mediamuria.com – Hello sobat media muria, sebuah inovasi bahan bakar nabati asal Indonesia, BOBIBOS (Bahan Bakar Orisinil Buatan Indonesia), yang susah mendapatkan tempat di Indonesia justru mendapat sambutan hangat di Timor Leste. Di saat negara tetangga membuka karpet merah melalui dukungan regulasi dan perlindungan investasi, Indonesia sebagai negara asal inovasi tersebut masih dihadapkan pada persoalan klasik: belum adanya payung hukum yang jelas.
Hal itu mengemuka dalam penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Timor Agronova SA dan PT Inti Sinergi Formula selaku pengembang BOBIBOS, yang berlangsung di Hotel Novo Turismo, Dili, Selasa (23/12/2025). Kerja sama tersebut menandai langkah awal pengembangan dan pemanfaatan BOBIBOS sebagai solusi energi alternatif di Timor Leste.
Wakil Perdana Menteri Timor Leste, Masiano Asanami Sabino, secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap kehadiran BOBIBOS di negaranya. Ia bahkan menyebut pemerintah Timor Leste siap memberikan kemudahan regulasi serta proteksi bagi inovasi tersebut.
“Ini adalah investasi dan kerja sama energi antara pengusaha Timor Leste dan Indonesia. Kabar baiknya, di Timor Leste regulasi bisa disiapkan dengan cepat untuk mendukung inovasi seperti ini,” ujar Masiano usai menghadiri acara MoU.
Timor Leste Masih Bergantung Impor BBM
Dukungan tersebut tidak lepas dari kondisi energi Timor Leste yang hingga kini masih sangat bergantung pada impor bahan bakar minyak. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, hampir seluruh kebutuhan BBM nasional masih dipasok dari luar negeri.
Setiap tahun, Timor Leste harus mengeluarkan jutaan dolar Amerika untuk memenuhi kebutuhan energi rakyatnya. Harga BBM di negara tersebut pun relatif tinggi, dengan harga bensin berkisar antara Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per liter. Kondisi ini menjadi beban tersendiri bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan sektor transportasi.
BOBIBOS yang diklaim sebagai bahan bakar nabati 100 persen berbasis tumbuhan dipandang sebagai peluang strategis. Selain berpotensi menekan harga energi, kehadiran BOBIBOS juga diharapkan mendorong kemandirian energi sekaligus membuka lapangan kerja baru di sektor pertanian dan pengolahan bahan baku.
Telah Lulus Uji, Digunakan di Berbagai Mesin
Pembina BOBIBOS, Mulyadi, menyebutkan bahwa produk tersebut telah melalui serangkaian uji laboratorium dan pengujian lapangan dalam skala pilot project. Hasilnya, BOBIBOS dinyatakan dapat digunakan pada berbagai jenis mesin.
“Dalam skala pilot project, kami berhasil menciptakan BBN kategori bensin maupun solar. Kendaraan mobil, motor, genset hingga truk dapat berjalan dengan mulus,” kata Mulyadi.
Menurutnya, secara teknis BOBIBOS tidak kalah dengan bahan bakar fosil yang saat ini beredar di pasaran. Bahkan, karena berbasis nabati, emisi yang dihasilkan dinilai lebih ramah lingkungan.
Diterima di Timor Leste, Terkendala di Indonesia
Ironisnya, di Indonesia BOBIBOS justru menghadapi jalan berliku. Dari hasil diskusi pengembang BOBIBOS dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), diketahui bahwa hingga kini belum ada regulasi yang secara spesifik mengatur bahan bakar nabati dengan kategori seperti BOBIBOS.
Indonesia memang telah memiliki kebijakan biodiesel dan bioetanol, namun klasifikasi BOBIBOS sebagai BBN 100 persen nabati di luar skema campuran (blending) membuatnya berada di wilayah abu-abu regulasi.
“Indonesia belum punya aturan yang mengakomodasi BBN kategori seperti ini. Akibatnya, inovasi yang sudah siap secara teknis harus menunggu kejelasan hukum,” ujar salah satu perwakilan pengembang.
Kondisi ini berbeda dengan Timor Leste yang dinilai lebih fleksibel dalam merespons inovasi. Sebagai negara muda, Timor Leste cenderung melihat teknologi baru sebagai solusi cepat atas persoalan struktural, terutama di sektor energi dan pangan.
Perbedaan Pendekatan Kebijakan
Pengamat menilai perbedaan sikap kedua negara mencerminkan perbedaan pendekatan kebijakan. Indonesia memiliki sistem regulasi yang lebih kompleks dan berlapis, sehingga proses pengakuan teknologi baru membutuhkan waktu panjang, kajian mendalam, serta sinkronisasi lintas kementerian.
Sementara Timor Leste, dengan kebutuhan energi yang mendesak dan ketergantungan tinggi pada impor, lebih terbuka terhadap solusi alternatif yang dinilai realistis dan cepat diimplementasikan.
“Bagi Timor Leste, yang terpenting adalah dampak langsung ke rakyat: harga energi lebih murah dan pasokan lebih stabil. Regulasi bisa menyusul,” kata seorang pengamat energi regional.
Harapan Jadi Pemicu di Indonesia
Kendati demikian, keberhasilan BOBIBOS di Timor Leste diharapkan dapat menjadi pemicu bagi pemerintah Indonesia untuk segera menyiapkan payung hukum yang lebih adaptif. Apalagi, Indonesia memiliki sumber daya alam dan lahan pertanian yang jauh lebih besar untuk pengembangan bahan bakar nabati.
Jika regulasi dapat disederhanakan tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan lingkungan, BOBIBOS berpotensi menjadi bagian dari solusi transisi energi nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.
Kerja sama lintas negara ini menjadi pengingat bahwa inovasi anak bangsa tidak boleh kalah oleh birokrasi. Saat Timor Leste berani membuka pintu, Indonesia ditantang untuk tidak sekadar menjadi penonton atas teknologi yang lahir dari negerinya sendiri.
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: BOBIBOS Jadi Harapan Energi Murah Timor Leste, Indonesia Masih Cari Payung Hukumhttps://mediamuria.com/bukan-soal-larangan-ini-makna-ditiadakan-pesta-kembang-api-di-semarang/
