mediamuria.com, Kudus – Peringatan Hari Nusantara di Kabupaten Kudus tahun ini berlangsung dengan nuansa kebudayaan yang sangat kental. Salah satu kegiatan yang mencuri perhatian masyarakat adalah pagelaran wayang kulit yang digelar di kawasan Alun-Alun Simpang 7 Kudus, pada hari Jum’at malam 12 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi simbol nyata upaya pelestarian budaya (Nguri-uri Budaya Jawa) sekaligus penguatan nilai persatuan bangsa yang sejalan dengan semangat Hari Nusantara. Bupati Kudus Sam’ani Intakoris juga mengajak masyarakat untuk menikmati sajian budaya yang turut menghidupkan suasana kota. Pihaknya memastikan warisan budaya tetap berkembang dan semakin dekat dengan generasi muda.
Pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus bersama Nojorono Kudus tersebut menampilkan dalang Ki Sigid Ariyanto dengan lakon “Banjaran Noroyono”, serta bintang tamu Elisha Orcarus Allasso dan Jolang. Acara yang digelar secara terbuka dan gratis ini disambut antusias oleh warga dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum hingga pecinta seni tradisional.
Kegiatan kebudayaan ini digelar bertepatan dengan momentum Hari Nusantara yang diperingati setiap 13 Desember, sehingga memiliki makna lebih dari sekadar hiburan. Wayang kulit tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang sarat nilai moral, kebangsaan, dan kearifan lokal.

Pengertian Hari Nusantara
Hari Nusantara sendiri merupakan hari nasional yang diperingati setiap 13 Desember untuk menegaskan bahwa Indonesia adalah negara kepulauan (archipelagic state) yang utuh, baik daratan maupun perairannya. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa laut dan pulau-pulau di Indonesia merupakan satu kesatuan wilayah yang tidak terpisahkan.
Makna utama Hari Nusantara adalah memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, menumbuhkan wawasan kebangsaan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peran laut dan budaya dalam membangun Indonesia sebagai bangsa maritim.
Sejarah Hari Nusantara
Dalam sejarahnya Hari Nusantara berakar dari Deklarasi Djuanda yang diumumkan pada 13 Desember 1957 oleh Perdana Menteri Indonesia saat itu, Ir. Djuanda Kartawidjaja. Deklarasi ini menyatakan bahwa laut di antara dan di sekitar pulau-pulau Indonesia merupakan bagian yang sah dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Deklarasi tersebut menjadi tonggak penting dalam perjuangan Indonesia untuk mendapatkan pengakuan internasional sebagai negara kepulauan. Perjuangan ini kemudian membuahkan hasil dengan diakuinya konsep negara kepulauan dalam Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) 1982.
Sebagai bentuk penghargaan terhadap nilai strategis deklarasi tersebut, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden menetapkan 13 Desember sebagai Hari Nusantara sejak tahun 1999.
Peringatan Hari Nusantara Tidak Selalu Seremonial
Berbeda dengan hari besar nasional lainnya, Hari Nusantara tidak selalu diperingati melalui upacara formal. Di berbagai daerah, peringatan Hari Nusantara kerap diwujudkan melalui kegiatan budaya, edukasi, dan sosial, seperti festival seni, pameran budaya, diskusi kebangsaan, hingga pertunjukan seni tradisional.
Di Kabupaten Kudus, pagelaran wayang kulit menjadi salah satu bentuk peringatan yang dinilai relevan. Wayang kulit merupakan warisan budaya Nusantara yang telah diakui dunia dan mengandung nilai-nilai luhur seperti gotong royong, keadilan, kepemimpinan, serta penghormatan terhadap perbedaan.
Wayang Kulit sebagai Simbol Nusantara
Wayang kulit memiliki posisi penting dalam kebudayaan Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Seni pertunjukan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media penyampaian pesan moral, filosofi hidup, dan ajaran kebangsaan.
Lakon “Banjaran Noroyono” yang dibawakan dalam pagelaran di Kudus mengandung pesan tentang perjalanan hidup, pengabdian, dan nilai kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Hari Nusantara yang menekankan persatuan, kebersamaan, dan identitas bangsa.
Melalui pagelaran ini, pemerintah daerah tidak hanya menjaga keberlangsungan seni tradisi, tetapi juga mengajak masyarakat untuk kembali mengenali dan mencintai budaya lokal sebagai bagian dari kekayaan Nusantara.

Kudus dan Komitmen Pelestarian Budaya
Kabupaten Kudus dikenal sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya dan sejarah panjang. Penyelenggaraan pagelaran wayang kulit dalam momentum Hari Nusantara menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat jati diri masyarakat.
Selain menjadi sarana hiburan, kegiatan ini juga berperan sebagai media edukasi, terutama bagi generasi muda, agar tidak tercerabut dari akar budaya di tengah arus globalisasi dan modernisasi.
Kehadiran masyarakat yang memadati lokasi acara mencerminkan bahwa seni tradisional masih memiliki tempat di hati publik, asalkan dikemas dengan baik dan relevan dengan konteks kekinian.
Peringatan Hari Nusantara di Kabupaten Kudus melalui pagelaran wayang kulit menjadi bukti bahwa nilai-nilai kebangsaan dapat disampaikan melalui pendekatan budaya. Wayang kulit tidak hanya memperkuat identitas lokal, tetapi juga menjadi simbol persatuan dalam keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia.
Melalui momentum Hari Nusantara, masyarakat diajak untuk kembali menyadari bahwa kekuatan bangsa Indonesia terletak pada persatuan wilayah, kekayaan budaya, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Pagelaran wayang kulit di Kudus menjadi salah satu contoh bagaimana budaya Nusantara terus hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Semarak Hari Nusantara Di Kudus, Pagelaran Wayang Kulit Jadi Wujud Pelestarian Budaya Dan Persatuan Bangsahttps://mediamuria.com/update-proyek-perbaikan-kudus-menuju-akhir-tahun-mulus-tanpa-gelombang/
