Kurangi Sampah dan Hemat Pupuk, Mahasiswa KKN UMK Buat Biopori di Desa Tumpangkrasak

Sharing is caring

mediamuria.com, Kudus, 2025 — Sebanyak 14 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muria Kudus (UMK) melakukan program lingkungan berupa pembuatan lubang biopori di Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kudus. Kegiatan ini dilaksanakan di tiga dusun, yaitu Badongan, Krasak, dan Krajan, dengan pendampingan langsung dari kepala dusun masing-masing wilayah.

Program ini digagas sebagai solusi atas meningkatnya volume sampah organik rumah tangga sekaligus tingginya kebutuhan pupuk pertanian di masyarakat desa. Melalui lubang biopori, sampah organik dapat diolah menjadi kompos alami yang bermanfaat bagi tanaman. Selain itu, biopori juga berfungsi meningkatkan daya resap air ke dalam tanah sehingga dapat mengurangi risiko genangan.

PIC tim KKN UMK, Adhi, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik biopori, tetapi juga edukasi kepada masyarakat mengenai cara pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.
“Kami berharap biopori ini dapat menjadi kebiasaan baru bagi warga. Tidak hanya mengurangi sampah, tetapi juga menghasilkan pupuk kompos yang bisa digunakan untuk pertanian atau pekarangan rumah,” ujarnya.

Pembuatan biopori dilakukan secara bertahap di tiga dusun. Mahasiswa bersama warga menggali lubang sedalam ±50 cm dengan diameter sekitar 3 inchi. Lubang kemudian dilapisi pipa PVC yang diberi lubang-lubang kecil di sekelilingnya agar proses dekomposisi berjalan lebih optimal.
Kepala Dusun Badongan, Bapak Mashudi, menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi mahasiswa KKN.

“Warga sangat terbantu dengan program ini. Selain bisa mengurangi tumpukan sampah rumah tangga, biopori juga dapat menjadi bantuan resapan air di daerah yang tergenang,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan kepala dusun Krasak dan Krajan yang ikut mendampingi kegiatan. Menurut mereka, keterlibatan langsung mahasiswa menjadi motivasi bagi warga untuk menjaga lingkungan.
Hasil dari biopori yang dibuat dapat dirasakan langsung masyarakat dalam jangka menengah hingga panjang. Sampah organik yang biasanya terbuang dapat dikonversi menjadi pupuk kompos, sehingga mengurangi pengeluaran biaya pertanian sekaligus meningkatkan kualitas tanah.

Mahasiswa KKN UMK berharap kegiatan yang mereka rintis dapat terus dilanjutkan oleh warga, sehingga Desa Tumpangkrasak bisa menjadi desa percontohan dalam pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat.
“Kami percaya, dari lubang kecil seperti biopori ini, bisa lahir perubahan besar untuk lingkungan,” tutup salah satu anggota tim KKN.

KKN UMK Desa Tumpangkrasak 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *