mediamuria.com, KUDUS – Bencana hidrometeorologi kembali meluas di Kabupaten Kudus akibat curah hujan tinggi yang terjadi secara terus-menerus sejak awal bulan Januari 2026. Berdasarkan data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus per 17 Januari 2026 pukul 07.00 WIB, jumlah warga terdampak terus bertambah. Saat ini tercatat 14.758 kepala keluarga atau 46.284 jiwa terdampak, dengan 2.158 jiwa di antaranya harus mengungsi.
Bencana yang terjadi meliputi banjir dan limpasan air, tanah longsor, serta cuaca ekstrem yang menyebabkan pohon tumbang dan kerusakan bangunan. Dampak terparah terjadi di wilayah dataran rendah serta kawasan lereng Gunung Muria yang dikenal rawan longsor.
Jumlah Pengungsi Terus Bertambah
BPBD Kabupaten Kudus mencatat terdapat 10 titik pengungsian aktif yang tersebar di berbagai desa dan fasilitas umum. Total pengungsi mencapai 2.158 jiwa dari 815 kepala keluarga.
Lokasi pengungsian dengan jumlah terbanyak berada di Aula DPRD Kudus yang menampung 905 jiwa dari 360 kepala keluarga. Jumlah tersebut meningkat signifikan dibanding hari sebelumnya akibat bertambahnya warga terdampak banjir dari wilayah Kecamatan Undaan, Jati, dan Mejobo.
Selain Aula DPRD, pengungsian terbesar lainnya berada di Gedung Muslimat NU Loram Kulon dengan 343 jiwa, serta Balai Desa Payaman yang menampung 205 jiwa.
Sementara itu, lokasi pengungsian lainnya meliputi:
- Balai Desa Gulang: 159 jiwa
- Balai Desa Jati Wetan: 151 jiwa
- Gedung NU Center Pasuruhan Lor: 53 jiwa
- GKMI Tanjungkarang: 90 jiwa
- Balai Desa Karangrowo: 105 jiwa
- Gedung DPC PDIP Kudus: 87 jiwa
- TK Pertiwi Desa Kesambi: 12 jiwa
Kelompok Rentan Dominasi Pengungsian
Dari data BPBD, kelompok rentan masih mendominasi di lokasi pengungsian. Tercatat ratusan lansia usia di atas 55 tahun, balita usia 0–5 tahun, serta anak-anak usia 6–12 tahun berada di posko pengungsian.
Di Aula DPRD Kudus saja tercatat 174 anak-anak, sementara jumlah lansia mencapai lebih dari 80 orang. Kondisi ini menjadi perhatian khusus pemerintah daerah, terutama dalam penyediaan layanan kesehatan, gizi, dan sanitasi.
Longsor Melanda Lereng Muria
Bencana tanah longsor paling banyak terjadi di Kecamatan Dawe. Wilayah ini mencatat puluhan titik longsor yang tersebar di beberapa desa, di antaranya Desa Japan, Kuwukan, Kajar, Ternadi, Kandangmas, Colo, Soco, Cranggang, Piji, Puyoh, dan Lau.
Desa Japan menjadi wilayah dengan kejadian longsor terbanyak, mencapai 24 titik longsor yang menyebabkan akses jalan tertutup dan mengancam rumah warga. Desa Kuwukan tercatat mengalami 22 titik longsor, sementara Desa Soco mengalami 7 titik longsor yang memutus akses antarpermukiman.
Selain Kecamatan Dawe, longsor juga terjadi di Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, yang berdampak pada satu rumah warga dan beberapa akses jalan desa.
Banjir dan Limpasan Air Terluas
Banjir dan limpasan air menjadi bencana dengan dampak paling luas. Sedikitnya sembilan kecamatan terdampak, meliputi Kecamatan Mejobo, Undaan, Kaliwungu, Jati, Kota Kudus, Jekulo, Bae, Dawe, dan Gebog.
Di Kecamatan Mejobo, banjir merendam Desa Kesambi, Jojo, Mejobo, Golantepus, Temulus, Tenggeles, dan Hadiwarno. Ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 100 sentimeter, merendam ribuan rumah dan ratusan hektare sawah.
Kecamatan Undaan menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbesar, terutama di Desa Karangrowo, Wates, Ngemplak, dan Pladen. Desa Karangrowo mencatat 356 rumah terdampak dengan 996 jiwa, serta genangan air mencapai 20–120 sentimeter.
Sementara di Kecamatan Jati, banjir melanda Desa Ploso, Ngembal Kulon, Pasuruhan Lor, Loram Kulon, Jetiskapuan, Tanjungkarang, dan Jati Wetan. Ratusan rumah terendam dengan ketinggian air hingga 80 sentimeter.
Dampak Cuaca Ekstrem
Cuaca ekstrem berupa angin kencang juga menyebabkan pohon tumbang dan kerusakan bangunan di sejumlah wilayah. Kecamatan Kaliwungu, Gebog, Kota Kudus, Jati, Bae, dan Dawe dilaporkan mengalami kejadian pohon tumbang yang menimpa rumah warga, kendaraan, hingga fasilitas umum.
Beberapa rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang, sementara akses jalan desa sempat terhambat sebelum dilakukan pembersihan oleh petugas gabungan.
Upaya Penanganan Pemerintah
Pemerintah Kabupaten Kudus terus mengintensifkan langkah penanganan darurat. Bupati Kudus memerintahkan seluruh perangkat daerah untuk fokus pada keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi.
BPBD Kabupaten Kudus berkoordinasi dengan pemerintah desa, Forkopimcam, PMI, TNI, Polri, Dinas PUPR, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta BBWS Pemali Juana dalam penanganan bencana.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD bersama relawan terus melakukan assessment lapangan, evakuasi warga, pendataan kerusakan, serta distribusi bantuan logistik. Pemerintah juga menyalurkan bantuan makanan siap saji, selimut, matras, air bersih, serta kebutuhan balita dan lansia.
Kepala BNPB turut melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kudus guna memastikan kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi bencana susulan.
Total Dampak Bencana
Secara keseluruhan, hingga 17 Januari 2026 tercatat:
- 14.758 KK (46.284 jiwa) terdampak
- 2.158 jiwa mengungsi
- 10 titik pengungsian aktif
- 3 Masa Darurat Penanganan (MDP)
- 5 warga mengalami luka ringan
BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, khususnya bagi warga yang tinggal di daerah rawan longsor dan bantaran sungai. Mengingat intensitas hujan masih tinggi, potensi bencana susulan masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah daerah memastikan penanganan akan terus dilakukan hingga kondisi benar-benar aman dan seluruh warga dapat kembali ke rumah masing-masing.
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Update 17 Januari 2026: Bencana Hidrometeorologi Landa Kudus, 2.158 Warga Mengungsi di 10 Titik