Kolak Kian Tersisih, Takjil Kekinian Mendominasi Ramadan di Kudus

mediamuria.com, KUDUS – Ramadan selalu identik dengan beragam sajian berbuka puasa yang menggugah selera. Di Kabupaten Kudus, suasana sore hari menjelang azan magrib tak pernah sepi dari aktivitas warga yang berburu takjil. Namun, di tengah ramainya lapak-lapak penjual makanan dan minuman, ada satu sajian yang kini mulai jarang dijumpai. Kolak, yang dulu dikenal sebagai ikon Ramadan, perlahan tersisih oleh minuman dan jajanan kekinian.

Pantauan di sejumlah sentra takjil di Kudus menunjukkan perubahan mencolok. Hampir di setiap lapak, penjual lebih banyak menawarkan es teler, es campur, es teh manis, hingga es cappuccino cincau. Minuman dingin dengan tampilan menarik dan cita rasa manis kini mendominasi pilihan masyarakat untuk berbuka puasa. Sementara itu, penjual kolak yang dahulu mudah ditemui, kini jumlahnya semakin terbatas.

Perubahan ini terasa jelas jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Kolak pisang, kolak ubi, atau kolak kolang-kaling dulu hampir selalu hadir di setiap sudut penjualan takjil. Aroma santan dan gula merah yang khas menjadi penanda datangnya bulan suci. Namun kini, sajian tradisional tersebut seolah kalah bersaing dengan tren minuman modern yang lebih diminati, terutama oleh kalangan anak muda.

Fadhil, salah satu generasi alpha sebutan anak kecil sekarang, mengaku lebih memilih berbuka puasa dengan minuman manis dan segar. Menurutnya, setelah seharian menahan haus, minuman dingin menjadi pilihan utama.

“Kalau buka puasa sekarang lebih suka es teler atau es campur. Rasanya segar dan manis, langsung bikin badan enakan,” ujar Fadhil

Ia juga menambahkan bahwa kolak cenderung terasa berat untuk dikonsumsi saat berbuka. Kandungan santan yang kental dan rasa manis yang pekat membuatnya kurang cocok bagi sebagian anak-anak.

“Kolak enak sih, tapi rasanya lebih cocok dimakan nanti malam. Kalau buat buka, aku pilih yang ringan dulu,” katanya.

Pendapat serupa juga disampaikan sejumlah pembeli lainnya. Minuman es dianggap lebih praktis, menyegarkan, dan sesuai dengan cuaca panas yang sering terjadi selama Ramadan. Selain itu, variasi rasa dan topping yang ditawarkan pada minuman kekinian menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi generasi muda yang gemar mencoba hal baru.

Tak hanya dari sisi pembeli, perubahan selera ini juga dirasakan langsung oleh para pedagang. Beberapa pedagang mengaku enggan menjual kolak karena peminatnya menurun. Mereka lebih memilih menjajakan minuman yang perputarannya cepat dan lebih menguntungkan. Es teh, misalnya, dinilai memiliki modal yang relatif kecil namun dapat memberikan keuntungan stabil karena hampir selalu laku.

“Sekarang kolak tidak seperti dulu. Kalau jual kolak, kadang tidak habis. Tapi kalau es teh atau es cappuccino cincau, pasti laku,” ujar salah satu pedagang takjil di kawasan pasar brayung.

Selain faktor selera, ada sejumlah alasan lain yang membuat kolak semakin jarang dijumpai di lapak takjil. Salah satunya adalah perubahan gaya hidup masyarakat. Saat ini, masyarakat cenderung memilih makanan dan minuman yang praktis serta mudah dikonsumsi. Minuman es dapat langsung diminum tanpa perlu sendok atau wadah tambahan, berbeda dengan kolak yang biasanya disajikan dalam mangkuk.

Alasan lain adalah faktor cuaca. Ramadan yang sering bertepatan dengan musim panas membuat minuman dingin terasa lebih menggoda. Sensasi segar dari es dianggap mampu mengembalikan energi dengan cepat setelah seharian berpuasa. Hal ini membuat minuman dingin lebih diminati dibandingkan sajian hangat atau bersantan seperti kolak.

Dari sisi pedagang, daya tahan produk juga menjadi pertimbangan. Kolak memiliki masa simpan yang relatif singkat dan lebih mudah basi jika tidak disimpan dengan baik. Sebaliknya, minuman es dapat dibuat secara bertahap dan disesuaikan dengan jumlah pembeli, sehingga risiko kerugian bisa ditekan.

Tak kalah penting, pengaruh media sosial dan tren kuliner turut berperan besar. Minuman kekinian dengan tampilan menarik lebih mudah dipromosikan melalui media sosial. Warna-warni es teler atau cappuccino cincau yang estetik kerap menjadi daya tarik visual, sementara kolak dianggap kurang menarik secara tampilan, terutama bagi generasi muda yang gemar membagikan momen berbuka puasa di media sosial.

Meski demikian, sebagian masyarakat masih menilai kolak memiliki nilai tersendiri yang sulit tergantikan. Kolak bukan sekadar makanan berbuka, tetapi juga bagian dari tradisi Ramadan yang sarat makna. Bahan-bahan sederhana seperti pisang, ubi, santan, dan gula merah mencerminkan nilai kebersamaan dan kesederhanaan yang selama ini melekat pada bulan suci.

Beberapa warga berharap kolak tidak benar-benar hilang dari tradisi Ramadan. Menurut mereka, perlu ada upaya untuk tetap melestarikan kuliner tradisional, salah satunya dengan inovasi penyajian agar lebih menarik tanpa menghilangkan cita rasa aslinya. Kolak dingin, kolak cup, atau kolak dengan kemasan modern dinilai bisa menjadi alternatif agar tetap diminati generasi muda.

Fenomena berkurangnya penjual kolak di Kudus menjadi cerminan perubahan zaman. Selera masyarakat terus berkembang mengikuti tren dan kebutuhan. Meski kolak tak lagi menjadi primadona seperti dulu, keberadaannya tetap menyimpan nilai historis dan budaya yang patut dijaga.

Ramadan pun terus berjalan dengan segala dinamikanya. Di tengah dominasi es teler, es campur, dan minuman kekinian lainnya, kolak kini seakan menunggu momentum untuk kembali menemukan tempatnya di hati masyarakat. Entah sebagai sajian nostalgia, simbol tradisi, atau melalui inovasi baru, kolak tetap menjadi bagian dari cerita Ramadan di Kudus, meski tak lagi seramai dahulu.

Ditulis oleh : Syam

Jurnalis Media Muria

Baca Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Kolak Kian Tersisih, Takjil Kekinian Mendominasi Ramadan di Kudus

https://mediamuria.com/olahraga/pesta-di-sriwedari-persiku-kudus-sikat-tuan-rumah-persipal-palu-1-4/

https://mediamuria.com/olahraga/nobar-persiku-kudus-satukan-bupati-dan-suporter-macan-muria-dukungan-tanpa-sekat-di-pendapa-kabupaten/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *