mediamuria.com, KUDUS – Di tengah beragamnya pilihan menu buka puasa yang kini semakin modern dan instan, ada satu sajian tradisional yang perlahan mulai tersisih dari meja makan masyarakat, yakni sambel ontong. Olahan dari jantung pisang ini dulu kerap hadir sebagai lauk pendamping nasi, baik dalam keseharian maupun saat bulan Ramadan. Sayangnya, seiring perubahan selera dan gaya hidup, sambel ontong kini semakin jarang dijumpai, khususnya di perkotaan.
Ontong, atau jantung pisang, merupakan bagian dari tanaman pisang yang sejak lama dimanfaatkan sebagai bahan pangan oleh masyarakat Nusantara. Di desa-desa, ontong dikenal sebagai bahan masakan yang murah, mudah didapat, dan bisa diolah menjadi berbagai hidangan. Salah satu olahan paling populer adalah sambel ontong, yang memadukan cita rasa pedas, gurih, dan sedikit getir khas jantung pisang.
Saat bulan Ramadan, sambel ontong sebenarnya memiliki tempat istimewa. Karakternya yang tidak terlalu berat, berpadu dengan nasi hangat dan lauk sederhana seperti ikan asin, tahu, atau tempe, menjadikannya menu buka puasa yang pas. Rasanya yang khas mampu membangkitkan selera setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Keistimewaan sambel ontong terletak pada bahan dasarnya. Jantung pisang memiliki tekstur yang unik lembut namun sedikit berserat sehingga memberikan sensasi berbeda ketika dikunyah. Ketika diolah dengan bumbu sambal yang tepat, ontong mampu menyerap rasa dengan sangat baik, menjadikannya tidak kalah lezat dibandingkan sayuran lain yang lebih populer.
Proses pengolahan ontong memang membutuhkan ketelatenan. Ontong harus dibersihkan dan direbus terlebih dahulu untuk menghilangkan getah serta rasa pahit alaminya. Setelah itu, ontong biasanya diiris tipis atau disuwir, lalu dimasak bersama bumbu sambal yang terdiri dari cabai, bawang merah, bawang putih, terasi, dan garam. Sebagian orang menambahkan sedikit gula jawa untuk menyeimbangkan rasa pedas dan gurih.
Di balik kesederhanaannya, sambel ontong menyimpan berbagai manfaat kesehatan yang jarang disadari. Jantung pisang dikenal kaya akan serat, yang sangat baik untuk sistem pencernaan. Kandungan serat ini membantu melancarkan buang air besar dan menjaga kesehatan usus, sesuatu yang sangat penting saat menjalani ibadah puasa.
Selain serat, ontong juga mengandung vitamin dan mineral seperti vitamin C, kalium, dan zat besi. Kandungan zat besinya bermanfaat untuk membantu mencegah anemia, sementara kalium berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh. Bagi mereka yang menjalani puasa, asupan gizi dari bahan alami seperti ontong menjadi nilai tambah tersendiri.
Keunggulan lain dari sambel ontong adalah sifatnya yang ringan di lambung. Dibandingkan makanan berbahan daging atau santan kental, sambel ontong lebih mudah dicerna dan tidak membuat perut terasa begah. Hal ini menjadikannya pilihan ideal untuk menu pembuka saat berbuka puasa, sebelum menyantap hidangan utama.
Namun, seiring berkembangnya tren kuliner modern, sambel ontong mulai jarang ditemui. Banyak generasi muda yang bahkan tidak lagi mengenal ontong sebagai bahan masakan. Menu buka puasa kini lebih didominasi oleh makanan cepat saji, gorengan, atau hidangan manis kekinian yang tampil menarik secara visual, tetapi sering kali mengesampingkan nilai gizi.
Padahal, sambel ontong memiliki nilai budaya yang kuat. Ia merupakan bagian dari warisan kuliner tradisional yang lahir dari kearifan lokal, memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar lingkungan. Di masa lalu, hampir setiap rumah yang memiliki pohon pisang akan memanfaatkan ontongnya sebagai bahan masakan, sehingga tidak ada bagian tanaman yang terbuang sia-sia.
Dari sisi ekonomi, sambel ontong juga memiliki potensi yang besar. Bahan bakunya murah dan mudah didapat, sehingga cocok dikembangkan sebagai menu usaha kuliner tradisional, terutama saat Ramadan. Dengan sentuhan penyajian yang lebih menarik tanpa menghilangkan keasliannya, sambel ontong dapat kembali diminati oleh berbagai kalangan.
Menghidupkan kembali sambel ontong sebagai menu buka puasa juga berarti mengajak masyarakat untuk kembali mengenal pangan lokal. Di tengah isu ketergantungan pada bahan pangan impor dan makanan olahan, ontong hadir sebagai contoh bahwa bahan lokal mampu memberikan manfaat gizi sekaligus cita rasa yang khas.
Lebih dari sekadar makanan, sambel ontong mengandung nilai kesederhanaan dan kebersamaan. Hidangan ini sering kali disajikan dalam suasana keluarga, dimasak bersama, dan dinikmati tanpa banyak hiasan. Kesederhanaan inilah yang justru sejalan dengan semangat Ramadan, yakni menahan diri, bersyukur, dan kembali pada hal-hal yang esensial.
Kini, upaya mengenalkan kembali sambel ontong menjadi tantangan sekaligus peluang. Melalui cerita, liputan kuliner, hingga inovasi penyajian, sambel ontong bisa kembali menemukan tempatnya di tengah masyarakat. Bukan sebagai makanan kuno yang ditinggalkan zaman, melainkan sebagai menu tradisional yang relevan dengan gaya hidup sehat dan berkelanjutan.
Sambel ontong adalah pengingat bahwa kekayaan kuliner Indonesia tidak selalu hadir dalam kemasan mewah. Terkadang, justru dari dapur sederhana dan bahan yang sering dianggap remeh, lahir hidangan yang sarat makna, manfaat, dan kelezatan. Di bulan Ramadan, menghadirkan sambel ontong di meja berbuka bukan hanya soal menikmati makanan, tetapi juga merawat tradisi dan menghargai warisan rasa yang hampir terlupakan.
Ditulis oleh : Syam
Jurnalis Media Muria
Baca Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Sambel Ontong, Menu Buka Puasa Sederhana yang Mulai Jarang Dijumpai