mediamuria.com, Kudus – Luapan air sungai akibat hujan lebat beberapa waktu lalu menggenangi area persawahan di sepanjang jalan Krawang–Jojo, Desa Hadiwarno, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, berdampak langsung pada aktivitas pertanian warga. Genangan air yang masuk ke lahan sawah membuat sebagian petani yang telah memulai masa tanam terpaksa melakukan tanam ulang atau tambal sulam tanaman padi. Bibit yang sebelumnya ditanam tidak mampu bertahan karena terlalu lama terendam air.
Hamparan sawah yang biasanya tampak hijau kini berubah menjadi petak-petak tergenang air. Permukaan lahan terlihat tidak merata, dengan genangan di beberapa titik yang cukup dalam. Kondisi ini memaksa petani kembali turun ke sawah untuk mencabut tanaman yang layu dan rusak, lalu menyiapkan bibit baru sebagai pengganti. Situasi tersebut menjadi gambaran nyata perjuangan petani yang harus mengulang proses tanam di tengah musim tanam yang seharusnya sudah berjalan.
Salah satu petani setempat menuturkan bahwa tanaman padinya tidak mampu bertahan setelah terendam air selama beberapa hari. Menurutnya, genangan air menyebabkan akar tanaman membusuk sehingga pertumbuhan padi tidak dapat dilanjutkan secara normal.
“Sebagian tanaman sudah tidak bisa tumbuh lagi. Jadi mau tidak mau harus ditambal sulam. Yang mati kita cabut lalu kita tanami ulang. Kalau dibiarkan, nanti hasil panennya pasti berkurang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa meski kerusakan tidak terjadi secara menyeluruh di semua petak sawah, proses tambal sulam tetap membutuhkan tenaga dan biaya tambahan. Petani harus kembali membeli benih, menyiapkan lahan, serta mengeluarkan tenaga ekstra untuk perawatan tanaman yang ditanam ulang.
“Awalnya sudah keluar biaya dan tenaga, sekarang harus nambah lagi. Benih harus beli lagi, tenaga juga bertambah,” tuturnya.

Petani lain menyampaikan bahwa luapan air sungai ini membuat masa tanam menjadi tidak seragam. Tanaman padi yang ditanam ulang memiliki usia berbeda dengan tanaman yang masih bertahan. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan menimbulkan kendala dalam perawatan hingga masa panen.
Kalau tanamnya tidak bareng, nanti panennya juga beda waktunya. Itu menyulitkan. Belum lagi soal hama yang biasanya lebih gampang menyerang kalau pertumbuhan tanaman tidak sama,” katanya.
Meski banyak petani terdampak, tidak semua warga merasakan dampak negatif yang sama. Sebagian petani yang belum memulai masa tanam justru menilai kondisi sawah yang tergenang memiliki sisi positif. Genangan air dinilai membantu proses pengolahan tanah sebelum penanaman padi.
Air yang menggenang membuat struktur tanah menjadi lebih lunak dan mudah untuk diolah. Kondisi ini mempermudah proses pembajakan dan perataan lahan, sehingga pekerjaan di sawah terasa lebih ringan. Selama genangan tidak berlangsung terlalu lama dan tidak merusak struktur lahan, kondisi tersebut dianggap cukup ideal untuk persiapan tanam.
“Kalau yang belum tanam justru ada keuntungan. Tanahnya sudah lembek, jadi pengolahan lebih ringan. Tinggal nunggu airnya surut sedikit,” ujar seorang petani yang baru akan memulai penanaman.
Meski demikian, para petani tetap menyadari bahwa kondisi tersebut menyimpan risiko. Apabila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi dan air sungai kembali meluap, lahan yang sudah siap tanam berpotensi kembali tergenang. Hal itu dapat menimbulkan kerusakan lanjutan dan mengganggu jadwal tanam yang telah direncanakan.
Secara keseluruhan, kerugian yang dialami petani akibat luapan air sungai ini cukup beragam. Selain harus melakukan tambal sulam tanaman padi, petani juga menghadapi mundurnya jadwal panen. Tanaman yang ditanam ulang membutuhkan waktu tumbuh lebih lama, sehingga panen tidak bisa dilakukan secara bersamaan dengan sawah lain yang tidak terdampak genangan.
Keterlambatan panen tersebut berpotensi memengaruhi pola tanam pada musim berikutnya. Selain itu, kondisi tanaman yang tidak seragam meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit. Jika tidak ditangani dengan baik, hal ini dapat berdampak pada penurunan produktivitas hasil panen.
Dari sisi ekonomi, petani juga harus menanggung biaya tambahan. Mulai dari pembelian benih baru, penggunaan pupuk ulang, hingga kebutuhan tenaga kerja ekstra untuk perawatan tanaman. Meski tidak selalu dihitung secara rinci, tambahan biaya tersebut secara langsung mengurangi keuntungan yang diharapkan petani dari hasil panen padi.
Luapan air sungai yang menggenangi persawahan di jalur Krawang–Jojo ini disebut bukan kali pertama terjadi. Petani menyebut kawasan tersebut memang rawan tergenang saat curah hujan tinggi. Meski genangan air biasanya bersifat sementara, dampaknya tetap terasa signifikan ketika terjadi bertepatan dengan awal masa tanam padi.

Para petani berharap ke depan ada langkah antisipatif agar kejadian serupa tidak terus berulang. Perbaikan saluran air, pengelolaan aliran sungai, serta penyesuaian pola tanam menjadi harapan agar dampak luapan air dapat diminimalkan dan aktivitas pertanian tetap berjalan lancar.
Di tengah kondisi sawah yang masih tergenang, petani di Desa Hadiwarno memilih tetap bertahan. Dengan kesabaran dan kerja keras, mereka kembali menanam bibit padi dan menata ulang lahan yang terdampak. Meski harus memulai kembali sebagian proses tanam, harapan akan hasil panen tetap menjadi semangat utama bagi petani untuk terus mengolah sawah dan menjaga keberlangsungan pertanian di wilayah tersebut.
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Sawah Tergenang di Hadiwarno, Petani Terpaksa Tanam Ulang Padi Akibat Luapan Sungai