Mahasiswa Psikologi UMK Gelar Program “Sahabat Sehat Jiwa” Di SMPN 3 Bae Kudus, Dukung Kesehatan Mental Siswa

Oleh : Putri Diana Sari
Mahasiswa Fakultas Psikologi
Universitas Muria Kudus

mediamuria.com, Kudus — Kesehatan mental siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) masih kerap luput dari perhatian, padahal masa remaja awal merupakan fase krusial dalam perkembangan psikologis individu. Pada tahap ini, siswa tidak hanya dihadapkan pada tuntutan akademik, tetapi juga pada berbagai dinamika emosional, sosial, dan pencarian jati diri. Oleh karena itu, kehadiran program pendampingan psikologis di lingkungan sekolah menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.

Pengalaman Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sekolah SMPN 3 Bae Kudus, Putri Diana Sari mahasiswa Program Studi Psikologi melalui program “Sahabat Sehat Jiwa: Program Konseling dan Dukungan Emosional Bagi Siswa SMP” yang dilaksanakan pada 1 Oktober hingga 23 Desember 2025 memberikan gambaran nyata akan pentingnya layanan kesehatan mental di sekolah. Program ini berfokus pada bidang Bimbingan dan Konseling (BK) dengan tujuan memberikan ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan perasaan, mengelola emosi, serta menghadapi permasalahan pribadi, sosial, maupun akademik secara lebih adaptif.

Dalam praktik kerja lapangan , Putri masi banyak melihat siswa SMP yang belum memiliki keterampilan regulasi emosi yang matang. Tekanan akademik, konflik dengan teman sebaya, hingga kasus perundungan sering kali memicu stres dan kecemasan yang tidak tersalurkan dengan baik. Melalui pendekatan konseling yang humanis dan edukatif, siswa didorong untuk mengenali emosi, membangun kepercayaan diri, serta mengembangkan keterampilan sosial yang sehat. Upaya ini bersifat preventif sekaligus kuratif, sehingga mampu meminimalkan risiko masalah psikologis yang lebih serius dikemudian hari.

Berbagai kegiatan seperti konseling individu, konseling kelompok, observasi perilaku, wawancara psikologis sederhana seperti mengenali perasaan dan kondisi emosional siswa dan lebih dalam mengidentifikasikan masalah yang dihadapi, serta psikoedukasi terbukti memberikan dampak positif. Materi mengenai pengelolaan emosi, manajemen stres, pencegahan bullying, komunikasi asertif, dan motivasi belajar menjadi bekal penting bagi siswa dalam menghadapi tantangan keseharian di sekolah. Tidak sedikit siswa yang awalnya tertutup, kemudian mulai berani berbagi cerita dan meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan.

Dari sudut pandang pendidikan, kolaborasi antara sekolah dan perguruan tinggi melalui program PKL ini patut diapresiasi dan dikembangkan. Guru Bimbingan dan Konseling tidak dapat bekerja sendiri dalam menangani kompleksitas permasalahan siswa. Kehadiran Putri mahasiswa psikologi umk berharap dapat menjadi mitra strategis dalam memperkuat layanan BK, sekaligus menghadirkan perspektif keilmuan yang segar dan aplikatif.

Lebih dari sekadar pemenuhan kewajiban akademik, program Sahabat Sehat Jiwa menunjukkan bahwa kesehatan mental siswa adalah tanggung jawab bersama. Sudah saatnya sekolah tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis peserta didik. Dengan dukungan yang berkelanjutan dan kolaboratif, sekolah dapat menjadi lingkungan yang aman, suportif, dan kondusif bagi tumbuh kembang siswa secara utuh baik secara intelektual maupun emosional.

Manfaat pentingnya mental health bagi siswa SMP

Kesehatan mental siswa merupakan fondasi penting dalam proses pendidikan yang sering kali belum mendapatkan perhatian seimbang dengan pencapaian akademik. Padahal, kondisi psikologis yang sehat sangat menentukan kemampuan siswa dalam belajar, berinteraksi sosial, serta mengembangkan potensi diri secara optimal. Tanpa kesehatan mental yang baik, prestasi akademik yang tinggi pun sulit dicapai secara berkelanjutan.

Masa sekolah, khususnya pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), adalah periode transisi yang penuh tantangan. Siswa berada pada fase remaja awal yang ditandai dengan perubahan emosional, pencarian identitas diri, serta meningkatnya kebutuhan akan penerimaan sosial. Tekanan akademik, konflik pertemanan, perundungan, hingga masalah keluarga dapat memengaruhi kestabilan emosi siswa. Jika kondisi ini tidak ditangani secara tepat, risiko munculnya stres, kecemasan, penurunan motivasi belajar, hingga perilaku bermasalah akan semakin besar.

Disinilah kesehatan mental memiliki peran yang sangat vital. Siswa dengan kondisi mental yang sehat cenderung lebih mampu mengelola emosi, menghadapi tekanan, serta membangun hubungan sosial yang positif. Mereka juga memiliki kepercayaan diri yang lebih baik, mampu memecahkan masalah secara adaptif, dan menunjukkan sikap belajar yang lebih konsisten. Dengan kata lain, kesehatan mental bukan sekadar isu individual, melainkan faktor penentu keberhasilan pendidikan secara menyeluruh.

Peran Guru Bimbingan Konseling (BK) dalam upaya pengembangan mental health bagi siswa

Peran Guru Bimbingan dan Konseling (BK) menjadi sangat strategis dalam upaya menjaga dan meningkatkan kesehatan mental siswa di sekolah. Guru BK tidak hanya berfungsi sebagai pemberi layanan konseling ketika masalah muncul, tetapi juga sebagai agen preventif yang membantu siswa mengenali potensi dan tantangan dirinya sejak dini. Melalui layanan konseling individu, konseling kelompok, serta kegiatan psikoedukasi, guru BK dapat menciptakan ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan perasaan dan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi.

Lebih dari itu, guru BK berperan sebagai penghubung antara siswa, guru mata pelajaran, orang tua, dan pihak sekolah. Kolaborasi ini penting agar penanganan masalah siswa dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Ketika guru BK aktif menjalankan perannya, siswa tidak merasa sendirian dalam menghadapi tekanan, melainkan merasa didukung dan dipahami.

Oleh karena itu, sudah saatnya kesehatan mental ditempatkan sebagai prioritas dalam sistem pendidikan, sejajar dengan capaian akademik. Sekolah perlu memperkuat peran guru BK, baik dari segi dukungan kebijakan, fasilitas, maupun kolaborasi lintas pihak. Dengan siswa yang sehat secara mental dan didampingi oleh guru BK yang profesional, sekolah dapat menjadi lingkungan yang tidak hanya mencetak siswa berprestasi, tetapi juga individu yang tangguh, berkarakter, dan sejahtera secara psikologis.

Pentingnya membangun keterbukaan antara guru dan siswa

Hubungan antara guru dan siswa tidak seharusnya berhenti pada proses penyampaian materi pelajaran semata. Dibalik kegiatan belajar mengajar, terdapat aspek psikologis yang sangat menentukan keberhasilan pendidikan, yaitu keterbukaan komunikasi antara guru dan siswa. Keterbukaan ini menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, suportif, dan ramah bagi perkembangan mental peserta didik.

Bagi siswa, khususnya pada usia remaja, sekolah merupakan ruang sosial utama tempat mereka belajar mengenali diri dan membangun relasi. Namun, tidak sedikit siswa yang menyimpan perasaan cemas, takut, atau tertekan tanpa berani mengungkapkannya. Ketika komunikasi dengan guru bersifat kaku dan satu arah, siswa cenderung memendam masalah yang pada akhirnya dapat berdampak pada penurunan motivasi belajar, perubahan perilaku, hingga gangguan emosional.

Keterbukaan antara guru dan siswa memungkinkan terbangunnya rasa percaya (trust). Guru yang bersikap empatik, mau mendengarkan, dan tidak menghakimi akan lebih mudah menjadi figur aman bagi siswa. Dalam kondisi seperti ini, siswa merasa dihargai sebagai individu, bukan sekadar objek pembelajaran. Keterbukaan ini juga membantu guru memahami kebutuhan emosional siswa sehingga dapat memberikan respons yang lebih tepat dan manusiawi.

Upaya membangun keterbukaan antara guru dan siswa

  1.  Menciptakan Rasa Aman Sejak Awal

Keterbukaan hanya muncul jika siswa merasa aman secara emosional. Guru BK perlu:

  • Menyambut siswa dengan sikap hangat dan bahasa tubuh terbuka
  • Menjaga nada bicara yang tenang dan tidak mengintimidasi
  • Menegaskan bahwa “cerita siswa bersifat rahasia”
  • Menggunakan Bahasa yang Ramah dan Sesuai Usia

Bahasa yang terlalu formal dapat menciptakan jarak. Sebaliknya:

  • Gunakan bahasa sederhana dan mudah dipahami
  • Hindari istilah psikologis yang rumit
  • Sesuaikan gaya komunikasi dengan usia dan karakter siswa
  • Mendengarkan Aktif (Active Listening)

Dapat menjadi pendengar yang baik dan tidak menghakimi siswa

  • Fokus mendengarkan tanpa memotong pembicaraan
  • Mengangguk atau memberi respon verbal singkat (“iya”, “hmm”)
  • Merangkum kembali cerita siswa untuk memastikan pemahaman
  • Menunjukkan Empati, Bukan Nasihat Dini

Siswa lebih membutuhkan dipahami daripada langsung dinasihati.

  • Validasi perasaan siswa
  • Hindari menyalahkan atau membandingkan
  • Konsisten dan Dapat Dipercaya

Keterbukaan tumbuh dari konsistensi:

  • Tepati janji (waktu pertemuan, tindak lanjut)
  • Jangan membocorkan cerita siswa
  • Tunjukkan sikap yang sama pada setiap siswa

Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Mahasiswa Psikologi UMK Gelar Program “Sahabat Sehat Jiwa” Di SMPN 3 Bae Kudus, Dukung Kesehatan Mental Siswa

https://mediamuria.com/laporan-menkeu-purbaya-soal-serapan-anggaran-lambat-diungkap-dalam-sidang-kabinet-prabowo-tegaskan-menteri-harus-bergerak-cepat/

https://mediamuria.com/update-sea-games-2025-target-80-medali-emas-terpenuhi-hari-ini/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *