Ramai di Media Sosial, GERD Disebut Berkaitan dengan Penyakit Jantung: Ini Penjelasan Medis dari Para Ahli

mediamuria.com – Isu mengenai hubungan antara penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) dengan penyakit jantung kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah unggahan menyebutkan bahwa GERD dapat memicu serangan jantung, bahkan ada klaim yang menyatakan asam lambung dapat “menekan jantung” hingga menyebabkan kematian. Informasi tersebut memicu kekhawatiran, terutama di kalangan masyarakat yang memiliki riwayat gangguan lambung maupun keluhan nyeri dada.

Namun, para pakar medis menegaskan bahwa klaim tersebut tidak benar secara ilmiah. Dunia kedokteran menyatakan bahwa GERD dan penyakit jantung adalah dua kondisi berbeda yang tidak memiliki hubungan sebab-akibat langsung.

Penegasan Guru Besar FKUI: GERD Tidak Menyebabkan Serangan Jantung

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, secara tegas membantah anggapan bahwa GERD dapat menyebabkan serangan jantung.

“GERD tidak menyebabkan serangan jantung. Sekali lagi GERD tidak ada hubungannya dengan serangan jantung yang berakhir pada kematian,” ujar Prof. Ari seperti dikutip dari Suara.com.

Ia menjelaskan bahwa klaim asam lambung dapat mendesak jantung hingga membuat organ tersebut tidak berfungsi merupakan informasi keliru yang tidak didukung oleh ilmu kedokteran. Menurutnya, GERD adalah gangguan pada sistem pencernaan, sedangkan serangan jantung berkaitan dengan sistem kardiovaskular.

Prof. Ari juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah percaya pada informasi kesehatan yang beredar di media sosial tanpa dasar medis yang jelas, karena dapat menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.

Kesamaan Gejala Jadi Sumber Kesalahpahaman

Salah satu alasan utama GERD sering dikaitkan dengan penyakit jantung adalah karena gejalanya yang mirip, terutama nyeri dada. Pada GERD, nyeri dada biasanya terasa seperti sensasi panas atau terbakar (heartburn), sering muncul setelah makan atau saat berbaring.

Sementara itu, pada penyakit jantung koroner, nyeri dada umumnya terasa seperti ditekan, tertindih, atau berat, dan bisa menjalar ke lengan kiri, rahang, hingga punggung.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Habibie Arifianto, Sp.JP., M.Kes., FIHA, menjelaskan bahwa meskipun gejalanya sekilas mirip, mekanisme terjadinya sangat berbeda.

“Gejala yang dirasakan memang bisa sama, ada rasa tidak nyaman di bagian dada. Tapi penyebabnya berbeda. GERD tidak ada faktor stres fisik atau aktivitas fisik berlebihan. Sedangkan penyakit jantung koroner, ada faktor stres fisik dan mental,” jelas dr. Habibie dalam keterangannya kepada Kompas Health.

Ia menambahkan bahwa pemahaman mengenai perbedaan ini penting agar masyarakat tidak salah menafsirkan keluhan yang dialami.

Penegasan Dokter Jantung: GERD Tidak Bikin Sakit Jantung

Pernyataan senada juga disampaikan oleh dr. Bobby Arfhan Anwar, Sp.JP (K), FIHA, dokter spesialis jantung konsultan kardiologi intervensi. Dalam pernyataannya yang dikutip dari Haibunda, dr. Bobby menegaskan dengan lugas:

“GERD gak bikin sakit jantung. Udah itu aja.”

Meski singkat, pernyataan tersebut menegaskan posisi dunia medis bahwa GERD tidak menyebabkan penyakit jantung atau serangan jantung. Menurutnya, kesalahpahaman kerap terjadi karena nyeri dada merupakan keluhan umum yang bisa berasal dari berbagai organ.

Faktor Psikologis Ikut Memperparah Keluhan

Selain faktor fisik, aspek psikologis juga berperan dalam memperburuk gejala GERD. Rasa cemas berlebihan saat nyeri dada muncul dapat memicu jantung berdebar, napas terasa pendek, hingga keringat dingin. Kondisi ini sering membuat penderita semakin yakin bahwa dirinya mengalami gangguan jantung.

Padahal, reaksi tersebut lebih berkaitan dengan respons tubuh terhadap stres dan kecemasan, bukan karena adanya kerusakan pada jantung. Para dokter menilai pentingnya edukasi kesehatan agar masyarakat tidak langsung menarik kesimpulan sendiri tanpa pemeriksaan medis yang tepat.

GERD Bukan Faktor Risiko Penyakit Jantung

Hingga saat ini, dunia kedokteran tidak memasukkan GERD sebagai faktor risiko penyakit jantung. Faktor risiko utama penyakit jantung meliputi tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, obesitas, serta kurang aktivitas fisik.

Meski demikian, tenaga medis tetap mengingatkan bahwa setiap nyeri dada sebaiknya diperiksakan ke fasilitas kesehatan. Tujuannya bukan karena GERD berbahaya bagi jantung, melainkan untuk memastikan diagnosis yang akurat dan menyingkirkan kemungkinan penyakit serius lainnya.

Cara Menangani GERD dengan Tepat

GERD merupakan kondisi kronis yang dapat dikendalikan dengan perubahan gaya hidup dan pengobatan yang tepat. Beberapa langkah yang umum dianjurkan antara lain mengatur pola makan, menghindari makanan berlemak dan pedas, tidak langsung berbaring setelah makan, serta menjaga berat badan ideal.

Selain itu, mengurangi konsumsi kafein, menghentikan kebiasaan merokok, dan mengelola stres juga berperan penting dalam mengendalikan gejala GERD. Dalam kondisi tertentu, dokter dapat meresepkan obat penurun asam lambung sesuai kebutuhan pasien.

Literasi Kesehatan Jadi Kunci

Ramainya isu GERD dan penyakit jantung di media sosial menunjukkan pentingnya literasi kesehatan masyarakat. Informasi yang tidak utuh dan tidak berbasis ilmu medis dapat menimbulkan ketakutan berlebihan.

Dengan penjelasan para pakar, masyarakat diharapkan dapat memahami bahwa GERD dan penyakit jantung adalah dua kondisi berbeda. Kesamaan gejala tidak berarti kesamaan penyakit. Sikap bijak dalam menyaring informasi serta berkonsultasi dengan tenaga medis menjadi kunci agar isu kesehatan tidak berkembang menjadi misinformasi.

Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Ramai di Media Sosial, GERD Disebut Berkaitan dengan Penyakit Jantung: Ini Penjelasan Medis dari Para Ahli

https://mediamuria.com/daerah/kudus/2-000-titik-jalan-rusak-di-kudus-perbaikan-bertahap-dimulai-dari-ruas-prioritas/

https://mediamuria.com/politik/uhc-award-madya-2026-bukti-akses-kesehatan-kudus-kian-merata/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *