mediamuria.com, Kudus – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Kudus kembali menyebabkan genangan air di sejumlah titik di Kecamatan Mejobo. Wilayah ini kembali menjadi sorotan lantaran banjir yang berulang kali terjadi setiap musim hujan. Meski tidak selalu dipicu oleh luapan sungai besar, curah hujan dengan intensitas tinggi tetap membuat beberapa ruas jalan utama di Mejobo tergenang air dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Salah satu titik yang paling sering terdampak banjir berada di ruas jalan depan SMP Negeri 2 Mejobo Kudus hingga wilayah Desa Mejobo. Kawasan ini hampir selalu tergenang setiap kali hujan deras turun. Air dengan cepat memenuhi badan jalan dan membuat arus lalu lintas melambat. Pengendara sepeda motor harus ekstra hati-hati saat melintas, sementara kendaraan roda empat kerap memilih memutar arah.
Berdasarkan pantauan di lapangan, genangan air yang sering kali di kawasan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh luapan sungai besar, namun hal ini disebabkan karena sungai kecil yang berada di sekitar lokasi tidak mampu menampung debit air hujan. Saat hujan deras, volume air di sungai kecil tersebut meningkat drastis dan meluap. Alih-alih mengalir ke hilir, air justru keluar melalui saluran drainase di pinggir jalan. Namun untuk masalah yang sekarang adalah dari luapan dari sungai besar yang tak mampu di tampung sungai kecil tersebut, sehingga air justru menggenangi jalan lewat saluran drainase.

Kondisi ini membuat fungsi drainase jalan menjadi tidak optimal. Drainase yang seharusnya menampung dan mengalirkan air hujan dari badan jalan justru menjadi jalur keluarnya air dari sungai kecil. Akibatnya, genangan air di ruas jalan depan SMP Negeri 2 Mejobo bertahan cukup lama dan semakin parah saat intensitas hujan tinggi.
Situasi tersebut menunjukkan adanya persoalan kapasitas dan tata kelola saluran air di kawasan Mejobo. Sungai kecil yang seharusnya menjadi penampung aliran air tidak mampu menahan debit hujan, sementara drainase jalan tidak dirancang untuk menerima limpahan air dari sungai. Kombinasi inilah yang membuat wilayah tersebut menjadi titik rawan banjir setiap musim hujan.
Genangan air di ruas jalan tersebut berdampak langsung pada akses jalan utama masyarakat. Jalur ini merupakan salah satu akses vital di Kecamatan Mejobo karena menghubungkan permukiman warga, pusat pendidikan, serta aktivitas ekonomi. Di kawasan tersebut terdapat Pasar Brayung Mejobo yang setiap hari ramai aktivitas jual beli.
Saat banjir melanda, aktivitas di Pasar Brayung ikut terganggu. Pedagang dan pembeli kesulitan menjangkau lokasi pasar akibat genangan air yang menutup jalan. Tidak sedikit warga yang memilih menunda aktivitas belanja atau pulang lebih awal karena kondisi jalan yang sulit dilalui.
Selain pasar, keberadaan sejumlah sekolah di sekitar kawasan tersebut membuat dampak banjir semakin terasa. Akses menuju sekolah menjadi sulit dan berisiko bagi siswa. Kondisi ini mendorong pihak sekolah mengambil langkah antisipasi dengan meliburkan kegiatan belajar mengajar. Keputusan tersebut diambil demi menjaga keselamatan siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
Terhentinya aktivitas sekolah menjadi bukti bahwa banjir di Mejobo bukan lagi persoalan sepele. Dampaknya sudah menyentuh sektor pendidikan dan pelayanan dasar masyarakat. Setiap kali hujan deras turun, warga di sekitar kawasan rawan banjir harus bersiap menghadapi potensi terganggunya aktivitas sehari-hari.
Tidak hanya Desa Mejobo dan kawasan depan SMP Negeri 2 Mejobo, banjir juga kerap melanda wilayah lain di Kecamatan Mejobo. Beberapa desa yang tercatat sering terdampak antara lain Desa Golantepus, Tenggeles, Hadiwarno, Kirig, hingga Desa Temulus yang berada di wilayah paling selatan. Secara geografis, aliran air dari wilayah utara cenderung mengarah ke selatan, sehingga desa-desa tersebut kerap menjadi area tampungan air.
Kondisi ini membuat Kecamatan Mejobo dikenal sebagai salah satu wilayah langganan banjir di Kabupaten Kudus. Setiap musim hujan, genangan air hampir selalu terjadi di titik-titik yang sama. Meski dalam beberapa kasus air dapat surut setelah hujan reda, frekuensi kejadian yang berulang menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.
Warga menilai persoalan banjir di Mejobo tidak hanya dipicu oleh faktor cuaca, tetapi juga berkaitan dengan kondisi infrastruktur saluran air yang belum memadai. Saluran drainase yang sempit, kapasitas sungai kecil yang terbatas, serta perawatan yang belum optimal diduga menjadi penyebab utama air sulit mengalir dengan lancar.
Selain itu, perkembangan kawasan permukiman dan aktivitas ekonomi di sekitar Mejobo juga turut memengaruhi daya resap air. Permukaan tanah yang semakin tertutup bangunan membuat air hujan lebih cepat mengalir ke jalan dan saluran air. Tanpa diimbangi dengan sistem drainase yang memadai, genangan air pun menjadi masalah yang terus berulang.
Masyarakat kini menunggu langkah konkret dari pemerintah daerah untuk mengatasi persoalan tersebut. Selama ini, penanganan banjir di Mejobo dinilai masih bersifat sementara dan belum menyentuh akar permasalahan. Pembersihan saluran air memang kerap dilakukan, namun belum cukup untuk mencegah genangan yang terus terjadi.
Pemerintah diharapkan dapat melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase dan kondisi sungai kecil di Kecamatan Mejobo, khususnya di kawasan rawan banjir seperti depan SMP Negeri 2 Mejobo dan Pasar Brayung. Normalisasi sungai kecil, peningkatan kapasitas drainase, serta penataan aliran air antar wilayah menjadi langkah yang dinantikan warga.
Banjir yang kembali menggenangi Mejobo menjadi pengingat bahwa masalah klasik ini membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan. Warga berharap pemerintah tidak hanya hadir saat banjir terjadi, tetapi juga mampu menghadirkan solusi jangka panjang agar Mejobo tidak terus menjadi langganan banjir setiap musim hujan.
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Mejobo Kembali Tergenang, Masalah Klasik yang Tak Kunjung Tuntas