mediamuria.com, KUDUS – Kondisi banjir yang melanda Kabupaten Kudus sejak akhir Desember 2025 hingga Januari 2026 menunjukkan perkembangan bertahap. Sejumlah wilayah mulai mengalami penurunan genangan air, namun di beberapa kecamatan banjir masih bertahan dan ribuan warga masih harus tinggal di lokasi pengungsian. Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memperkuat penanganan serta pemantauan kondisi di lapangan.
Berdasarkan infografis resmi BPBD Kabupaten Kudus per pembaruan 23 Januari 2026 pukul 08.00 WIB, dampak bencana hidrometeorologi masih cukup luas. Banjir, limpasan air, tanah longsor, hingga cuaca ekstrem tercatat terjadi di hampir seluruh wilayah Kudus dengan tingkat dampak yang berbeda-beda di setiap kecamatan.
Data terbaru mencatat total warga terdampak mencapai 4.604 kepala keluarga atau sekitar 13.995 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.011 jiwa masih harus mengungsi di sejumlah posko yang disiapkan pemerintah daerah dan berbagai pihak. Sementara itu, sembilan titik pengungsian masih aktif menampung warga terdampak banjir hingga saat ini.
Wilayah yang Mulai Mengalami Surut
Beberapa wilayah dilaporkan mulai mengalami penurunan ketinggian air secara bertahap, meskipun sebagian area masih menyisakan genangan. Di Kecamatan Mejobo, kondisi di Desa Kesambi, Jojo, dan Mejobo menunjukkan tanda-tanda surut di sebagian lahan pertanian. Genangan air di sawah yang sebelumnya mencapai 20 hingga 50 sentimeter kini mulai berkurang, meskipun beberapa petak sawah masih terendam.
Di Kecamatan Bae, wilayah Desa Ngembalrejo dan Gondangmanis juga dilaporkan mengalami penurunan genangan. Di Desa Ngembalrejo, ketinggian air yang sempat mencapai sekitar 20 sentimeter kini mulai surut, meski lahan sawah masih belum sepenuhnya pulih. Akses jalan utama di beberapa titik sudah dapat dilalui kendaraan, walau warga tetap diminta waspada terhadap sisa genangan dan kondisi jalan yang licin.
Kecamatan Kota Kudus juga mencatat kondisi yang relatif membaik. Di Kelurahan Singocandi dan Demangan, limpasan air mulai berkurang. Genangan yang sebelumnya mengganggu aktivitas warga kini perlahan surut, memungkinkan sebagian warga kembali membersihkan rumah dan lingkungan sekitar.
Wilayah yang Masih Tergenang Banjir
Meski sejumlah wilayah mulai pulih, beberapa kecamatan masih mengalami genangan cukup luas. Kecamatan Undaan menjadi salah satu wilayah dengan dampak terberat. Di Desa Ngemplak, tercatat 1.274 rumah masih terdampak dengan ketinggian air berkisar 20 hingga 50 sentimeter. Desa Wates juga masih mencatat ratusan rumah terendam, dengan ketinggian air mencapai 20 hingga 60 sentimeter di sejumlah titik.
Di Desa Karangrowo, genangan masih terjadi di lebih dari 350 rumah. Ketinggian air yang masih bertahan membuat sebagian warga belum dapat kembali ke rumah dan memilih bertahan di pengungsian. Kondisi serupa terjadi di Desa Undaan Lor dan Desa Terangmas, meski beberapa titik mulai menunjukkan penurunan debit air.
Kecamatan Jekulo juga masih menjadi perhatian. Desa Bulung Cangkring dan Desa Bulung Kulon tercatat masih mengalami genangan di ratusan rumah. Ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 60 sentimeter, dengan sebagian akses jalan desa masih tergenang sehingga aktivitas warga belum sepenuhnya normal.
Di Kecamatan Kaliwungu, beberapa desa seperti Setrokalangan, Papringan, dan Gamong masih melaporkan adanya genangan air di sawah dan permukiman. Meski tidak setinggi wilayah Undaan, kondisi ini tetap menghambat aktivitas ekonomi warga, khususnya sektor pertanian.
Sementara itu, Kecamatan Jati masih mencatat genangan di Desa Pasuruhan Lor, Desa Jati Wetan, dan Desa Loram Kulon. Di Loram Kulon, banjir masih berdampak pada ratusan rumah dengan ketinggian air berkisar 30 hingga 70 sentimeter di beberapa titik.
Wilayah yang Masih Melakukan Pengungsian
Hingga pembaruan data terakhir, sembilan lokasi pengungsian masih aktif menampung warga terdampak. Lokasi pengungsian dengan jumlah terbesar berada di Aula DPRD Kudus, yang saat ini menampung 916 jiwa dari 366 kepala keluarga. Pengungsian ini menjadi pusat penampungan terbesar dengan fasilitas kesehatan, dapur umum, serta layanan logistik terpadu.
Gedung Muslimat NU Loram Kulon menempati urutan kedua dengan 434 jiwa dari 163 kepala keluarga. Pengungsian ini banyak menampung warga dari wilayah Jati dan sekitarnya yang rumahnya masih terendam cukup dalam.
Balai Desa Gulang menampung 216 jiwa, sementara Desa Payaman menampung 215 jiwa. Balai Desa Karangrowo masih menampung 104 jiwa, sedangkan Gedung DPC PDIP Kudus menampung 92 jiwa. Pengungsian skala kecil juga masih berlangsung di Balai Desa Jepangpakis, Gedung PAN Kudus, serta Puskesmas Pembantu Desa Tanjungkarang.
Distribusi pengungsi menunjukkan mayoritas merupakan kelompok usia produktif dan anak-anak. Data mencatat terdapat ratusan anak usia 0 hingga 12 tahun di lokasi pengungsian, serta puluhan warga lanjut usia yang memerlukan perhatian khusus dari petugas kesehatan dan relawan.
Upaya Penanganan Terus Diperkuat
Pemerintah Kabupaten Kudus terus memperkuat koordinasi lintas instansi untuk memastikan penanganan berjalan optimal. BPBD bersama dinas terkait melakukan pendataan, asesmen lapangan, serta distribusi logistik secara berkala. Tim reaksi cepat juga masih disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan, mengingat kondisi cuaca masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.
Selain banjir, wilayah pegunungan di Kecamatan Dawe masih menjadi perhatian akibat potensi tanah longsor. Sejumlah desa seperti Japan, Kajar, Ternadi, dan Colo tercatat mengalami longsor di beberapa titik akses jalan. Meski sebagian material longsor telah dibersihkan, pemantauan terus dilakukan untuk mencegah risiko lanjutan.
Cuaca ekstrem berupa angin kencang juga menyebabkan pohon tumbang di beberapa kecamatan, termasuk Kaliwungu, Gebog, dan Kota Kudus. Petugas gabungan telah melakukan pembersihan jalur dan evakuasi pohon tumbang untuk memastikan akses jalan kembali aman.
Imbauan Kewaspadaan kepada Warga
Pemerintah daerah mengimbau warga di wilayah rawan banjir dan longsor untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta memantau informasi resmi dari BPBD dan pemerintah daerah, serta segera melapor apabila terjadi kenaikan debit air atau tanda-tanda longsor.
Meski sebagian wilayah mulai surut, potensi genangan kembali masih terbuka jika hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi. Pemerintah daerah menegaskan penanganan darurat akan terus dilanjutkan hingga seluruh wilayah benar-benar aman dan warga dapat kembali beraktivitas secara normal.
Dengan kondisi yang berangsur membaik di sejumlah titik, harapan pemulihan mulai terlihat. Namun, bagi ribuan warga yang masih bertahan di pengungsian, proses pemulihan masih membutuhkan waktu, dukungan logistik, serta kesiapsiagaan berkelanjutan dari seluruh pihak.
Baca Juga Berita Lainnya Melalui Laman mediamuria.com
Selanjutnya: Update Perkembangan Banjir Kudus: Sejumlah Wilayah Mulai Surut, Ribuan Warga Masih Bertahan di Pengungsian