Hari Antikorupsi Sedunia, Kudus Teguhkan Komitmen Integritas Lewat Budaya Lokal Dan Prestasi Nasional

mediamuria.com, Kudus – Hello sobat media muria, apakah kamu tau kalau tanggal 9 Desember diperingati sebagai hari Antikorupsi? Ya, tanggal 9 Desember diperingati sebagai Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia). Peringatan yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ini menjadi momentum refleksi atas pentingnya tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan berintegritas, termasuk di tingkat daerah seperti Kabupaten Kudus.

Hari Antikorupsi Sedunia berakar dari disahkannya United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) pada 2003. Indonesia sebagai negara pihak konvensi tersebut turut aktif memperingatinya setiap tahun. Tidak hanya sebagai seremoni, Hakordia diharapkan menjadi pengingat berkelanjutan bagi pemerintah dan masyarakat untuk menolak segala bentuk praktik korupsi.

Bagi Kabupaten Kudus sendiri, peringatan Hakordia tahun ini memiliki makna tersendiri. Selain penguatan komitmen integritas di lingkungan pemerintahan dan masyarakat, Kudus juga mencatatkan prestasi di tingkat nasional dalam upaya kampanye dan edukasi antikorupsi.

Penghargaan di Ajang Pariwara Antikorupsi dan ACFFEST 2025

Beberapa waktu yang lalu Kabupaten Kudus berhasil meraih penghargaan pada Puncak Apresiasi Pariwara Antikorupsi dan Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) 2025. Ajang ini merupakan agenda nasional yang digagas sebagai ruang apresiasi karya-karya kreatif yang mengusung pesan antikorupsi melalui media komunikasi dan perfilman. Dalam ajang tersebut, Kabupaten Kudus meraih penghargaan pada kategori Kampanye Media Kreatif Pemerintah Daerah, berkat karya komunikasi publik yang dinilai efektif dalam menyampaikan pesan antikorupsi kepada masyarakat. Selain itu, Kudus juga masuk dalam nominasi konten edukasi antikorupsi berbasis kearifan lokal, yang menonjolkan nilai budaya daerah sebagai bagian dari pesan integritas.

Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas keseriusan pemerintah daerah dalam menyampaikan pesan antikorupsi secara kreatif dan komunikatif kepada masyarakat. Melalui media visual dan kampanye publik, nilai-nilai integritas disampaikan secara lebih dekat dan mudah dipahami, terutama oleh generasi muda.

Prestasi ini sekaligus menempatkan Kabupaten Kudus sebagai salah satu daerah yang dinilai aktif dalam membangun budaya antikorupsi, tidak hanya melalui regulasi, tetapi juga lewat pendekatan edukasi dan kultural.

Penguatan Tata Kelola Pemerintahan Daerah

Dalam konteks pemerintahan daerah, upaya pencegahan korupsi di Kabupaten Kudus terus diarahkan melalui penguatan sistem dan transparansi. Digitalisasi layanan publik, keterbukaan informasi anggaran, serta mekanisme pengaduan masyarakat menjadi instrumen penting untuk menekan potensi penyimpangan.

Pelayanan berbasis daring dinilai mampu meminimalkan interaksi yang berpotensi menimbulkan praktik pungutan liar. Di sisi lain, transparansi anggaran, terutama untuk sektor pembangunan, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan dasar, menjadi sorotan utama masyarakat.

Seiring meningkatnya literasi digital, warga Kudus juga semakin aktif mengawasi jalannya pemerintahan melalui media sosial dan kanal pengaduan resmi. Partisipasi publik ini dinilai sebagai bagian penting dari ekosistem antikorupsi di daerah. Keterbukaan yang dilakuakan oleh Pemerintah Kabupaten dinilai lebih memudahkan masyarakat untuk mengawasi, selain itu transparansi adalah bukti kinerja yang amanah.

Nilai Gusjigang sebagai Fondasi Antikorupsi

Kabupaten Kudus memiliki modal sosial yang kuat dalam membangun budaya antikorupsi, yakni melalui nilai Gusjigang yaitu bagus akhlaknya, rajin mengaji, dan pandai berdagang. Filosofi lokal ini mencerminkan nilai kejujuran, etika, dan tanggung jawab, yang sejatinya sejalan dengan semangat antikorupsi.

Tokoh masyarakat menilai, nilai Gusjigang dapat menjadi fondasi karakter aparatur dan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Integritas tidak semata-mata dibangun melalui aturan, tetapi juga dari kesadaran moral dan budaya yang mengakar.

Dengan menjadikan kearifan lokal sebagai rujukan, upaya pemberantasan korupsi di Kudus diharapkan tidak bersifat top-down semata, melainkan tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat.

Peran Media dan Masyarakat Sipil

Media lokal juga memiliki peran strategis dalam mengawal semangat Hari Antikorupsi Sedunia. Pemberitaan yang berimbang, kritis, dan berbasis data menjadi bagian dari kontrol sosial terhadap jalannya pemerintahan.

Di Kabupaten Kudus, keberadaan komunitas masyarakat sipil, organisasi kepemudaan, dan elemen kampus juga dinilai penting dalam menyuarakan transparansi dan akuntabilitas. Edukasi publik, diskusi kebijakan, serta pelaporan dugaan penyimpangan menjadi bentuk partisipasi aktif masyarakat.

Generasi Muda dan Kreativitas Antikorupsi

Penghargaan yang diraih Kudus di ajang Pariwara Antikorupsi dan ACFFEST 2025 juga menunjukkan kuatnya peran kreativitas, khususnya generasi muda. Kampanye antikorupsi melalui film pendek, konten visual, dan media kreatif dinilai efektif menyampaikan pesan moral tanpa kesan menggurui.

Generasi muda di Kudus diharapkan menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai kejujuran sejak dini. Sikap sederhana seperti menolak mencontek, menjunjung keadilan, dan berani bersuara atas ketidakbenaran merupakan bentuk awal budaya antikorupsi.

Momentum Evaluasi dan Harapan

Hari Antikorupsi Sedunia bukan hanya hari peringatan, tetapi juga sebuah momentum evaluasi. Prestasi yang diraih Kabupaten Kudus di tingkat nasional diharapkan tidak berhenti sebagai simbol, melainkan menjadi pemicu konsistensi dalam penerapan integritas di semua lini.

Dengan sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, media, dan generasi muda, Kabupaten Kudus memiliki peluang besar untuk terus memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih. Nilai budaya lokal yang kuat, ditopang oleh inovasi dan kreativitas, menjadi modal penting menuju daerah yang berintegritas dan berkeadilan.

Peringatan 9 Desember menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan korupsi adalah proses panjang. Namun dengan komitmen bersama, Kudus diharapkan mampu menjadi contoh daerah yang tidak hanya menolak korupsi dalam slogan, tetapi juga dalam praktik nyata.

Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Hari Antikorupsi Sedunia, Kudus Teguhkan Komitmen Integritas Lewat Budaya Lokal Dan Prestasi Nasional

https://mediamuria.com/hadapi-filipina-timnas-indonesia-tumbang-di-laga-pembuka-sea-games-2025/

https://mediamuria.com/pernyataan-anggota-dpr-soal-donasi-banjir-sumatra-viral-publik-soroti-diksi-dan-narasi-negara-hadir/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *