mediamuria.com, KUDUS – Kasus dugaan keracunan makanan yang dialami ratusan siswa SMA Negeri 2 Kudus pada beberapa waktu yang lalu akhirnya menemukan titik terang. Setelah melalui proses pemeriksaan laboratorium yang memakan waktu lebih dari sepekan, hasil uji terhadap sampel menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinyatakan positif mengandung bakteri Escherichia coli atau E. coli. Temuan ini menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan aspek keamanan pangan, khususnya pada program pemenuhan gizi bagi pelajar.
Sampel makanan MBG yang diuji merupakan menu yang didistribusikan kepada siswa sebelum terjadinya keluhan gangguan kesehatan. Proses pengujian dilakukan secara ketat melalui tahapan laboratorium, termasuk pembiakan kultur, untuk memastikan hasil yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Nuryanto, menyampaikan bahwa hasil pengujian laboratorium telah keluar setelah sampel diperiksa selama delapan hari.
“Sudah keluar hasilnya, hasilnya positif. E. coli untuk sampel soto dan sambalnya,” ungkapnya.
Menurut Nuryanto, lamanya waktu pemeriksaan disebabkan oleh prosedur laboratorium yang harus dilakukan secara bertahap. Proses pembiakan bakteri memerlukan waktu agar hasil yang diperoleh benar-benar valid dan tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru.
“Pengujian dilakukan dengan proses yang cukup ketat. Sampel membutuhkan pembiakan secara kultur dan tahapan lainnya untuk menunjang kualitas hasil,” jelasnya.
Hasil uji tersebut kemudian diperkuat oleh pernyataan Badan Gizi Nasional (BGN). Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyebutkan bahwa hasil uji laboratorium yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah menunjukkan adanya bakteri E. coli pada menu MBG tersebut.
“Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya bakteri E. coli pada kuah soto dan sambal,” kata Nanik dalam keterangan tertulis, Jumat (6/2/2026).
Selain melakukan uji laboratorium, BGN juga melakukan investigasi menyeluruh terhadap proses pengolahan hingga distribusi makanan MBG. Langkah ini dilakukan untuk memastikan titik rawan yang berpotensi menyebabkan kontaminasi bakteri dapat diidentifikasi secara jelas.
“Selain uji laboratorium, kami juga melakukan investigasi terhadap proses pengolahan hingga distribusi makanan MBG,” lanjut Nanik.
Ia menambahkan bahwa dari hasil pemeriksaan lapangan, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari yang memproduksi menu MBG untuk SMA Negeri 2 Kudus dinilai belum sepenuhnya memenuhi standar kelayakan.
“Dari hasil pemeriksaan di lapangan, dapur SPPG Purwosari yang memproduksi menu MBG untuk SMA Negeri 2 Kudus dinilai belum memenuhi standar kelayakan,” ujarnya.
Mengenal Bakteri E. coli
Bakteri Escherichia coli atau E. coli merupakan mikroorganisme yang secara alami hidup di usus manusia dan hewan. Sebagian besar jenis E. coli sebenarnya tidak berbahaya dan bahkan membantu proses pencernaan. Namun, terdapat jenis E. coli patogen yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius apabila masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Dalam konteks keamanan pangan, keberadaan bakteri E. coli sering dijadikan indikator adanya pencemaran, terutama yang berkaitan dengan kebersihan air, peralatan, dan lingkungan pengolahan makanan. Oleh karena itu, temuan bakteri ini pada makanan siap konsumsi, khususnya yang didistribusikan secara massal kepada pelajar, menjadi perhatian besar bagi otoritas kesehatan.
Penyebab Kontaminasi E. coli pada Makanan
Kontaminasi bakteri E. coli pada makanan dapat terjadi melalui berbagai faktor. Salah satu penyebab utama adalah penggunaan air yang tidak bersih dalam proses memasak, mencuci bahan makanan, maupun membersihkan peralatan dapur. Air yang tidak memenuhi standar kesehatan berpotensi membawa bakteri berbahaya.
Selain itu, proses memasak yang tidak sempurna juga memungkinkan bakteri bertahan hidup. Kebersihan peralatan dapur, meja kerja, serta tangan petugas yang kurang terjaga turut meningkatkan risiko kontaminasi silang.
Penyimpanan makanan pada suhu yang tidak sesuai standar serta distribusi yang memakan waktu lama juga dapat mempercepat pertumbuhan bakteri.
Dalam program MBG, yang melibatkan produksi makanan dalam jumlah besar dan distribusi ke banyak titik, pengawasan pada setiap tahapan menjadi sangat krusial. Satu celah kecil dalam prosedur dapat berdampak luas pada kesehatan penerima manfaat.
Dampak terhadap Kesehatan dan Aktivitas Sekolah
Paparan bakteri E. coli patogen dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, seperti diare, mual, muntah, nyeri perut, dan demam. Pada anak-anak dan remaja, kondisi ini dapat berdampak lebih serius jika tidak segera ditangani dengan baik, terutama risiko dehidrasi.
Kasus dugaan keracunan ini tidak hanya berdampak pada kondisi kesehatan siswa, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua dan masyarakat. Aktivitas belajar mengajar sempat terganggu, sementara kepercayaan publik terhadap pelaksanaan program MBG menjadi sorotan.
Langkah Evaluasi dan Pengawasan Ke Depan
Menindaklanjuti temuan tersebut, BGN bersama Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Kudus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur SPPG yang terlibat. Evaluasi mencakup standar kebersihan dapur, prosedur operasional, kualitas bahan baku, serta sistem penyimpanan dan distribusi makanan.
Pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG juga diperketat melalui inspeksi rutin dan pengambilan sampel makanan secara berkala. Langkah ini bertujuan memastikan setiap menu yang disajikan kepada siswa benar-benar aman, sehat, dan layak konsumsi.
Pelatihan ulang mengenai sanitasi dan higienitas bagi petugas dapur menjadi bagian penting dari upaya perbaikan. Dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pengawasan yang konsisten, risiko terjadinya kontaminasi bakteri diharapkan dapat diminimalkan.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program strategis pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi generasi muda. Oleh karena itu, keamanan pangan harus menjadi prioritas utama agar tujuan program dapat tercapai secara optimal.
Kasus temuan bakteri E. coli pada menu MBG di Kudus menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak. Dengan evaluasi menyeluruh, pengawasan ketat, dan penerapan standar higienitas yang konsisten, program MBG diharapkan dapat berjalan lebih aman, sehat, dan berkelanjutan demi masa depan anak-anak Indonesia.
Ditulis oleh : Syam
Jurnalis Media Muria
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Uji Laboratorium Temukan Bakteri E. coli pada Menu MBG di SMA 2 Kudus, Pengawasan Diperketat Demi Keamanan Siswa