mediamuria.com, KUDUS – Hello sobat media muria, tak terasa ini sudah akan berjumpa dengan bulan suci Ramadan kembali. Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, geliat aktivitas ekonomi mulai terasa di sejumlah titik keramaian di Kabupaten Kudus. Salah satunya terlihat jelas di kawasan Pasar Brayung, Kecamatan Mejobo. Pasar yang selama ini dikenal sebagai pusat aktivitas masyarakat itu perlahan mulai berubah wajah. Deretan outlet baru mulai bermunculan, pedagang musiman mulai menempati lapak, dan suasana pasar kian hidup meski Ramadan masih sekitar satu bulan lagi.
Bagi warga Kudus dan sekitarnya, Pasar Brayung bukan sekadar pasar tradisional biasa. Setiap kali Ramadan tiba, kawasan ini sudah lama dikenal sebagai “surga” bagi para pencari takjil dan makanan berbuka puasa. Beragam jenis kuliner, mulai dari jajanan tradisional, minuman segar, hingga lauk pauk siap santap, berjejer memenuhi sisi jalan dan area pasar. Tak heran, hampir setiap sore hingga malam hari, kawasan ini selalu dipadati pengunjung.
Meski Ramadan belum sepenuhnya dekat, tanda-tanda persiapan sudah tampak jelas. Sejumlah pedagang mulai menempati outlet dan lapak yang tersedia. Sebagian di antaranya merupakan pedagang lama yang rutin berjualan setiap Ramadan, sementara lainnya adalah pelaku usaha baru yang ingin mencoba peruntungan di momentum musiman tersebut.
“Biasanya kalau sudah sebulan sebelum puasa, kami mulai buka lapak pelan-pelan. Ini buat perkenalan dulu ke masyarakat, biar nanti pas Ramadan sudah ada pelanggan tetap,” ujar salah seorang pedagang.
Langkah tersebut dinilai sebagai strategi awal untuk membangun relasi dengan pembeli. Dengan mulai berjualan lebih awal, para pedagang berharap masyarakat sudah mengenal produk yang mereka jual sebelum persaingan semakin ketat saat Ramadan benar-benar tiba.
Pasar Brayung sendiri memang memiliki daya tarik tersendiri saat Ramadan. Menjelang waktu berbuka puasa, kawasan ini berubah menjadi titik kumpul masyarakat yang menjalankan tradisi ngabuburit. Banyak warga datang sejak sore hari, berjalan santai menyusuri deretan lapak, memilih takjil, sekaligus menikmati suasana menjelang azan magrib.
Kondisi itu kerap berdampak pada arus lalu lintas di sekitar pasar. Pada jam-jam tertentu, khususnya menjelang magrib, kawasan Pasar Brayung hampir selalu dipadati kendaraan. Antrean mobil dan sepeda motor mengular, membuat lalu lintas berjalan pelan bahkan sering kali tersendat.
“Saat Ramadan kalau sudah sore menjelang magrib, di sini memang sering macet. Banyak yang datang buat beli takjil sambil ngabuburit. Tapi ya sudah biasa, setiap Ramadan pasti seperti ini,” kata seorang warga Mejobo yang hampir setiap hari melintasi kawasan tersebut.
Meski demikian, kepadatan itu justru menjadi penanda geliat ekonomi yang semakin meningkat. Ramainya pengunjung memberi harapan besar bagi para pedagang, khususnya pelaku usaha kecil dan menengah yang mengandalkan momen Ramadan untuk meningkatkan pendapatan.
Jenis dagangan yang mulai bermunculan pun cukup beragam. Selain minuman segar seperti es buah, es kelapa, dan es campur, tampak pula pedagang aneka gorengan, kolak, bubur, kue basah, hingga lauk pauk untuk menu berbuka. Beberapa outlet juga mulai menawarkan makanan kekinian yang menyasar kalangan anak muda.
Menurut pengakuan sejumlah pedagang, persiapan lebih awal dilakukan untuk memastikan kesiapan stok, peralatan, serta menyesuaikan selera pasar. Mereka berharap bisa memanfaatkan momentum Ramadan secara maksimal.
“Kalau nanti pas puasa sudah ramai sekali, susah kalau baru mulai. Makanya sekarang buka dulu, sambil lihat respon pembeli,” ujar pedagang lainnya.
Di sisi lain, kehadiran outlet baru juga memberi warna baru bagi Pasar Brayung. Suasana pasar menjadi lebih semarak, tidak hanya sebagai tempat transaksi kebutuhan pokok, tetapi juga sebagai pusat kuliner dan rekreasi ringan bagi masyarakat sore hari.
Bagi pengunjung, keberagaman pilihan makanan menjadi daya tarik tersendiri. Banyak warga yang sengaja datang lebih awal untuk sekadar berjalan-jalan, melihat-lihat menu, hingga menentukan langganan takjil favorit menjelang Ramadan.
“Kalau sudah mendekati puasa, saya sering ke sini buat lihat-lihat dulu. Biasanya nanti pas puasa tinggal datang ke pedagang yang sudah cocok,” tutur seorang pengunjung di kawasan pasar.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan peran penting pasar tradisional dalam kehidupan sosial masyarakat. Pasar Brayung bukan hanya menjadi pusat transaksi, tetapi juga ruang interaksi, tempat bertemunya warga dari berbagai kalangan, serta wadah tumbuhnya ekonomi rakyat.
Meski masih satu bulan menuju Ramadan, atmosfer khas bulan puasa sudah mulai terasa. Aktivitas pedagang meningkat, pengunjung mulai berdatangan, dan suasana sore hari semakin ramai. Para pelaku usaha pun optimistis Ramadan tahun ini akan kembali membawa berkah.
Ke depan, seiring semakin dekatnya bulan suci, jumlah outlet diperkirakan akan terus bertambah. Arus pengunjung juga diprediksi semakin padat, terutama pada sore hingga malam hari. Pemerintah daerah dan pengelola pasar diharapkan dapat mengantisipasi kepadatan lalu lintas serta menjaga ketertiban dan kebersihan kawasan.
Bagi masyarakat Kudus, Pasar Brayung tetap menjadi salah satu destinasi favorit menjelang waktu berbuka. Tradisi ngabuburit sambil berburu takjil seakan menjadi ritual tahunan yang tak terpisahkan dari suasana Ramadan.
Dengan persiapan yang mulai dilakukan sejak dini, Pasar Brayung kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pusat keramaian musiman di Kudus. Sebuah ruang di mana aroma kuliner, semangat usaha, dan tradisi Ramadan bertemu dalam denyut kehidupan masyarakat sehari-hari.
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Menjelang Ramadan, Pasar Brayung Mejobo Mulai Dipadati Outlet Baru dan Pengunjunghttps://mediamuria.com/daerah/kudus/sate-kerbau-kudus-tradisi-rasa-yang-lahir-dari-nilai-toleransi/
