Kirab Dan Pembagian Banyu Salamun Desa Jepang Di Penuhi Antusias Warga

Sharing is caring

mediamuria.com,Kudus – Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus telah menggelar serangkaian acara menyambut tradisi Rebo Wekasan. Rebo Wekasan merupakan Hari Rabu terakhir diBulan Safar. Serangkaian acara ditutup pada hari Selasa, 19 Agustus 2025 dengan mengadakan kirab, ritual dan pembagian banyu salamun.

Acara kirab dimulai pada pukul 14.00 WIB, meski terjadi hujan tidak menyurutkan antusias warga dan peserta kirab banyu salamun. Rute kirab yang dilalui adalah start dari area Kantor Kecamatan Mejobo dan finish di Masjid Jami’ (Wali) Al-Makmur Desa Jepang Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Acara dilanjutkan dengan ritual banyu salamun pada pukul 17.00 WIB dan pembagian banyu salamun pada pukul 18.00 WIB.

Pengertian Rebo Wekasan Dan Banyu Salamun

Tradisi Rebo Wekasan dan Pengambilan Air Salamun merupakan sebuah adat istiadat atau kebiasaan kuno yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun-temurun diturunkan dari generasi ke generasi yang masih senantiasa dijaga dan dilestarikan. Tradisi ini sudah ada pada zaman dahulu, masyarakat perlu menjaga, melindungi, dan mempertahankannya supaya tidak tenggelam dimakan oleh zaman. Tradisi Rebo Wekasan dan Pengambilan Air Salamun adalah salah satu upacara keagamaan yang keberadaannya tidak ditinggalkan oleh masyarakat Jawa, khususnya berada di Masjid Jami’ Wali Al-Ma’mur, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus.

Air Salamun menurut bahasa berasal dari dua kata yaitu “air” yang berarti air itu sendiri dan “salamun” yang berarti selamat. Sedangkan menurut istilah, Air Salamun adalah air yang diambil dari sumur dari peninggalan Sunan Kudus yang dipercaya akan memberi keselamatan bagi siapa saja yang meminumnya. Air Salamun ini terdapat di tengah-tengah masyarakat Desa Jepang yang bersumber dari Sumur Masjid Jami’ Wali Al-Ma’mur, keberadaannya merupakan salah satu peninggalan kesejarahan dari Sunan Kudus (Raden Ja’far Shodiq), salah seorang Wali Songo di Kabupaten Kudus.

Puncak dalam Tradisi Rebo Wekasan sendiri adalah Pengambilan Air Salamun, air yang diambil dari Sumur peninggalan Sunan Kudus dan Arya Jipang Panolan yang berada di Masjid Jami’ Wali Al-Ma’mur, Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Air Salamun dalam tradisi rebo wekasan dibagikan pada hari Rabu terakhir bulan Safar tepatnya pada hari Selasa malam setelah dilakukan ritual-ritual oleh sesepuh masjid, hal ini dikarenakan menurut kalender Islam setelah shalat maghrib berarti telah memasuki hari berikutnya, yaitu hari Rabu terakhir bulan Safar. Air Salamun sendiri memiliki arti air keselamatan, maka dari itu dalam pembagian air salamun masyarakat yang mengantri bukan hanya dari masyarakat Desa Jepang saja, melainkan ada juga masyarakat dari luar daerah yang ikut serta mengantri untuk mendapatkan air salamun ini.

Sejarah Pengambilan Banyu Salamun

Pengambilan Air Salamun sendiri pada zaman dahulu ketika ada momen Rebo Wekasan, pada hari Selasa malam atau menurut kalender Islam setelah shalat maghrib berarti telah memasuki hari berikutnya yaitu hari Rabu, masyarakat berbondong-bondong datang ke Masjid Wali untuk mengambil air dari sumur Masjid Wali setelah do’a bersama, kemudian langsung pulang ke rumah. Pada waktu itu, saat pengambilan air masih secara manual, belum ada tentang sistem antrian dan masyarakat pada waktu itu juga masih membawa wadah sendiri, setelah beberapa tahun terdapat perkembangan-perkembangan dengan diadakannya kegiatan-kegiatan, seperti: Pengajian, Khataman Al-Qur’an, adanya sistem antrian dalam pembagian air salamun yang dibentuk oleh panitia. Pada tahun 2009, pertama kalinya Rebo Wekasan disemarakan atau dimeriahkan dengan adanya beberapa kegiatan tambahan yang bersifat seremonial, seperti: bazar produk, pentas seni, dan kirab. Hal tersebut diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus (DISBUDPAR) dengan Pemerintah Desa Jepang serta Pengurus Masjid Jami’ Wali Al-Ma’mur, mengenai hal tersebut dilakukan sebab dari pihak dinas melihat bahwa terdapat adanya potensi wisata religi dan wisata budaya yang ketika ada Tradisi Rebo Wekasan ini diselenggarakan. Maka, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus menambahkan beberapa rangkaian kegiatan Tradisi Rebo Wekasan yang berada di Desa Jepang.

Makna Rebo Wekasan Dan Pengambilan Banyu Salamun Di Desa Jepang

Makna Tradisi Rebo Wekasan dan Pengambilan Air Salamun di Masjid Jami’ Wali Al-Ma’mur, Desa Jepang menurut Bapak H. Muhammad Mastur, adalah suatu kepercayaan yang merupakan implikasi dari kebenaran yang tinggi, yaitu Aqidah. Aqidah merupakan dasar-dasar kepercayaan dalam agama yang mengikat seseorang dengan persoalan-persoalan yang prinsipiil dari agama tersebut. Agama Islam sangat mengikat kepercayaan-Nya dengan Tauhid. Tauhid adalah keyakinan bahwa Allah SWT itu Esa, atau Aqidah Islam yang menopang seluruh bangunan ke Islaman seseorang. Hal itu semua tidak hanya sebatas kepercayaan, melainkan keyakinan yang mendorong seseorang untuk konsisten dalam berpegang teguh bahkan sanggup menyerahkan segenap hidupnya untuk keyakinan tersebut.

Baca Berita Lainnya Dari mediamuria.com

https://mediamuria.com/hasil-lengkap-dan-klasemen-bri-super-league-2025-26-pekan-2/: Kirab Dan Pembagian Banyu Salamun Desa Jepang Di Penuhi Antusias Wargahttps://mediamuria.com/ivan-maric-lengkapi-kuota-asing-persiku/: Kirab Dan Pembagian Banyu Salamun Desa Jepang Di Penuhi Antusias Warga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *