Hutan Kota Tanggulangin dan Festival Kopi Muria, Wajah Baru Ruang Terbuka Hijau Kudus di Tengah Proyek Normalisasi Sungai Wulan

mediamuria.com, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus mulai menyiapkan wajah baru kawasan Tanggulangin sebagai ruang terbuka hijau terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai paru-paru kota, tetapi juga pusat aktivitas wisata dan mitigasi bencana. Di kawasan yang berada di sepanjang alur Sungai Wulan itu, direncanakan pengembangan Hutan Kota Tanggulangin sekaligus penyelenggaraan Festival Kopi Muria sebagai agenda rutin kepariwisataan.

Rencana tersebut mencuat setelah Bupati Kudus Sam’ani Intakoris meninjau langsung proyek normalisasi Sungai Wulan. Normalisasi yang saat ini tengah berjalan diproyeksikan rampung pada Agustus 2026. Pascapengerjaan, lahan di sepanjang bantaran sungai akan dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau jangka panjang yang memiliki fungsi ganda.

Pengembangan kawasan ini diarahkan menjadi area rekreasi, ruang publik, sekaligus kawasan resapan air yang berperan penting dalam pengendalian banjir. Selama ini, Sungai Wulan menjadi salah satu titik krusial dalam sistem pengendalian banjir di wilayah Kudus dan sekitarnya. Dengan normalisasi yang lebih optimal, risiko luapan air diharapkan dapat ditekan, sementara kawasan sekitarnya disulap menjadi ruang hijau produktif.

Hutan Kota Tanggulangin sendiri merupakan pengembangan dari Taman Tanggulangin yang telah lebih dulu ada. Ke depan, kawasan ini dirancang tidak hanya sebagai taman kota biasa, tetapi sebagai hutan kota produktif yang menghadirkan fungsi ekologis, sosial, dan ekonomi sekaligus. Vegetasi peneduh, jalur pedestrian, area edukasi lingkungan, serta ruang interaksi publik akan menjadi bagian dari pengembangan tersebut.

Selain fungsi ekologis, pemerintah daerah juga melihat potensi besar kawasan ini sebagai destinasi wisata baru. Salah satu konsep yang mengemuka adalah penyelenggaraan Festival Kopi Muria di sepanjang Jalan Lama dan kawasan sekitar Hutan Kota Tanggulangin. Festival ini diharapkan menjadi magnet baru bagi wisatawan sekaligus ajang promosi potensi kopi lokal dari lereng Pegunungan Muria.

Kopi Muria selama ini dikenal memiliki karakter rasa khas berkat kondisi geografis dan iklim pegunungan. Namun, potensi tersebut dinilai masih perlu didorong melalui promosi yang lebih masif dan berkelanjutan. Festival kopi dipandang sebagai sarana efektif untuk mempertemukan petani, pelaku usaha, pecinta kopi, dan wisatawan dalam satu ruang perayaan budaya dan ekonomi kreatif.

Rencana penyelenggaraan festival di ruang terbuka hijau ini sekaligus memperkuat konsep pengembangan pariwisata berbasis lingkungan. Aktivitas ekonomi dan rekreasi diharapkan berjalan seiring dengan upaya pelestarian alam. Dengan demikian, kawasan tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga tetap terjaga keberlanjutannya.

Untuk merealisasikan rencana besar ini, Pemkab Kudus akan berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali–Juwana. Koordinasi diperlukan terutama dalam pemanfaatan lahan pascanormalisasi Sungai Wulan agar sesuai dengan ketentuan teknis, tata ruang, serta fungsi pengendalian banjir.

Sinergi lintas instansi menjadi kunci keberhasilan proyek ini. Pengelolaan kawasan bantaran sungai memerlukan perencanaan matang agar tidak mengganggu fungsi utama sungai sebagai saluran air, sekaligus mampu menghadirkan ruang publik yang aman dan nyaman. Aspek keselamatan, daya dukung lingkungan, serta pemeliharaan jangka panjang menjadi perhatian utama.

Pengembangan ruang terbuka hijau ini juga sejalan dengan arah kebijakan pembangunan Kabupaten Kudus yang menempatkan kualitas lingkungan sebagai prioritas. Di tengah pertumbuhan kawasan perkotaan, keberadaan ruang hijau menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keseimbangan ekosistem, kualitas udara, serta kesehatan masyarakat.

Selain manfaat lingkungan, keberadaan hutan kota dan festival tematik diperkirakan membawa dampak ekonomi positif. Aktivitas wisata akan membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM, pedagang kaki lima, pelaku ekonomi kreatif, hingga sektor jasa. Kawasan Tanggulangin berpotensi tumbuh sebagai pusat aktivitas baru yang menggerakkan roda perekonomian lokal.

Bagi masyarakat, ruang terbuka hijau ini diharapkan menjadi tempat beraktivitas, berolahraga, bersantai, hingga berkumpul bersama keluarga. Kehadiran ruang publik yang representatif menjadi indikator penting kualitas hidup perkotaan. Masyarakat tidak hanya mendapatkan ruang rekreasi, tetapi juga ruang edukasi lingkungan dan interaksi sosial.

Festival Kopi Muria sendiri direncanakan menjadi agenda rutin tahunan. Selain pameran kopi dan produk turunannya, festival juga dapat diisi dengan pertunjukan seni, bazar kuliner, workshop, serta diskusi tentang pertanian berkelanjutan. Konsep ini mempertemukan unsur budaya, ekonomi, dan edukasi dalam satu rangkaian kegiatan.

Dengan latar kawasan hijau di bantaran Sungai Wulan, festival diharapkan menghadirkan suasana unik yang membedakannya dari festival serupa di daerah lain. Keunikan lokasi menjadi nilai tambah yang memperkuat identitas pariwisata Kudus sebagai daerah yang mampu mengelola ruang hijau secara kreatif.

Meski masih dalam tahap perencanaan, antusiasme terhadap proyek ini mulai terlihat. Warga berharap pengembangan dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya fokus pada estetika, tetapi juga memperhatikan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan tata kota.

Tantangan ke depan tentu tidak ringan. Pengelolaan ruang terbuka hijau membutuhkan komitmen anggaran, perawatan rutin, serta partisipasi aktif masyarakat. Tanpa pengelolaan yang baik, kawasan berisiko mengalami degradasi fungsi dan kualitas.

Namun demikian, dengan perencanaan matang dan sinergi lintas pihak, kawasan Tanggulangin berpeluang menjadi contoh pengembangan ruang terbuka hijau terpadu di wilayah pesisir utara Jawa. Perpaduan fungsi mitigasi banjir, rekreasi, edukasi, dan pariwisata menjadi konsep yang relevan dengan tantangan perkotaan masa kini.

Ke depan, Hutan Kota Tanggulangin dan Festival Kopi Muria diharapkan bukan hanya menjadi ikon baru Kudus, tetapi juga simbol keberhasilan daerah dalam mengelola pembangunan yang ramah lingkungan dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Ruang hijau tidak lagi sekadar pelengkap kota, melainkan pusat kehidupan baru yang menghidupkan ekonomi, budaya, dan harmoni dengan alam.

Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com

Selanjutnya: Hutan Kota Tanggulangin dan Festival Kopi Muria, Wajah Baru Ruang Terbuka Hijau Kudus di Tengah Proyek Normalisasi Sungai Wulan

https://mediamuria.com/daerah/kudus/kembalinya-program-sim-keliling-warga-mejobo-sambut-antusias-layanan-yang-lebih-dekat-dan-efisien/

https://mediamuria.com/daerah/kudus/sate-kerbau-kudus-tradisi-rasa-yang-lahir-dari-nilai-toleransi/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *