, tarian ini menegaskan bahwa warisan budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan narasi hidup yang terus bergerak dan bermakna.

Bagi masyarakat Kudus, Tari Caping Kalo hadir sebagai peneguh jati diri dan kebanggaan budaya. Ia menjadi pengingat bahwa identitas lokal dapat dirawat tanpa menutup diri dari perubahan zaman. Melalui tarian ini, Caping Kalo tidak hanya dikenang sebagai penutup kepala tradisional, tetapi juga sebagai simbol nilai, filosofi, dan ketangguhan perempuan Muria yang terus hidup dalam denyut kebudayaan Kudus.

Ditulis oleh : Syam

Jurnalis Media Muria

Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Tari Caping Kalo, Representasi Perempuan Muria dan Jati Diri Budaya Kudus

https://mediamuria.com/daerah/kudus/persiku-kudus-pilih-stadion-sriwedari-sebagai-kandang-sementara-faktor-penerangan-dan-sanksi-jadi-pertimbangan/

https://mediamuria.com/daerah/kudus/ramai-isu-kenaikan-pajak-kendaraan-di-jawa-tengah-pemprov-dan-pemkab-kudus-beri-penjelasan/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *