Waspada Leptospirosis Pascabanjir, Dinkes Kudus Imbau Masyarakat Perketat Perilaku Hidup Bersih

mediamuria.com, KUDUS – Banjir yang kembali melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kudus tidak hanya meninggalkan persoalan kerusakan infrastruktur dan aktivitas warga yang terganggu, tetapi juga menyimpan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Selain masalah kesehatan seperti demam, flu, dan diare, salah satu penyakit yang perlu diwaspadai pascabanjir adalah leptospirosis, penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptospira dan berpotensi menimbulkan dampak fatal bila tidak ditangani dengan cepat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus melalui akun resmi media sosialnya mengingatkan masyarakat agar tidak hanya fokus pada genangan air yang tersisa usai banjir, tetapi juga memperhatikan risiko penularan penyakit yang dapat muncul setelahnya. Dalam unggahan tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus menekankan pentingnya perlindungan diri dari leptospirosis, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah rawan banjir.

Leptospirosis merupakan penyakit yang ditularkan melalui air atau tanah yang terkontaminasi oleh urine hewan yang terinfeksi, terutamanya pada tikus. Bakteri Leptospira dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit yang terluka, lecet, atau melalui selaput lendir seperti mata, hidung, dan mulut. Kondisi banjir yang membawa lumpur, sampah, serta limbah rumah tangga membuat risiko penularan penyakit ini meningkat tajam. Oleh karena itu, perlu dilakukan kewaspadaan terutamanya pada anak-anak yang senang bermain air di kala banjir tiba.

Dinas Kesehatan Kabupten Kudus menjelaskan bahwa leptospirosis tidak boleh dianggap remeh. Dalam kondisi tertentu, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti gangguan fungsi ginjal, kerusakan hati, hingga berujung pada kematian. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran penyakit tersebut.

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mengimbau masyarakat untuk menerapkan sejumlah tindakan sederhana namun efektif. Salah satunya adalah menutup luka pada tubuh dengan perban atau plester bersih sebelum beraktivitas, terutama saat harus bersentuhan dengan lingkungan yang basah atau tergenang air. Penggunaan alas kaki tertutup seperti sepatu bot juga dianjurkan saat berada di luar rumah untuk meminimalkan kontak langsung dengan air banjir. Kegiatan di luar ruangan memang membutukan perhatian yang lebih.

Selain itu, masyarakat diminta untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah dengan menutup tempat sampah rapat-rapat guna menghindari keberadaan hewan pengerat, khususnya tikus. Makanan dan minuman juga harus disimpan dalam wadah tertutup agar tidak terkontaminasi. Air yang digunakan untuk konsumsi wajib dimasak hingga benar-benar matang demi memastikan keamanannya. Masalah utamanya saat banjir adalah banyak sampah yang ikut terbawa air, hal itu yang harus mendapatkan perhatian tekait pembersihan dan pembuanganya.

Dinkes Kudus juga mengingatkan warga agar sebisa mungkin menghindari kontak langsung dengan air banjir. Apabila terpaksa terkena air banjir, warga dianjurkan segera membersihkan kaki dan seluruh tubuh menggunakan sabun dan air bersih setelahnya. Kebiasaan ini dinilai sangat penting untuk menurunkan risiko masuknya bakteri ke dalam tubuh.

Tak hanya pencegahan, deteksi dini terhadap gejala leptospirosis juga menjadi perhatian utama. Dalam unggahan lanjutan, Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus mengajak masyarakat untuk segera melapor ke petugas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada penyakit leptospirosis. Beberapa gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi yang muncul secara mendadak, sakit kepala, mata tampak merah, serta tubuh terasa lemas disertai menggigil.

Gejala lain yang sering muncul adalah mual, muntah, diare, serta nyeri otot, terutama pada bagian betis. Pada kondisi yang lebih serius, penderita dapat mengalami kulit dan mata menguning sebagai tanda gangguan fungsi hati. Apabila gejala-gejala tersebut muncul setelah seseorang melakukan aktivitas di lingkungan banjir atau genangan air, maka pemeriksaan medis harus segera dilakukan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus menekankan bahwa penanganan leptospirosis akan jauh lebih efektif jika dilakukan sejak dini. Keterlambatan dalam mendapatkan perawatan dapat meningkatkan risiko komplikasi berat yang membahayakan keselamatan jiwa. Oleh sebab itu, kesadaran untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat sangat dianjurkan.

Imbauan ini menjadi semakin relevan mengingat intensitas hujan yang masih cukup tinggi di wilayah Kudus dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi cuaca ekstrem yang memicu banjir berulang dinilai dapat meningkatkan potensi munculnya berbagai penyakit berbasis lingkungan, termasuk leptospirosis.

Melalui edukasi yang terus disampaikan, Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus berharap masyarakat semakin waspada dan proaktif dalam menjaga kesehatan diri serta lingkungan sekitar. Sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam menekan risiko penyebaran penyakit pascabanjir.

Dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta tidak mengabaikan gejala awal penyakit, diharapkan dampak kesehatan akibat banjir di Kabupaten Kudus dapat diminimalkan. Masyarakat pun diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi dari instansi terkait agar selalu mendapatkan panduan yang tepat dalam menghadapi situasi darurat kesehatan akibat bencana alam.

Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Waspada Leptospirosis Pascabanjir, Dinkes Kudus Imbau Masyarakat Perketat Perilaku Hidup Bersih

https://mediamuria.com/daerah/kudus/persiku-kudus-pesta-gol-di-palu-igor-costa-cetak-hattrick-dan-bawa-laskar-macan-muria-bangkit/

https://mediamuria.com/daerah/kudus/bupati-kudus-pimpin-rapat-evaluasi-bencana-pastikan-pelayanan-publik-tetap-berjalan-di-tengah-cuaca-ekstrem/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *