mediamuria.com, KUDUS – Musibah tanggul jebol kembali terjadi di Kabupaten Kudus. Kali ini, tanggul Sungai Dawe dilaporkan kembali jebol di wilayah Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo, tepatnya di RT 4/RW 4 sekitar kawasan Mushola Al-Muqorrobin. Kejadian ini menambah daftar panjang insiden tanggul jebol yang terjadi sejak Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026, seiring tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah Kudus.
Peristiwa jebolnya tanggul Sungai Dawe tersebut dipicu oleh derasnya aliran air sungai yang meningkat signifikan setelah hujan dengan intensitas tinggi berlangsung dalam waktu cukup lama. Tekanan debit air menyebabkan struktur tanggul tidak mampu menahan arus, sehingga air meluap dan berpotensi menggenangi area di sekitarnya.
Menindaklanjuti laporan dari lapangan, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris bersama jajaran terkait bergerak cepat melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Minggu (18/1/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan kondisi tanggul, mengevaluasi dampak yang ditimbulkan, serta mengoordinasikan langkah penanganan darurat agar situasi tidak berkembang lebih parah.
Rentetan Tanggul Jebol Sejak Akhir 2025
Jebolnya tanggul Sungai Dawe di Desa Golantepus bukan merupakan kejadian tunggal. Sejak Desember 2025, beberapa wilayah di Kabupaten Kudus tercatat mengalami insiden serupa, terutama di sepanjang aliran sungai dan daerah dengan kontur dataran rendah.
Pada Desember 2025, sejumlah tanggul di wilayah Kecamatan Mejobo, Undaan, dan Jati dilaporkan mengalami kerusakan akibat luapan air sungai dan drainase yang tidak mampu menampung debit air hujan. Memasuki Januari 2026, intensitas hujan yang kembali meningkat memperparah kondisi tersebut dan menyebabkan beberapa titik tanggul kembali jebol, termasuk di wilayah Sungai Dawe.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan hidrologis selama musim hujan kali ini cukup tinggi. Aliran air dari wilayah hulu menuju hilir berlangsung cepat, sementara daya tampung sungai dan kekuatan tanggul di beberapa titik dinilai belum optimal menghadapi debit ekstrem.
Delapan Titik Jebol di Golantepus
Berdasarkan hasil pengecekan lapangan, tercatat delapan titik tanggul jebol di wilayah Desa Golantepus akibat derasnya aliran Sungai Dawe. Dari jumlah tersebut, tujuh titik telah berhasil ditangani melalui langkah-langkah darurat, sementara satu titik masih dalam proses penanganan dengan pengamanan ekstra.
Penanganan darurat dilakukan dengan berbagai upaya sementara, seperti penguatan tanggul menggunakan karung pasir, pengaturan aliran air agar tidak langsung mengarah ke permukiman, serta pembatasan area rawan untuk menjaga keselamatan warga. Seluruh proses dilakukan secara terpadu oleh petugas gabungan bersama masyarakat setempat.
Langkah cepat tersebut dinilai penting untuk menekan potensi dampak lanjutan, mengingat curah hujan di wilayah Kudus masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Penanganan Darurat dan Evaluasi Jangka Panjang
Dalam peninjauan tersebut, Bupati Kudus memastikan bahwa penanganan yang dilakukan saat ini bersifat darurat dan difokuskan pada pengamanan wilayah serta keselamatan warga. Pemerintah daerah juga melakukan koordinasi lintas sektor, melibatkan BPBD, Dinas PUPR, aparat kewilayahan, serta instansi terkait lainnya.
Selain langkah darurat, kejadian berulangnya tanggul jebol sejak Desember 2025 hingga Januari 2026 menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah daerah. Diperlukan kajian menyeluruh terhadap kondisi tanggul, alur sungai, serta sistem pengendalian banjir, khususnya di sepanjang Sungai Dawe dan daerah rawan lainnya.
Koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) menjadi bagian dari upaya lanjutan untuk membahas solusi permanen. Penguatan struktur tanggul, normalisasi sungai, serta peningkatan kapasitas aliran air menjadi opsi yang perlu dikaji agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan.
Peran Masyarakat dalam Antisipasi
Dalam rangkaian kejadian tanggul jebol ini, peran masyarakat setempat juga menjadi faktor penting dalam upaya antisipasi. Sejak awal musim hujan, warga di sejumlah wilayah rawan banjir telah meningkatkan kewaspadaan dengan memantau kondisi sungai dan tanggul secara mandiri.
Kolaborasi antara warga, perangkat desa, dan petugas lapangan menjadi salah satu kunci dalam mempercepat penanganan saat terjadi kondisi darurat. Informasi dari lapangan yang cepat diteruskan kepada pihak terkait memungkinkan langkah responsif dilakukan sebelum dampak meluas.
Tantangan Musim Hujan Masih Berlanjut
Rentetan kejadian tanggul jebol yang terjadi dalam kurun Desember 2025 hingga Januari 2026 menjadi gambaran nyata tantangan penanganan bencana hidrometeorologi di Kabupaten Kudus. Perubahan pola hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat menuntut kesiapan infrastruktur dan sistem mitigasi yang lebih kuat.
Pemerintah daerah terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, khususnya yang bermukim di sekitar bantaran sungai dan wilayah rawan banjir. Pemantauan debit air sungai dan kondisi tanggul dilakukan secara berkala untuk mendeteksi potensi bahaya sedini mungkin.
Dengan langkah penanganan darurat yang terus dilakukan serta perencanaan solusi jangka panjang yang tengah disiapkan, diharapkan dampak dari kejadian tanggul jebol dapat diminimalkan. Pemerintah Kabupaten Kudus menegaskan komitmennya untuk terus hadir dan bekerja bersama masyarakat dalam menghadapi tantangan bencana selama musim hujan berlangsung.
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Tanggul Sungai Dawe Kembali Jebol, Rentetan Kejadian Desember 2025–Januari 2026 Jadi Sorotan